Sama seperti rutinitas biasanya. Selesai bebenah urusan rumah, aku selalu pergi kepasar untuk menyetok bahan-bahan makanan. Dari sayur-sayuran, bumbu dapur, daging, ayam, dan lauk-pauk lainya. Sesampainya dirumah, dimeja kecil itu aku lihat secarik kertas berwarna coklat pastel. Ku hampiri dan ku baca dengan seksama. Nazmi dan Aleta. Terpampang jelas disana, tulisan yang indah dengan gaya kaligrafi. Tertera jelas namaku di atas kotak yang berwarna putih, Feisikha di Bandung.
Sejenak terdiam, mengingat-ingat apakah aku memiliki teman yang bernama demikian. Akhirnya seketika pun tersadar. Menghela nafas sambil tersenyum tipis.
“Nazmi.. Nazmi…” Bergumam lalu ku lanjutkan langkah kaki ku menuju dapur.
Ku tata semua belanjaan ku tadi. Yang seharusnya di simpan di kulkas, ayam, daging, sayuran, buah dan satu bungkus Frozen food yakni kentang goreng. Sisanya ku siapkan untuk ku masak.
Angin diluar cukup menusuk ke tulang. Bandung hari ini sangat mendung, tidak seperti biasanya. Lalu ku putuskan untuk membuat semangkuk seblak dan segelas teh tawar anget, sepertinya nikmat.
Cabai, bawang putih, bawang merah, kemiri dan kencur ku blender halus, setelahnya ku masak di atas wajan sampai harum. Ku beri satu butir telur dan ku hancurkan diatasnya, lalu tuang sekiranya air matang, dan diaduk-aduk supaya merata. Sambil menunggu kuahnya mendidih, aku siapkan kerupuk yang tadi sudah ku rendam selama 10 menit menggunakan air panas, tiriskan. Ditambah sayuran, sosis, bakso dan kwetiau juga sedap seperti nya. Tidak memerlukan waktu lama untuk memasaknya, sekarang aku bisa menikmatinya.
Langkah kaki ku membawa ku menuju ke kamar. Lalu mengambil buku tahunan sekolah yang seperti nya sudah sekitar 6 tahun lalu. Lembar perlembar ku buka, dari segi kualitas gambar seperti nya tahun itu memang sudah paling bagus hasilnya, ditambah lagi fotografer sekolah ku hanya mengandalkan kamera yang di sediakan sekolah.
Perwajah disamping nya tertulis Nama lengkap, tanggal lahir, cita-cita dan pesan-kesan. Lucu sekali jika diingat. Ada yang mengisinya dengan normal, adapula yang mengisinya dengan guyonan. Sebagai contoh, Nama lengkap : Muhammad Khalil, tanggal lahir : 13 Februari 1993, cita-cita : ingin melupakan dia, pesan : buat kamu yang udah dapetin dia, jaga baik-baik ya, dan kesan : membekas. Astaga…. Sebenarnya bukan tipikal Khalil yang seperti itu. Hanya saja dia pasti iseng mencatat seperti itu. Dan oiya satu lagi. Nama lengkap : Dian Puspita, tanggal lahir : 21 Desember 1994, cita-cita : model, pesan : terbanglah biar jadi burung, kesan : kaga ada dah kesanya. Dasar Dian !.
Aku pun lama kelamaan kalut dalam pikiran ku tentang kenangan masa lalu di masa sekolah ku jaman SMK dulu. Kini tangan ku tiba-tiba berhenti pada satu lembar ini. XII ADMINISTRASI PERKANTORAN 2, disana cover lembar itu. Menghela napas berkali-kali pula. Berharap kenangan itu tak lagi datang. Di lembar ketiga setelah lembar cover itu aku menemukan dia, ya dia. Si cowok pendiam yang tak terlalu banyak tingkah jaman dulu. Dia bukan termasuk seorang pujangga di sekolah tapi tak sedikit pula yang mengenalnya. Nama lengkap : Reno Ardiansyah, tanggal lahir : 07 Juli 1994, cita-cita : fotografi, pesan : rajinlah belajar, karena belajar itu dari mana saja, kesan : banyak kesan yang tak bisa dijelaskan. Seperi itulah biodata singkat dari seorang pria yang bernama Reno itu. Rasa sesak di dada perlahan menyergap ku. Ku taruh gelas yang berisi teh hangat tadi sesudah ku sesap isinya. Entah sudah keberapa kali aku selalu merasakan ini, padahal sudah lama sekali kejadianya, tapi itu tetap membekas.
*****
Setelah pengumuman mengenai kelulusan sudah berlalu beberapa Minggu lalu, semua masih berjalan dengan baik. Sampai pada awalnya aku mulai mencari pekerjaan part time yang dikarenakan surat ijazah belum dicetak dari sekolah. Hanya bermodalkan surat keterangan lulus saja. Mencoba melamar kesana kemari tapi tetap saja nihil. Pejuang amplop coklat katanya. Merasakan panasnya sengatan matahari serta hanya bermodalkan Rp.50.000 uang untuk ongkos.
“Ren, dimana ? Ketemuan yuk. Aku abis ngelamar kerjaan nih,” aku pun mengirim pesan kepadanya.
“Aku lagi dirumah, mau ketemuan dimana Fei ?” Gak lama aku menunggu, balasan itu pun datang.
“Di tempat budeh biasa aja deh Ren, aku tunggu disana ya☺️ hati-hati di jalan Ren” balas ku lagi. Lalu langkah kaki ku langsung melaju menuju warung budeh langgangan semasa sekolah dulu.
Segelas es teh manis dan semangkuk mie ayam berada di depan ku sekarang.
“Makasih budeh”
Ternyata baru aku saja yang datang, Reno belum datang.
“Ren, aku udah sampe di tempat budeh ya” aku pun mengirimi pesan lagi kepadanya, untuk memberi kabar kalau aku sudah sampai tujuan.
