My Hong Kong Life, Diary TKW Bab 5 (STAN)

STAN

Kubuka surat dari Sofie yang diberikan saat ultahnya. Beasiswa yang ditawarkan yayasan sosial di Surabaya telah ditutup katanya. Dan kita tidak bisa kuliah bersama, akan tetapi aku selalu mendoakanmu semoga orang tua kita suatu hari mempunyai rezeki untuk menyekolahkan kita. Amien.
Fuih… aku harus bernafas dalam-dalam memandangi isi surat singkat itu dan membacanya berulang kali. Lalu kuberitahu ibu. Setelah itu aku kembali ke kamar dan menelungkup di atas bantal. Mencoba memahami kenyataan yang ada. Harapan yang pernah singgah hilang lagi, dan kecewa. Lebih pahit rasanya daripada dulu sebelum ada harapan itu, harapan untuk kuliah setelah lulus SMA.
Setelah keluar dari kamar terlihat mataku sembab karena mengeluarkan banyak cairan asin. Ibu menyemangatiku.
“Dua juta cukup kan untuk biaya hidup setahun di Malang.” Ucap ibu.
Aku pun tertarik mendengarnya, hingga menarik urat pipiku dan membentuk senyuman.
“Ibu serius merestui aku daftar sekolah D1 di STAN?”
“Lho kan katamu habis itu ikatan dinas, ya gakpapa… ibu pingin punya anak jadi pegawai negeri sipil, punya gaji rutin, tidak seperti ibu yang harus ke sawah jadi buruh dan kerja dagangan makanan yang untungnya tidak seberapa. Kebun ibu yang diberi Mbah Kung akan ibu iris untuk dijual.”
“Hore…” teriakku dengan semangat baru setelah lulus bisa mendaftar di D1 STAN.
Teman-teman cukup banyak yang daftar di STAN tahun 2000. Saat itu aku membeli formulir pendaftaran sendiri, uangnya aku peroleh dari sisa beasiswa 6 bulan yang diberikan Diknas, sebesar seratus lima puluh ribu. Sepertiganya telah aku gunakan untuk mendaftar di STAN.
Musim pendaftaran, aku berangkat mendaftar ke Malang. Saat tiba di terminal Arjosari, aku tidak tahu harus naik angkot apa biar sampai di kampus STAN Malang. Syukurlah, aku bertemu dengan kakak alumni SMA 2 yang mau mendaftar lagi. Saat berangkat dari rumah aku belum sarapan, karena takut mabuk kendaraan, setibanya di tempat itu telah berjubel orang mendaftar. Setelah selesai aku pun langsung pulang. Aku tidak membeli makanan apapun karena berpikir harus hemat. Setelah ini aku masih membutuhkan banyak uang untuk ujian dan melihat pengumuman.
Hari telah senja saat aku memasuki terminal Arjosari. Bus terakhir yang membawaku ke Jombang telah penuh, akhirnya daripada tertinggal di Malang yang tidak ada sanak saudara maka aku ikut saja dan berdiri sepanjang perjalanan. Tak ayal lagi aku muntah karena jalanannya penuh belokan menanjak turun. Aku pun mual. Hanya air yang aku muntahkan sambil berdiri, terasa pahit mulutku, cairan berwarna kuning yang muncrat sedikit dan akhirnya tak ada lagi yang bisa aku keluarkan. Mataku pun ikut berair.
Di bus itu tak ada seorangpun yang merelakan kursinya untuk aku tempati. Aku pun menghela nafas perih. Ya, memang kita sama-sama membayar, lagipula tak ada yang aku kenal. Perjalanan menuju Jombang masih tiga jam lagi. Perutku terasa lapar akan tetapi mualku telah hilang. “Ya Allah, kuatkan ragaku hingga aku berada di rumah kembali.”
Aku pun menelepon ke rumah Pakde agar Bapak menyusulku. Bapak menyusulku di Ploso dengan menggunakan sepeda Hordok 55, itu sebutan sepeda onta kami yang telah berumur tua. Sambil dibonceng, Bapak bercerita tentang saat sekolahnya dulu. Sepeda onta yang memiliki roda besar membuat kami cepat sampai rumah. Aku pun menikmati makanan yang dihidangkan ibu dengan ditemani teh panas. Satu tahapan terlewati, mendaftar. Selanjutnya belajar mempersiapkan ujian.
***

Leave A Comment