Cinta Pertama Ku.

Aku tau, setiap makhluk yang bernyawa akan kembali pada-Nya. Hari ini aku kehilangan Papah ku. Seorang lelaki yang membuat ku jatuh cinta pertama di muka bumi ini. Seorang lelaki yang selalu terlihat gagah dan berwibawa didepan keluarga kecilnya. Seorang lelaki yang sama sekali tidak pernah mengeluh perihal kerjaan yang ia kerjakan. Seorang lelaki yang selalu saja siap mendengarkan segala curhatan ku, ketika aku sedang berada dipuncak amarah ku. Seorang lelaki yang rela menjadi tempat ku untuk meluapkan segala bentuk emosi ku, senang, sedih, marah, muram dan sebagainya. Seorang lelaki yang rela untuk mengajari ku perihal materi-materi sekolah yang tidak aku mengerti. Sekarang beliau sudah lebih dulu meninggalkan aku, Ibu dan adik.

Aku tau kalau sebenarnya Papah itu mempunyai penyakit ganas yang dengan sengaja ia sembunyikan dari anak-anaknya. Dan satu-satunya orang yang tau itu hanyalah Ibu. Ia mengidap kanker kelenjar getah bening. Aku sama sekali tidak tau menau akan hal itu. Ibu sangat pandai menyembunyikan segalanya.

“Pah, Papah kenapa kok keliatan pucet banget ?” tanya ku yang baru saja melihat Papah keluar dari kamar serta sedang membereskan kerah seragam yang dipakainya itu.

“ah gapapa Win, Papah cuma kurang tidur aja, soalnya kemarin kan lumayan pulang larut malam. Soalnya abis ada acara dikantor Papah, jadi ruangan sama cucian piring lumayan numpuk” Papah lalu pergi menuju meja makan dibelakang. Aku pun mengikutinya dari belakang, mengingat hari sudah siang. Aku pun segera berpamitan untuk berangkat ke sekolah.

“oh gitu Pah, yaudah kalau kurang sehat mendingan istirahat dulu pah, gausah masuk kerja dulu” ujar ku dengan seraya mengambil tas ku yang berada di kursi.

“yakan kamu tau sendiri Win, Office Boy dikantor Papah tuh cuma ada dua orang, Papah sama om Seno doang, kalau Papah gamasuk ya kasian om Seno, kewalahan”

“iya juga sih. Yaudah kalau Papah mau masuk kerja tapi hati-hati ya. Sekalian aku juga mau pamit berangkat sekolah dulu ya Pah, Bu. Assalamu’alaikum ” aku berpamitan meninggalkan mereka berdua di meja makan tersebut. Ibu sibuk menyiapkan sarapan Papah. Sedangkan Gino, adik ku yang masih berusia lima tahun itu masih tertidur lelap dalam mimpinya.

Pekerjaan Papah memang hanya seorang Office Boy disalah satu kantor yang berada cukup jauh dari tempat tinggal kami. Jaraknya sekitar 6-7 km jika dihitung, dan menempuh waktu kurang-lebih satu jam jika menggunakan sepeda motor. Upah yang diterimanya pun juga tidak seberapa, dibawah upah UMR. Tapi tetap saja ia jalani dengan senang hati. Mengingat betapa susahnya mencari pekerjaan dijaman sekarang ini. Ibu sendiri hanya sekedar ibu rumah tangga seperti biasanya. Tapi ia memiliki usaha kecil-kecilan membuat jajanan keripik singkong yang nantinya dititipkan dari warung ke warung. Sedangkan aku hanya seorang siswi SMP kelas dua, yang beruntung bisa menerima beasiswa di salah satu SMP Negeri keinginan ku. Aku sungguh tidak mau meninggalkan kesempatan emas ini. Aku sangat bersyukur masih bisa sekolah gratis walaupun terkadang dengan ongkos yang tidak seberapa. Tidak masalah, karena Ibu selalu membawakan ku bekal untuk dimakan waktu istirahat nanti.

*****

Pada saat jam pelajaran berlangsung tiba-tiba wali kelas ku datang kekelas. Dan memanggil nama ku.

“Permisi Pak, saya ada perlu dengan Wina” Bu Reni meminta izin ke Pak Gini yang tengah menjelaskan pelajaran TIK ini.

“Oh iya Bu, silahkan” seketika mulutnya itu diam tidak lagi mengoceh perihal materi yang tengah berjalan.