Sambil menunggunya ku santap makanan di depan ku ini, berhubung aku belum juga makan siang tadi. Rasanya lelah sekali mencari pekerjaan. Ternyata tidak segampang yang aku pikirkan. Aku kira semuanya bakalan mudah setelah aku menaruh amplom coklat tersebut ke salah satu pekerjaan yang aku inginkan, ternyata tidak.
“Fei, kamu abis dari mana neng ?” Budeh di dalam bertanya kepada ku, sembari membuat makanan untuk pelangganya yang lain.
“Ini budeh, aku abis naro lamaran” jawab ku setelah menyeruput es teh manis tersebut.
“Oh gitu, naro dimana emangnya ?”
“Dimana ajalah budeh, yang penting naro dulu, kalo ada panggilan ya Alhamdulillah” kembali aku menyuap sesendok mie ayam tersebut.
“Ya iyalah Fei, nyari kerjaan mah sekarang susah kalo gak ada orang dalem. Harus sabar. Oiya kamu sendirian aja ? Reno mana ? Biasanya sama Reno”
“Reno bentar lagi nyampe kok budeh, tadi aku udah BBM ke dia”
“Assalamualaikum…” Datang dengan sangat tiba-tiba dan mengejutkan budeh.
“Astaghfirullah Renooooo… Kamu itu kalo dateng mbok yo sing bagus ngono toh ndok ndok” gerutu si budeh sembari memukuli pundak Reno, dan Reno pun meringis kesakitan.
“Iya iya budeh ampun budeh…hahaha” tanpa dipersilahkan duduk pun dia dengan percaya dirinya langsung duduk disamping ku dan langsung menyeruput es teh ku pula.
“Ih punya aku ! ” Aku memukul nya.
“Iya iya, minta dikit sih”
“Gaboleh, kamu pesan aja sana sama budeh”
“Budeh mau es teh ya satu” dia sedikit teriak.
“Udah lama ?” Tanya dia padaku.
“Gabegitu si, tapi lumayan lah. Eh kamu gak kerja ?”
“Gak, aku libur hari ini. Tiba-tiba teman ku ada yang ngajak aku tukeran off, jadi aku libur deh”
“Ih kenapa gak ngasih tau dah ? Kalo gitu kan aku bisa minta anterin kamu naro lamaran” aku menggerutu di hadapanya. Merasa kesal dengan dia karena dia tak mengatakan sebelumnya.
“Ya emang sengaja, biar kamu tau gimana rasanya susah nyari kerjaan”
“Ini es teh nya” budeh pun datang dan memberikan segelas es teh manis tersebut.
“Dih jahat banget ya jadi orang. Males aku sama kamu” raut wajah ku pun berubah menjadi kecut. Sepertinya lebih baik dia tidak mengatakannya secara jujur, kalau malah begini jadinya.
“Iya iya aku minta maaf, sekarang kamu mau apa biar kamu gak marah lagi sama aku ?” Lalu dengan cepat iya menyeruput es teh tersebut.
“Aku mau kita keliling, jalan-jalan gitu pake motor kamu” senyum kud ku unjukan kepadanya supaya dia pun menyetujuinya.
“Dih apaan si kamu, gajelas banget. Masa jalan-jalan keliling tanpa ada tujuanya, gak ah aku males”
“Ayolah Ren, aku bete nih kalo jam segini udah pulang kerumah. Makanya kita jalan-jalan aja ya. Kemana aja deh, terserah kamu” memasang mimik memelas padanya, supaya mau tak mau ia menyetujui ajakan ku ini.
“Okeoke, aku mau ke mall aja ya. Liat-liat aja gitu jalan-jalan sambil ngadem”
“Oke” wajah ku berubah menjadi sumringah.
Berboncengan dengan dia. Ketahuilah aku dan Reno ini bukanlah sepasang kekasih melainkan aku dan Reno ini hanya sebatas bersahabat tidak lebih. Aku mengenalnya sewaktu kelas XI karena pertemuan yang tak disengaja sewaktu itu, di warung budeh pula. Sepulang sekolah selalu mampir ke warung budeh dengan teman-teman laki sekelas ku yang lain, dan yang lainya pula. Seangkatan tapi beda kelas. Dan dicocokan oleh keadaan untuk menjadi sahabat. Kita berjanji waktu itu kalau kita tidak akan pernah lebih dari sekedar sahabat. Tapi sebenarnya aku sudah melanggarnya, aku mempunyai rasa terhadap Reno. Aku sudah mulai suka terhadapnya. Entah Reno mengetahuinya atau tidak, aku tak peduli. Yang terpenting aku tidak mengatakannya secara langsung.
Sesampainya di mall yang tertuju, aku langsung meminta Reno membelikan segelas minuman Boba yang terkenal itu. Aku menunggunya di kursi yang biasanya disediakan oleh pihak mall. Saat ini sepertiny tak begitu ramai, apa karena masih jam segini, entahlah.
“Nih bobanya” segelas minuman berisikan Boba berada di hadapan ku sekarang. Tanpa ragu aku langsung menusuk sedotanya dan menyeruput isinya. Aku pun tersenyum kegirangan.
“Dih orang mah bilang makasih kek gitu”
“Iya iya makasih Reno☺️”
Handphone Reno tiba-tiba berdering. Aku hafal sekali jika itu nada dering teleponnya. Ternyata benar ada yang menelponnya.
“Hallo kenapa Ti ?” Katanya.
“Oh gak kok, aku gak sibuk, kenapa emangnya ?”
“Oh bisa kok, dimana ?”
“Jam delapan, oke. Nanti aku kesana ya”
“Iya Ti sama-sama” Layar handphone pun kini kembali menggelap. Rupanya sudah berakhir percakapan itu. Aku yang masih saja tengah sibuk menyeruput minuman ku.
“Kamu mau pulang jam berapa Fei ?”
