My Hong Kong Life, Diary TKW Bab 4 (Hiburan Dan Belajar)

HIBURAN DAN BELAJAR

Di kampungku hanya beberapa orang saja yang mempunyai TV berwarna. Di rumahku juga tidak ada televisi berwarna, yang ada televisi hitam putih merek JVC 21 inci yang hanya bisa untuk melihat TVRI, kalau pagi bisa melihat acara TPI. Kalau ingin melihat TV berwarna aku bersama dengan sepupu harus ke rumah tetangga yang jaraknya bisa mencapai 200 meter dari rumah kami.
Karena tidak mempunyai TV berwarna itulah, aku lebih suka mendengarkan radio, saat-saat belajar sampai malam kadang saat mengerjakan PR sampai jam dua pagi, lalu jam lima sudah harus berangkat ke sekolah. Kadang-kadang bermain peran sebagai penyiar radio dadakan dengan adikku lalu mengeraskan volume radio kalau lagunya diputar. Itulah hiburanku saat itu, juga sandiwara radio mulai Tutur Tinular, Babad Tanah Leluhur sampai terakhir Prasasti.
Kami sering semalaman tidak tidur karena ada tetangga yang punya hajat mengkhitankan anaknya lalu ada hiburan pemutaran video. Judul film yang kutonton sampai berkali-kali dari film Indonesia bergenre religi dan mistik, waktu itu aku dan sepupuku pernah protes saat diputar filmnya Ramboo “Lek diputer aku moleh lho yo!—kalau diputar aku pulang!” seruku karena saat itu tidak suka film dengan bahasa suweng-suweng, kami menyebut bahasa Inggris demikian. Buku cerita pun tak punya, kecuali cerita Dewi Sri, asal mula Candi Rorojonggrang, cerita Sangkuriang itu pun cerita dalam buku bacaan wajib.
Sewaktu SMA, aku dan Sofie setiap hari ke perpus sekolah. Karena selalu menghabiskan waktu istirahat di sana, kami jadi dekat dengan petugas perpus. Kami pun bisa meminjam dan membawa pulang majalah remaja Aneka Yes dan Anita ke rumah untuk dibaca bergantian dengan Sofie.
Di daftar masuk perpus, aku dan Sofie menggunakan nama Nik S. dan Sofie, itu kira-kira nama pena yang kubuat dengannya. Karena rajin ke perpus maka kami punya kartu khusus VVIP, karena buku yang aku dan Sofie pinjam tidak perlu dikembalikan sampai kami tidak membutuhkannya, kalau telat tanpa didenda sedikitpun. Mulia nian hati Pak penjaga perpus, tahu juga keadaanku yang tidak bisa membeli buku diktat.
Masuk kelas IPA berarti harus lebih banyak belajar karena pelajarannya membuat kening berkerut. Di antara pelajaran-pelajaran yang diberikan, aku paling kesulitan dengan Fisika, apalagi rumus-rumus yang diberikan selalu saja tidak bisa aku nalar. Pelajaran yang mudah aku cerna itu pelajaran yang bisa bermanfaat secara langsung dalam kehidupan nyata. Begitu juga pelajaran tentang sinus cosinus dan tangen, aku pun hanya menikmatinya saja, tidak punya keberanian bertanya karena aku takut diperhatikan oleh seluruh kelas, jadi lebih baik diam saja walaupun tidak mengerti gunanya apa di kehidupan nyata.
Pelajaran yang aku sukai dan menurutku bermanfaat dengan kehidupanku sehari-hari antara lain Kimia karena dengannya aku tahu nama-nama kimia rasa pemanis buatan, juga Biologi. Dua pelajaran ini yang sering mengajakku dan teman sekelas kami ke laboratorium untuk praktikum. Mengamati pertumbuhan biji kecambah, meneliti struktur daun dan bagian-bagian serta fungsinya, mencoba pencangkokan, penyetekan, perilaku binatang dan tumbuhan, struktur organ tubuh manusia sampai gimana cara membuat tempe.
Membuat tempe di laboratorium SMA2? Guru biologi kami menyebutnya sebagai ilmu ketrampilan. Satu kelas dibagi beberapa kelompok, masing-masing kelompok urunan untuk beli kedelai lalu kami membersihkan dan meniriskannya. Setelah bersih, kedelai diberi ragi. Sehari semalam berlalu, keesokan harinya kami mengecek ke lab hasil tempenya. Alih-alih bisa dimasak atau dijual ke kantin lalu dinikmati bersama hasil kerja keras kami, yang ada kedelai tetap terpencar tidak mau memadat dan berwarna coklat kehitaman. Satu kelas pun kompak untuk menyelesaikan masalah itu dengan cepat, padahal peralatan masak telah tersedia dengan bumbunya.
Tema hari itu one day with tempe, terancam gagal dan nilai biologi kami bisa-bisa dapat buruk, akhirnya beberapa orang menyelinap keluar menuju pasar dekat sekolah kami untuk memborong tempe yang ada di pasar. Regu yang berhasil menjadikan kedelai jadi tempe membagikan tempenya untuk kami masak dan olah sambil menunggu tempe dari pasar. Pak guru pun tidak curiga, kami pun dipuji-puji karena kreatif mengolah makanan berbahan dasar tempe, ada sate tempe, tempe penyet, sambal goreng tempe, perkedel tempe, tempe kentucky, tempe bumbu bali, bothok tempe.
All about tempe. IPA3, mungkin itulah kenangan yang membuatku tertawa, karena dari semua jenis masakan bumbu yang digunakan hampir sama, cabe, bawang putih dan bawang merah. Masakan yang pas-pasan. Tapi kelebihannya, dimasak oleh mereka yang akan menjadi generasi penerus bangsa dengan keahliannya masing-masing di bidangnya. Seperti yang dicontohkan pendahulu kami Pak Muhammad Fauzil Adhim, Pak Yon Machmudi dan banyaknya Mas-Mas dan Mbak-Mbak yang sering datang ke sekolah untuk mempromosikan betapa asyiknya sekolah di perguruan tinggi ternama, juga keunggulan jurusan yang mereka ambil, sebagian besar yang datang mengambil kuliah di kedokteran. Pantas saja, banyak teman-temanku yang minat di bidang itu juga karena promosi yang gencar diberikan oleh kakak alumni kami. Bahkan mereka menyediakan tumpangan dan les gratis menjelang SPMB pada kami. Aku, apakah perlu belajar lebih keras lagi biar bisa masuk STAN, yang menurut promosi kakak kelas gratis, setelah lulus bisa ikatan dinas dan jadi PNS lagi?
***

Leave A Comment