“Wina… Sini sayang, ibu mau bicara sebentar sama kamu” aku pun terbangun dari kursi ku dengan perasaan heran. Memangnya aku salah apa ? Sampai-sampai aku dipanggil oleh Bu Reni. Aku berjalan menyusuri beberapa bangku teman-teman ku.

“Makasih ya Pak”

“Sama-sama Bu” aku dibawanya keluar kelas dan menuju ruangan guru. Selama berjalan aku terus berfikir apa salah denganku ? Memangnya aku melakukan apa ? Sampai-sampai harus dituntun ke ruang guru.

Sampai nya diruangan aku pun terduduk tepat didepan meja Bu Reni, seakan seperti siap menerima kesalahan yang sepertinya aku tidak pernah perbuat.

“Win, tadi Ibu dapat telfon dari Ibu kamu, kalau Papah kamu sedang dirawat dirumah sakit. Karena Ibu kamu mau kamu datang juga kerumah sakit, jadi Ibu kamu minta tolong ke Ibu untuk mengantarkan kamu ke rumah sakit tersebut” penjelasan yang keluar dari mulutnya itu bukan sesuatu hal yang menjelaskan tentang kesalahan ku selama dikelas. Tapi penjelasan itu seakan terasa sekali menohok ke dada ku. Seketika itu pula tanpa ku sadari air mata ku mulai tumbah. Mulut ku tak mampu berbicara satu kata pun. Rasanya sakit sekali mendengar hal itu. Mengingat bahwa Papah tak pernah mau jika diajak ke rumah sakit. Dan ini kali pertama ku tau kalau Papah berada dirumah sakit.

Bu Reni dengan sangat tulus menenangkan ku. Terus mengelus pundak ku dan berusaha bagaimana pun caranya supaya aku tidak akan semakin menjadi.

“Kita berangkat sekarang ya nak, Ibu ambilkan tas mu dulu dikelas”

*****

Tubuh gagah itu terlihat lunglai. Terbaring lemah diatas kasur itu. Selang yang menyambung ditangan kiri dan selang yang lain juga tersambung di hidung nya itu terlihat menyeramkan. Ditambah lagi mata yang indah itu belum terbuka sama sekali. Langkah demi langkah ku beranikan diri untuk memasuki ruangan itu.

“Papah….” Lirih ku. Ibu langsunh menengok kearah ku dengan spontan.

“Winaa… Jangan nangis sayang, Papah gapapa kok. Papah pasti sembuh sayang, yang sabar ya” sambil memeluk diriku Ibu mengucap sedemikian. Tapi ucapan itu bohong. Buktinya walaupun dia berusaha meyakinkan diriku tapi dengan linangan air mata pula diwajahnya itu. Aku yakin kalau Papah pasti dalam kondisi yang tidak apa-apa.

Aku berlari segera memeluk Papah. Tubuhnya lemas sekali. Sesekali aku menciumi keningnya itu

“Pah bangun Pah, Wina gamau Papah pergi tinggalin Wina. Pah Wina mohon bangun Pah” tubuhnya itu sengaja aku goyahkan berharap Papah bisa tersadar kembali. Satu hal yang baru aku sadari ternyata tubuh Papah sudah sangat dingin. Tidak sehangat biasanya.

Tiba-tiba dua orang perawat laki-laki, dan satu orang perawat perempuan datang di hadapan ranjang Papah. Perawat perempuan itu segera melepas semua selang yang terhubung di tubuh Papah. Dan segera menutupi wajah Papah dengan selimut yang diatas tubuhnya itu.

“Maaf Bu, harus segera dibawa keruang jenazah, untuk segera dilakukan pemeriksaan selanjutnya” ranjang beroda itu segera didorong oleh dua perawat laki-laki itu. Meninggalkan aku dan Ibu yang masih ada diruangan. Hanya isak tangis yang terdengar diruangan ini. Aku tak mampu berkata apapun, begitu pun Ibu. Kita saling beradu tangisan.

Aku berusaha mengingat-ngingat peristiwa apa saja yang sudah aku lalui bersama Papah. Senang maupun tangis apa saja yang sudah terjadi bersama Papah. Aku memanglah bukan tipe anak yang penurut, ada beberapa waktu aku selalu beradu argumen tentang masalah dengan Papah. Tapi ada satu waktu pula, biasanya menjelang tengah malam, aku beradu argumen tentang kehidupan.

Pah aku rindu.

 

-Ambar, BBBF

 

 

 

Leave A Comment