Pertanyaan itu tiba-tiba membuat ku tercengang, dan seketika menghentikan seruputan ku.
“Lah ? Kenapa emangnya ? Kamu ada perlu ?”
“Iya, Tia minta aku jemput soalnya dia gabawa motor tadi kerja” penjelasan yang singkat, namun cukup menyakitkan untuk ku.
“Tia… Kakak kelas kita bukan si ?” Aku pun memastikan siapakah orang yang sudah dengan sangat tega menghancurkan waktu ku dengan Reno. Kesal ? Jelas saja !. Aku dengan dia sudah cukup lama tidak bisa quality time seperti ini. Saat ada waktu yang pas seperti ini malah di ganggu seseorang.
“Iya, kamu kan tau dari dulu aku suka sama dia Fei” tangan nya yang cukup panjang itu seketika menghancurkan tatanan rambut ku.
“Hah ? Beneran jadi suka ? Aku pikir kamu cuma suka ngeledekin dia aja. Lantas aku gimana Ren ?” Dengan wajah lesu aku pun terdiam.
“Ya kalau mau pulang sekarang aku anterin, yuk” Seketika ajakanya itu menghipnotis ku. Aku seakan mengiyakan saja pilihanya itu, padahal dalam hati aku kesal. Rasa-rasanya ini sudah sangat cukup untuk ku.
Perasaan yang dari dulu aku pendam sudah saatnya aku buang begitu saja. Tanpa ada kepastian sedikit pun. Bukan salah Reno, tapi ini salah ku. Aku yang terlalu takut untuk mengatakan perasaan ku yang sebenarnya. Aku terlalu takut melihat Reno pergi jauh dari ku. Akhirnya setelah aku dengar-dengar dari kawan ku. Ternyata Reno dan kak Tia sudah resmi berpacaran sejak beberapa bulan lalu. Aku merasa kecewa, bukan lantaran mereka sudah resmi menjadi sepasang kekasih, tapi lantaran Reno tidak pernah memberitahu ku perihal berita bahagia tersebut. Ternyata seperti ini rasanya sakit hati.
Beruntungnya, dibalik aku selalu berusaha untuk mencari pekerjaan. Ternyata aku lulus SBMPTN di salah satu Universitas di Bandung yang sudah aku impikan. Besok sore pun aku siap untuk meninggalkan kota ini. Siap untuk melupakan segala cerita yang ada disini. Ku tutup rapat-rapat kotak kenangan ini. Mungkin saja suatu saat nanti aku akan membukanya kembali, jika rindu.
Selamat tinggal Bu, Pak. Do’akan anak mu ini sukses kedepanya, supaya aku bisa membelikan apapun yang menjadi mimpi keluarga kita kedepanya.
Selamat tinggal Dek, mbak mu yang satu ini akan menempuh pelajaran baru yang kelak nanti kamu akan menempuhnya juga. Sekarang bebaslah kamu, sudah tidak ada yang memarahi mu lagi, sudah tidak ada yang memerintah mu lagi, sudah tidak ada yang menjadi teman kelahi mu lagi. Jaga Ibu dan Bapak ya Dek.
Selamat tinggal Ren. Satu-satunya sahabat ku yang mau berteman dengan seorang wanita perkasa mu ini, katamu dulu. Yang tidak pernah merasa malu karena bersahabat dengan perempuan. Yang selalu jadi bahu ku ketika aku merasa
Dan untuk kak Tia. Betapa beruntungnya kamu dimiliki dan memiliki Reno. Orangnya sangat baik, dia rela melakukan apapun demi orang yang di sayangnya. Jaga dia ya kak, seperti dia selalu menjaga kamu.
Dan selamat tinggal
*****
Astaga undangan ini malah membuat ku mengingat segala kenangan ku dengan kamu Ren. Maaf ya aku kembali masuk tanpa ijin. Kini ijinkan aku mengakhiri untuk yang kedua kalinya. Ku tutup kembali kotak ingatan ku dalam kepala.
Tanpa terasa semangkuk seblak dan segelas teh tawar hangat ku pun lenyap. Dan tak ku sadari pula langit sudah kembali cerah. Rasa-rasanya lusa aku harus siap untuk berangkat ke Jakarta. Demi memenuhi undangan Nazmi ini yang sedang berbahagia.Sama seperti rutinitas biasanya. Selesai bebenah urusan rumah, aku selalu pergi kepasar untuk menyetok bahan-bahan makanan. Dari sayur-sayuran, bumbu dapur, daging, ayam, dan lauk-pauk lainya. Sesampainya dirumah, dimeja kecil itu aku lihat secarik kertas berwarna coklat pastel. Ku hampiri dan ku baca dengan seksama. Nazmi dan Aleta. Terpampang jelas disana, tulisan yang indah dengan gaya kaligrafi. Tertera jelas namaku di atas kotak yang berwarna putih, Feisikha di Bandung.
Sejenak terdiam, mengingat-ingat apakah aku memiliki teman yang bernama demikian. Akhirnya seketika pun tersadar. Menghela nafas sambil tersenyum tipis.
“Nazmi.. Nazmi…” Bergumam lalu ku lanjutkan langkah kaki ku menuju dapur.
Ku tata semua belanjaan ku tadi. Yang seharusnya di simpan di kulkas, ayam, daging, sayuran, buah dan satu bungkus Frozen food yakni kentang goreng. Sisanya ku siapkan untuk ku masak.
Angin diluar cukup menusuk ke tulang. Bandung hari ini sangat mendung, tidak seperti biasanya. Lalu ku putuskan untuk membuat semangkuk seblak dan segelas teh tawar anget, sepertinya nikmat.
