Kamis, 27 Februari 2025 menjadi hari penting bagi Kreasi Prasasti Perdamaian. Mereka meluncurkan dua karya luar biasa yang membahas isu sensitif di Indonesia, kepulangan warga negara Indonesia (WNI) yang terafiliasi dengan konflik ISIS di Suriah. Dua karya tersebut adalah buku Anak Negeri di Pusaran Konflik Suriah dan film dokumenter berjudul Road to Resilience.
Acara ini dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk kementerian terkait, Badan Penanggulangan Terorisme (BNPT), serta perwakilan kedutaan besar dari berbagai negara. Isu radikalisme masih menjadi perbincangan sensitif di Indonesia. Banyak pihak yang belum sepenuhnya menerima kepulangan para returnis. Ketakutan, trauma, hingga ketidakpercayaan terhadap pertobatan mereka masih membekas. Pemerintah dan lembaga terkait terus berupaya memperbaiki sistem dan memastikan bahwa mereka yang kembali ke Indonesia benar-benar telah bebas dari pengaruh ISIS. Lalu, bagaimana seharusnya kita menyikapi hal ini?
Buku Anak Negeri di Pusaran Konflik Suriah mengajak pembaca menyelami motivasi, perjalanan, serta tantangan yang dihadapi mantan Foreign Terrorist Fighter (FTF). Buku ini membahas kompleksitas konflik Suriah yang tidak hanya berdampak pada geopolitik Timur Tengah, tetapi juga melibatkan ribuan WNI yang terjerat propaganda ISIS. Dengan gaya jurnalistik yang menarik, Noor Huda Ismail menyajikan cerita dengan menyoroti berbagai perspektif, termasuk isu gender. Kepala BNPT, Komjen Pol. Eddy Hartono, S.I.K., M.H., menyambut baik kehadiran buku ini. Menurutnya, buku ini bisa menjadi bahan edukasi bagi masyarakat luas tentang bahaya radikalisme, sekaligus menyampaikan pesan perdamaian. Meskipun mengangkat topik berat, buku ini dikemas dengan ringan sehingga tetap menarik untuk dibaca.
Renungan lebih lanjut dapat ditemukan dalam film dokumenter Road to Resilience, yang mengisahkan perjalanan seorang pemuda bernama Febri Ramdani. Perjalanan panjang mulai dari keteguhannya bertahan seorang diri di Indonesia, dan akhirnya nekat menyusul ibunya ke Suriah. Niat awalnya untuk berbakti kepada sang ibu justru membawanya terjerat dalam lingkaran radikalisme ISIS di Suriah. Setelah melalui berbagai rintangan, Febri dan keluarganya akhirnya bisa kembali ke Indonesia. Namun kepulangannya bukan akhir dari perjuangan. Febri harus menghadapi tantangan baru seperti proses reintegrasi, stigma masyarakat, kesulitan ekonomi, hingga sempat mengalami depresi. Kini, ia berhasil memanfaatkan kesempatan kedua dalam hidupnya dan membuktikan bahwa ia bisa bangkit. Ia berharap film ini dapat menjadi ladang jihad dalam menyampaikan kebenaran.
Sebagai sutradara, Ridho Dwi Ristiyanto mengungkapkan bahwa film ini adalah refleksi tentang bagaimana keputusan kecil dapat berdampak besar dalam hidup seseorang. Film ini bukan hanya tentang pemulangan WNI dari Suriah, tetapi juga tentang perjuangan Febri menghadapi dirinya sendiri, stigma masyarakat, rekonsiliasi dengan keluarga, dan pencarian makna hidup yang baru. Noor Huda Ismail, yang turut memperjuangkan kepulangan para WNI dari Suriah serta mendokumentasikan prosesnya, berharap film ini dapat menyampaikan isu radikalisme dengan cara yang lembut pada masyarakat luas.
Selain pemutaran film dan peluncuran buku, acara ini juga dimeriahkan dengan penampilan Gading Surya Admaja, yang membawakan lagu Terlahir Kembali, soundtrack dari film Road to Resilience.
Diskusi buku dan film juga digelar dengan menghadirkan sejumlah pembicara, seperti: Dr. Noor Huda Ismail (Direktur KPP dan penulis buku Anak Negeri di Pusaran Konflik Suriah), Lies Marcoes, MA. (Pakar gender, konsultan, dan peneliti), Dr. Leebarty Taskarina, S.Sos., M.Krim. (Kepala Seksi Analisis BNPT RI), Febri Ramdani, S.S. (Credible Voice di film Road to Resilience dan penulis buku 300 Hari di Bumi Syam), Ridho Dwi Ristiyanto (Sutradara Road to Resilience), dan dimoderatori oleh Sarie Febriane (Jurnalis). Diskusi ini membedah berbagai aspek yang tertuang dalam film dan buku, termasuk isu gender. Lies Marcoes menyoroti bagaimana hubungan ibu dan anak bisa menjadi faktor yang membuat seseorang terjerumus dalam radikalisme. Menurutnya, pemahaman yang bias dan penuh prasangka bisa membuat orang keliru dalam melihat isu ini. Kesadaran kritis dan pengorganisasian menjadi kunci utama dalam menghadapinya.
Hadirnya buku Anak Negeri di Pusaran Konflik Suriah dan film dokumenter Road to Resilience menyoroti konsep 5R (Repatriasi, Rehabilitasi, Relokasi, Reintegrasi, dan Resiliensi). Konsep ini dirancang agar proses pemulangan returnis dapat dilakukan secara sistematis dan efektif. Harapannya, kedua karya ini dapat menjadi bahan pembelajaran bagi masyarakat dalam memahami isu radikalisme dan menyikapi dengan bijak.