Cabai, bawang putih, bawang merah, kemiri dan kencur ku blender halus, setelahnya ku masak di atas wajan sampai harum. Ku beri satu butir telur dan ku hancurkan diatasnya, lalu tuang sekiranya air matang, dan diaduk-aduk supaya merata. Sambil menunggu kuahnya mendidih, aku siapkan kerupuk yang tadi sudah ku rendam selama 10 menit menggunakan air panas, tiriskan. Ditambah sayuran, sosis, bakso dan kwetiau juga sedap seperti nya. Tidak memerlukan waktu lama untuk memasaknya, sekarang aku bisa menikmatinya.
Langkah kaki ku membawa ku menuju ke kamar. Lalu mengambil buku tahunan sekolah yang seperti nya sudah sekitar 6 tahun lalu. Lembar perlembar ku buka, dari segi kualitas gambar seperti nya tahun itu memang sudah paling bagus hasilnya, ditambah lagi fotografer sekolah ku hanya mengandalkan kamera yang di sediakan sekolah.
Perwajah disamping nya tertulis Nama lengkap, tanggal lahir, cita-cita dan pesan-kesan. Lucu sekali jika diingat. Ada yang mengisinya dengan normal, adapula yang mengisinya dengan guyonan. Sebagai contoh, Nama lengkap : Muhammad Khalil, tanggal lahir : 13 Februari 1993, cita-cita : ingin melupakan dia, pesan : buat kamu yang udah dapetin dia, jaga baik-baik ya, dan kesan : membekas. Astaga…. Sebenarnya bukan tipikal Khalil yang seperti itu. Hanya saja dia pasti iseng mencatat seperti itu. Dan oiya satu lagi. Nama lengkap : Dian Puspita, tanggal lahir : 21 Desember 1994, cita-cita : model, pesan : terbanglah biar jadi burung, kesan : kaga ada dah kesanya. Dasar Dian !.
Aku pun lama kelamaan kalut dalam pikiran ku tentang kenangan masa lalu di masa sekolah ku jaman SMK dulu. Kini tangan ku tiba-tiba berhenti pada satu lembar ini. XII ADMINISTRASI PERKANTORAN 2, disana cover lembar itu. Menghela napas berkali-kali pula. Berharap kenangan itu tak lagi datang. Di lembar ketiga setelah lembar cover itu aku menemukan dia, ya dia. Si cowok pendiam yang tak terlalu banyak tingkah jaman dulu. Dia bukan termasuk seorang pujangga di sekolah tapi tak sedikit pula yang mengenalnya. Nama lengkap : Reno Ardiansyah, tanggal lahir : 07 Juli 1994, cita-cita : fotografi, pesan : rajinlah belajar, karena belajar itu dari mana saja, kesan : banyak kesan yang tak bisa dijelaskan. Seperi itulah biodata singkat dari seorang pria yang bernama Reno itu. Rasa sesak di dada perlahan menyergap ku. Ku taruh gelas yang berisi teh hangat tadi sesudah ku sesap isinya. Entah sudah keberapa kali aku selalu merasakan ini, padahal sudah lama sekali kejadianya, tapi itu tetap membekas.
*****
Setelah pengumuman mengenai kelulusan sudah berlalu beberapa Minggu lalu, semua masih berjalan dengan baik. Sampai pada awalnya aku mulai mencari pekerjaan part time yang dikarenakan surat ijazah belum dicetak dari sekolah. Hanya bermodalkan surat keterangan lulus saja. Mencoba melamar kesana kemari tapi tetap saja nihil. Pejuang amplop coklat katanya. Merasakan panasnya sengatan matahari serta hanya bermodalkan Rp.50.000 uang untuk ongkos.
“Ren, dimana ? Ketemuan yuk. Aku abis ngelamar kerjaan nih,” aku pun mengirim pesan kepadanya.
“Aku lagi dirumah, mau ketemuan dimana Fei ?” Gak lama aku menunggu, balasan itu pun datang.
“Di tempat budeh biasa aja deh Ren, aku tunggu disana ya☺️ hati-hati di jalan Ren” balas ku lagi. Lalu langkah kaki ku langsung melaju menuju warung budeh langgangan semasa sekolah dulu.
Segelas es teh manis dan semangkuk mie ayam berada di depan ku sekarang.
“Makasih budeh”
Ternyata baru aku saja yang datang, Reno belum datang.
“Ren, aku udah sampe di tempat budeh ya” aku pun mengirimi pesan lagi kepadanya, untuk memberi kabar kalau aku sudah sampai tujuan.
Sambil menunggunya ku santap makanan di depan ku ini, berhubung aku belum juga makan siang tadi. Rasanya lelah sekali mencari pekerjaan. Ternyata tidak segampang yang aku pikirkan. Aku kira semuanya bakalan mudah setelah aku menaruh amplom coklat tersebut ke salah satu pekerjaan yang aku inginkan, ternyata tidak.
“Fei, kamu abis dari mana neng ?” Budeh di dalam bertanya kepada ku, sembari membuat makanan untuk pelangganya yang lain.
“Ini budeh, aku abis naro lamaran” jawab ku setelah menyeruput es teh manis tersebut.
“Oh gitu, naro dimana emangnya ?”
“Dimana ajalah budeh, yang penting naro dulu, kalo ada panggilan ya Alhamdulillah” kembali aku menyuap sesendok mie ayam tersebut.
“Ya iyalah Fei, nyari kerjaan mah sekarang susah kalo gak ada orang dalem. Harus sabar. Oiya kamu sendirian aja ? Reno mana ? Biasanya sama Reno”
“Reno bentar lagi nyampe kok budeh, tadi aku udah BBM ke dia”
“Assalamualaikum…” Datang dengan sangat tiba-tiba dan mengejutkan budeh.
“Astaghfirullah Renooooo… Kamu itu kalo dateng mbok yo sing bagus ngono toh ndok ndok” gerutu si budeh sembari memukuli pundak Reno, dan Reno pun meringis kesakitan.
“Iya iya budeh ampun budeh…hahaha” tanpa dipersilahkan duduk pun dia dengan percaya dirinya langsung duduk disamping ku dan langsung menyeruput es teh ku pula.
“Ih punya aku ! ” Aku memukul nya.
“Iya iya, minta dikit sih”
“Gaboleh, kamu pesan aja sana sama budeh”
“Budeh mau es teh ya satu” dia sedikit teriak.
“Udah lama ?” Tanya dia padaku.
“Gabegitu si, tapi lumayan lah. Eh kamu gak kerja ?”
“Gak, aku libur hari ini. Tiba-tiba teman ku ada yang ngajak aku tukeran off, jadi aku libur deh”
“Ih kenapa gak ngasih tau dah ? Kalo gitu kan aku bisa minta anterin kamu naro lamaran” aku menggerutu di hadapanya. Merasa kesal dengan dia karena dia tak mengatakan sebelumnya.
“Ya emang sengaja, biar kamu tau gimana rasanya susah nyari kerjaan”
“Ini es teh nya” budeh pun datang dan memberikan segelas es teh manis tersebut.
“Dih jahat banget ya jadi orang. Males aku sama kamu” raut wajah ku pun berubah menjadi kecut. Sepertinya lebih baik dia tidak mengatakannya secara jujur, kalau malah begini jadinya.
“Iya iya aku minta maaf, sekarang kamu mau apa biar kamu gak marah lagi sama aku ?” Lalu dengan cepat iya menyeruput es teh tersebut.
“Aku mau kita keliling, jalan-jalan gitu pake motor kamu” senyum kud ku unjukan kepadanya supaya dia pun menyetujuinya.
“Dih apaan si kamu, gajelas banget. Masa jalan-jalan keliling tanpa ada tujuanya, gak ah aku males”
“Ayolah Ren, aku bete nih kalo jam segini udah pulang kerumah. Makanya kita jalan-jalan aja ya. Kemana aja deh, terserah kamu” memasang mimik memelas padanya, supaya mau tak mau ia menyetujui ajakan ku ini.
“Okeoke, aku mau ke mall aja ya. Liat-liat aja gitu jalan-jalan sambil ngadem”
“Oke” wajah ku berubah menjadi sumringah.
Berboncengan dengan dia. Ketahuilah aku dan Reno ini bukanlah sepasang kekasih melainkan aku dan Reno ini hanya sebatas bersahabat tidak lebih. Aku mengenalnya sewaktu kelas XI karena pertemuan yang tak disengaja sewaktu itu, di warung budeh pula. Sepulang sekolah selalu mampir ke warung budeh dengan teman-teman laki sekelas ku yang lain, dan yang lainya pula. Seangkatan tapi beda kelas. Dan dicocokan oleh keadaan untuk menjadi sahabat. Kita berjanji waktu itu kalau kita tidak akan pernah lebih dari sekedar sahabat. Tapi sebenarnya aku sudah melanggarnya, aku mempunyai rasa terhadap Reno. Aku sudah mulai suka terhadapnya. Entah Reno mengetahuinya atau tidak, aku tak peduli. Yang terpenting aku tidak mengatakannya secara langsung.
Sesampainya di mall yang tertuju, aku langsung meminta Reno membelikan segelas minuman Boba yang terkenal itu. Aku menunggunya di kursi yang biasanya disediakan oleh pihak mall. Saat ini sepertiny tak begitu ramai, apa karena masih jam segini, entahlah.
“Nih bobanya” segelas minuman berisikan Boba berada di hadapan ku sekarang. Tanpa ragu aku langsung menusuk sedotanya dan menyeruput isinya. Aku pun tersenyum kegirangan.
“Dih orang mah bilang makasih kek gitu”
“Iya iya makasih Reno☺️”
Handphone Reno tiba-tiba berdering. Aku hafal sekali jika itu nada dering teleponnya. Ternyata benar ada yang menelponnya.
“Hallo kenapa Ti ?” Katanya.
“Oh gak kok, aku gak sibuk, kenapa emangnya ?”
“Oh bisa kok, dimana ?”
“Jam delapan, oke. Nanti aku kesana ya”
“Iya Ti sama-sama” Layar handphone pun kini kembali menggelap. Rupanya sudah berakhir percakapan itu. Aku yang masih saja tengah sibuk menyeruput minuman ku.
“Kamu mau pulang jam berapa Fei ?”
Pertanyaan itu tiba-tiba membuat ku tercengang, dan seketika menghentikan seruputan ku.
“Lah ? Kenapa emangnya ? Kamu ada perlu ?”
“Iya, Tia minta aku jemput soalnya dia gabawa motor tadi kerja” penjelasan yang singkat, namun cukup menyakitkan untuk ku.
“Tia… Kakak kelas kita bukan si ?” Aku pun memastikan siapakah orang yang sudah dengan sangat tega menghancurkan waktu ku dengan Reno. Kesal ? Jelas saja !. Aku dengan dia sudah cukup lama tidak bisa quality time seperti ini. Saat ada waktu yang pas seperti ini malah di ganggu seseorang.
“Iya, kamu kan tau dari dulu aku suka sama dia Fei” tangan nya yang cukup panjang itu seketika menghancurkan tatanan rambut ku.
“Hah ? Beneran jadi suka ? Aku pikir kamu cuma suka ngeledekin dia aja. Lantas aku gimana Ren ?” Dengan wajah lesu aku pun terdiam.
“Ya kalau mau pulang sekarang aku anterin, yuk” Seketika ajakanya itu menghipnotis ku. Aku seakan mengiyakan saja pilihanya itu, padahal dalam hati aku kesal. Rasa-rasanya ini sudah sangat cukup untuk ku.
Perasaan yang dari dulu aku pendam sudah saatnya aku buang begitu saja. Tanpa ada kepastian sedikit pun. Bukan salah Reno, tapi ini salah ku. Aku yang terlalu takut untuk mengatakan perasaan ku yang sebenarnya. Aku terlalu takut melihat Reno pergi jauh dari ku. Akhirnya setelah aku dengar-dengar dari kawan ku. Ternyata Reno dan kak Tia sudah resmi berpacaran sejak beberapa bulan lalu. Aku merasa kecewa, bukan lantaran mereka sudah resmi menjadi sepasang kekasih, tapi lantaran Reno tidak pernah memberitahu ku perihal berita bahagia tersebut. Ternyata seperti ini rasanya sakit hati.
Beruntungnya, dibalik aku selalu berusaha untuk mencari pekerjaan. Ternyata aku lulus SBMPTN di salah satu Universitas di Bandung yang sudah aku impikan. Besok sore pun aku siap untuk meninggalkan kota ini. Siap untuk melupakan segala cerita yang ada disini. Ku tutup rapat-rapat kotak kenangan ini. Mungkin saja suatu saat nanti aku akan membukanya kembali, jika rindu.
Selamat tinggal Bu, Pak. Do’akan anak mu ini sukses kedepanya, supaya aku bisa membelikan apapun yang menjadi mimpi keluarga kita kedepanya.
Selamat tinggal Dek, mbak mu yang satu ini akan menempuh pelajaran baru yang kelak nanti kamu akan menempuhnya juga. Sekarang bebaslah kamu, sudah tidak ada yang memarahi mu lagi, sudah tidak ada yang memerintah mu lagi, sudah tidak ada yang menjadi teman kelahi mu lagi. Jaga Ibu dan Bapak ya Dek.
Selamat tinggal Ren. Satu-satunya sahabat ku yang mau berteman dengan seorang wanita perkasa mu ini, katamu dulu. Yang tidak pernah merasa malu karena bersahabat dengan perempuan. Yang selalu jadi bahu ku ketika aku merasa lelahSama seperti rutinitas biasanya. Selesai bebenah urusan rumah, aku selalu pergi kepasar untuk menyetok bahan-bahan makanan. Dari sayur-sayuran, bumbu dapur, daging, ayam, dan lauk-pauk lainya. Sesampainya dirumah, dimeja kecil itu aku lihat secarik kertas berwarna coklat pastel. Ku hampiri dan ku baca dengan seksama. Nazmi dan Aleta. Terpampang jelas disana, tulisan yang indah dengan gaya kaligrafi. Tertera jelas namaku di atas kotak yang berwarna putih, Feisikha di Bandung.
Sejenak terdiam, mengingat-ingat apakah aku memiliki teman yang bernama demikian. Akhirnya seketika pun tersadar. Menghela nafas sambil tersenyum tipis.
“Nazmi.. Nazmi…” Bergumam lalu ku lanjutkan langkah kaki ku menuju dapur.
Ku tata semua belanjaan ku tadi. Yang seharusnya di simpan di kulkas, ayam, daging, sayuran, buah dan satu bungkus Frozen food yakni kentang goreng. Sisanya ku siapkan untuk ku masak.
Angin diluar cukup menusuk ke tulang. Bandung hari ini sangat mendung, tidak seperti biasanya. Lalu ku putuskan untuk membuat semangkuk seblak dan segelas teh tawar anget, sepertinya nikmat.
Cabai, bawang putih, bawang merah, kemiri dan kencur ku blender halus, setelahnya ku masak di atas wajan sampai harum. Ku beri satu butir telur dan ku hancurkan diatasnya, lalu tuang sekiranya air matang, dan diaduk-aduk supaya merata. Sambil menunggu kuahnya mendidih, aku siapkan kerupuk yang tadi sudah ku rendam selama 10 menit menggunakan air panas, tiriskan. Ditambah sayuran, sosis, bakso dan kwetiau juga sedap seperti nya. Tidak memerlukan waktu lama untuk memasaknya, sekarang aku bisa menikmatinya.
Langkah kaki ku membawa ku menuju ke kamar. Lalu mengambil buku tahunan sekolah yang seperti nya sudah sekitar 6 tahun lalu. Lembar perlembar ku buka, dari segi kualitas gambar seperti nya tahun itu memang sudah paling bagus hasilnya, ditambah lagi fotografer sekolah ku hanya mengandalkan kamera yang di sediakan sekolah.
Perwajah disamping nya tertulis Nama lengkap, tanggal lahir, cita-cita dan pesan-kesan. Lucu sekali jika diingat. Ada yang mengisinya dengan normal, adapula yang mengisinya dengan guyonan. Sebagai contoh, Nama lengkap : Muhammad Khalil, tanggal lahir : 13 Februari 1993, cita-cita : ingin melupakan dia, pesan : buat kamu yang udah dapetin dia, jaga baik-baik ya, dan kesan : membekas. Astaga…. Sebenarnya bukan tipikal Khalil yang seperti itu. Hanya saja dia pasti iseng mencatat seperti itu. Dan oiya satu lagi. Nama lengkap : Dian Puspita, tanggal lahir : 21 Desember 1994, cita-cita : model, pesan : terbanglah biar jadi burung, kesan : kaga ada dah kesanya. Dasar Dian !.
Aku pun lama kelamaan kalut dalam pikiran ku tentang kenangan masa lalu di masa sekolah ku jaman SMK dulu. Kini tangan ku tiba-tiba berhenti pada satu lembar ini. XII ADMINISTRASI PERKANTORAN 2, disana cover lembar itu. Menghela napas berkali-kali pula. Berharap kenangan itu tak lagi datang. Di lembar ketiga setelah lembar cover itu aku menemukan dia, ya dia. Si cowok pendiam yang tak terlalu banyak tingkah jaman dulu. Dia bukan termasuk seorang pujangga di sekolah tapi tak sedikit pula yang mengenalnya. Nama lengkap : Reno Ardiansyah, tanggal lahir : 07 Juli 1994, cita-cita : fotografi, pesan : rajinlah belajar, karena belajar itu dari mana saja, kesan : banyak kesan yang tak bisa dijelaskan. Seperi itulah biodata singkat dari seorang pria yang bernama Reno itu. Rasa sesak di dada perlahan menyergap ku. Ku taruh gelas yang berisi teh hangat tadi sesudah ku sesap isinya. Entah sudah keberapa kali aku selalu merasakan ini, padahal sudah lama sekali kejadianya, tapi itu tetap membekas.
*****
Setelah pengumuman mengenai kelulusan sudah berlalu beberapa Minggu lalu, semua masih berjalan dengan baik. Sampai pada awalnya aku mulai mencari pekerjaan part time yang dikarenakan surat ijazah belum dicetak dari sekolah. Hanya bermodalkan surat keterangan lulus saja. Mencoba melamar kesana kemari tapi tetap saja nihil. Pejuang amplop coklat katanya. Merasakan panasnya sengatan matahari serta hanya bermodalkan Rp.50.000 uang untuk ongkos.
“Ren, dimana ? Ketemuan yuk. Aku abis ngelamar kerjaan nih,” aku pun mengirim pesan kepadanya.
“Aku lagi dirumah, mau ketemuan dimana Fei ?” Gak lama aku menunggu, balasan itu pun datang.
“Di tempat budeh biasa aja deh Ren, aku tunggu disana ya☺️ hati-hati di jalan Ren” balas ku lagi. Lalu langkah kaki ku langsung melaju menuju warung budeh langgangan semasa sekolah dulu.
Segelas es teh manis dan semangkuk mie ayam berada di depan ku sekarang.
“Makasih budeh”
Ternyata baru aku saja yang datang, Reno belum datang.
“Ren, aku udah sampe di tempat budeh ya” aku pun mengirimi pesan lagi kepadanya, untuk memberi kabar kalau aku sudah sampai tujuan.
Sambil menunggunya ku santap makanan di depan ku ini, berhubung aku belum juga makan siang tadi. Rasanya lelah sekali mencari pekerjaan. Ternyata tidak segampang yang aku pikirkan. Aku kira semuanya bakalan mudah setelah aku menaruh amplom coklat tersebut ke salah satu pekerjaan yang aku inginkan, ternyata tidak.
“Fei, kamu abis dari mana neng ?” Budeh di dalam bertanya kepada ku, sembari membuat makanan untuk pelangganya yang lain.
“Ini budeh, aku abis naro lamaran” jawab ku setelah menyeruput es teh manis tersebut.
“Oh gitu, naro dimana emangnya ?”
“Dimana ajalah budeh, yang penting naro dulu, kalo ada panggilan ya Alhamdulillah” kembali aku menyuap sesendok mie ayam tersebut.
“Ya iyalah Fei, nyari kerjaan mah sekarang susah kalo gak ada orang dalem. Harus sabar. Oiya kamu sendirian aja ? Reno mana ? Biasanya sama Reno”
“Reno bentar lagi nyampe kok budeh, tadi aku udah BBM ke dia”
“Assalamualaikum…” Datang dengan sangat tiba-tiba dan mengejutkan budeh.
“Astaghfirullah Renooooo… Kamu itu kalo dateng mbok yo sing bagus ngono toh ndok ndok” gerutu si budeh sembari memukuli pundak Reno, dan Reno pun meringis kesakitan.
“Iya iya budeh ampun budeh…hahaha” tanpa dipersilahkan duduk pun dia dengan percaya dirinya langsung duduk disamping ku dan langsung menyeruput es teh ku pula.
“Ih punya aku ! ” Aku memukul nya.
“Iya iya, minta dikit sih”
“Gaboleh, kamu pesan aja sana sama budeh”
“Budeh mau es teh ya satu” dia sedikit teriak.
“Udah lama ?” Tanya dia padaku.
“Gabegitu si, tapi lumayan lah. Eh kamu gak kerja ?”
“Gak, aku libur hari ini. Tiba-tiba teman ku ada yang ngajak aku tukeran off, jadi aku libur deh”
“Ih kenapa gak ngasih tau dah ? Kalo gitu kan aku bisa minta anterin kamu naro lamaran” aku menggerutu di hadapanya. Merasa kesal dengan dia karena dia tak mengatakan sebelumnya.
“Ya emang sengaja, biar kamu tau gimana rasanya susah nyari kerjaan”
“Ini es teh nya” budeh pun datang dan memberikan segelas es teh manis tersebut.
“Dih jahat banget ya jadi orang. Males aku sama kamu” raut wajah ku pun berubah menjadi kecut. Sepertinya lebih baik dia tidak mengatakannya secara jujur, kalau malah begini jadinya.
“Iya iya aku minta maaf, sekarang kamu mau apa biar kamu gak marah lagi sama aku ?” Lalu dengan cepat iya menyeruput es teh tersebut.
“Aku mau kita keliling, jalan-jalan gitu pake motor kamu” senyum kud ku unjukan kepadanya supaya dia pun menyetujuinya.
“Dih apaan si kamu, gajelas banget. Masa jalan-jalan keliling tanpa ada tujuanya, gak ah aku males”
“Ayolah Ren, aku bete nih kalo jam segini udah pulang kerumah. Makanya kita jalan-jalan aja ya. Kemana aja deh, terserah kamu” memasang mimik memelas padanya, supaya mau tak mau ia menyetujui ajakan ku ini.
“Okeoke, aku mau ke mall aja ya. Liat-liat aja gitu jalan-jalan sambil ngadem”
“Oke” wajah ku berubah menjadi sumringah.
Berboncengan dengan dia. Ketahuilah aku dan Reno ini bukanlah sepasang kekasih melainkan aku dan Reno ini hanya sebatas bersahabat tidak lebih. Aku mengenalnya sewaktu kelas XI karena pertemuan yang tak disengaja sewaktu itu, di warung budeh pula. Sepulang sekolah selalu mampir ke warung budeh dengan teman-teman laki sekelas ku yang lain, dan yang lainya pula. Seangkatan tapi beda kelas. Dan dicocokan oleh keadaan untuk menjadi sahabat. Kita berjanji waktu itu kalau kita tidak akan pernah lebih dari sekedar sahabat. Tapi sebenarnya aku sudah melanggarnya, aku mempunyai rasa terhadap Reno. Aku sudah mulai suka terhadapnya. Entah Reno mengetahuinya atau tidak, aku tak peduli. Yang terpenting aku tidak mengatakannya secara langsung.
Sesampainya di mall yang tertuju, aku langsung meminta Reno membelikan segelas minuman Boba yang terkenal itu. Aku menunggunya di kursi yang biasanya disediakan oleh pihak mall. Saat ini sepertiny tak begitu ramai, apa karena masih jam segini, entahlah.
“Nih bobanya” segelas minuman berisikan Boba berada di hadapan ku sekarang. Tanpa ragu aku langsung menusuk sedotanya dan menyeruput isinya. Aku pun tersenyum kegirangan.
“Dih orang mah bilang makasih kek gitu”
“Iya iya makasih Reno☺️”
Handphone Reno tiba-tiba berdering. Aku hafal sekali jika itu nada dering teleponnya. Ternyata benar ada yang menelponnya.
“Hallo kenapa Ti ?” Katanya.
“Oh gak kok, aku gak sibuk, kenapa emangnya ?”
“Oh bisa kok, dimana ?”
“Jam delapan, oke. Nanti aku kesana ya”
“Iya Ti sama-sama” Layar handphone pun kini kembali menggelap. Rupanya sudah berakhir percakapan itu. Aku yang masih saja tengah sibuk menyeruput minuman ku.
“Kamu mau pulang jam berapa Fei ?”
Pertanyaan itu tiba-tiba membuat ku tercengang, dan seketika menghentikan seruputan ku.
“Lah ? Kenapa emangnya ? Kamu ada perlu ?”
“Iya, Tia minta aku jemput soalnya dia gabawa motor tadi kerja” penjelasan yang singkat, namun cukup menyakitkan untuk ku.
“Tia… Kakak kelas kita bukan si ?” Aku pun memastikan siapakah orang yang sudah dengan sangat tega menghancurkan waktu ku dengan Reno. Kesal ? Jelas saja !. Aku dengan dia sudah cukup lama tidak bisa quality time seperti ini. Saat ada waktu yang pas seperti ini malah di ganggu seseorang.
“Iya, kamu kan tau dari dulu aku suka sama dia Fei” tangan nya yang cukup panjang itu seketika menghancurkan tatanan rambut ku.
“Hah ? Beneran jadi suka ? Aku pikir kamu cuma suka ngeledekin dia aja. Lantas aku gimana Ren ?” Dengan wajah lesu aku pun terdiam.
“Ya kalau mau pulang sekarang aku anterin, yuk” Seketika ajakanya itu menghipnotis ku. Aku seakan mengiyakan saja pilihanya itu, padahal dalam hati aku kesal. Rasa-rasanya ini sudah sangat cukup untuk ku.
Perasaan yang dari dulu aku pendam sudah saatnya aku buang begitu saja. Tanpa ada kepastian sedikit pun. Bukan salah Reno, tapi ini salah ku. Aku yang terlalu takut untuk mengatakan perasaan ku yang sebenarnya. Aku terlalu takut melihat Reno pergi jauh dari ku. Akhirnya setelah aku dengar-dengar dari kawan ku. Ternyata Reno dan kak Tia sudah resmi berpacaran sejak beberapa bulan lalu. Aku merasa kecewa, bukan lantaran mereka sudah resmi menjadi sepasang kekasih, tapi lantaran Reno tidak pernah memberitahu ku perihal berita bahagia tersebut. Ternyata seperti ini rasanya sakit hati.
Beruntungnya, dibalik aku selalu berusaha untuk mencari pekerjaan. Ternyata aku lulus SBMPTN di salah satu Universitas di Bandung yang sudah aku impikan. Besok sore pun aku siap untuk meninggalkan kota ini. Siap untuk melupakan segala cerita yang ada disini. Ku tutup rapat-rapat kotak kenangan ini. Mungkin saja suatu saat nanti aku akan membukanya kembali, jika rindu.
Selamat tinggal Bu, Pak. Do’akan anak mu ini sukses kedepanya, supaya aku bisa membelikan apapun yang menjadi mimpi keluarga kita kedepanya.
Selamat tinggal Dek, mbak mu yang satu ini akan menempuh pelajaran baru yang kelak nanti kamu akan menempuhnya juga. Sekarang bebaslah kamu, sudah tidak ada yang memarahi mu lagi, sudah tidak ada yang memerintah mu lagi, sudah tidak ada yang menjadi teman kelahi mu lagi. Jaga Ibu dan Bapak ya Dek.
Selamat tinggal Ren. Satu-satunya sahabat ku yang mau berteman dengan seorang wanita perkasa mu ini, katamu dulu. Yang tidak pernah merasa malu karena bersahabat dengan perempuan. Yang selalu jadi bahu ku ketika aku merasa
Dan untuk kak Tia. Betapa beruntungnya kamu dimiliki dan memiliki Reno. Orangnya sangat baik, dia rela melakukan apapun demi orang yang di sayangnya. Jaga dia ya kak, seperti dia selalu menjaga kamu.
Dan selamat tinggal
*****
Astaga undangan ini malah membuat ku mengingat segala kenangan ku dengan kamu Ren. Maaf ya aku kembali masuk tanpa ijin. Kini ijinkan aku mengakhiri untuk yang kedua kalinya. Ku tutup kembali kotak ingatan ku dalam kepala.
Tanpa terasa semangkuk seblak dan segelas teh tawar hangat ku pun lenyap. Dan tak ku sadari pula langit sudah kembali cerah. Rasa-rasanya lusa aku harus siap untuk berangkat ke Jakarta. Demi memenuhi undangan Nazmi ini yang sedang berbahagia.
Ambar, BBBF.