SEPATU
Sejuknya udara pagi menusuk tulangku, setelah jam tiga pagi aku mengguyur badan dengan air yang langsung ditimba dari sumur, ah… segarnya. Segera aku kemas peralatan sekolah. Ibu sudah menyiapkan sarapan dengan nasi kemarin yang masih dingin dan dengan lauk tahu goreng panas. Aku menyantap dengan cepat agar bisa sholat subuh lalu berangkat sekolah. Bapak mengantar ke tepian sungai Brantas. Aku pun menunggu perahu yang biasa ngangkut ibu-ibu pedagang pergi menyeberangi sungai dengan tujuan pasar Ploso.
Di seberang sungai ada pabrik yang baru didirikan namanya Cheil Jedang. Pabrik ini menyediakan bus antar jemput karyawan. Melalui informasi beberapa teman, kami diperbolehkan menumpang sampai pemberhentian bus dekat sekolah di Jombang kota. Perjalanan menuju sekolah memang jauh, kira-kira dua puluhan kilometer. Bus itu berangkat jam lima pagi dan sampai di kota jam enam karena sambil menjemput para karyawan dan berhenti di beberapa titik penjemputan. Lumayan pikirku, dapat tumpangan gratisan, uang saku bisa aku gunakan untuk membeli kebutuhan sekolah.
Tiba di perempatan jalanan menuju SMA, waduh… ada yang tidak beres dengan sepatuku. Sepatu pantofel yang diberi teman sekos beberapa bulan lalu, baru aku pakai seminggu ini tapi kok terasa agak longgar ya…
“Ada apa An, jalanmu kok nyeret-nyeret gitu? Kakimu sakit?” Dita teman satu SMP yang SMAnya satu komplek menyapa. Aku hanya senyum dan berjalan di trotoar pemberhentian bus dekat perempatan yang memisahkan kami ke jalan yang berseberangan ke sekolah kami masing-masing.
Lalu aku duduk di tepi trotoar. Kulihat ke arah sepatuku, separuh alas bagian depannya soak, lemnya aus, dua-duanya lagi, kompak banget! Untungnya Dita sudah beranjak pergi karena buru-buru belum mengerjakan PR katanya. Aku bisa malu banget kalau ketahuan.
Kulangkahkan pelan-pelan kaki ini menuju kelas. Aku bingung mencari cara, gimana memperbaiki sepatuku. Sedari awal masuk kelas, aku tidak beranjak dari tempat duduk. Malu kalau ketahuan pakai sepatu rusak ke sekolah. Imaje murid sekolah bonafid dan favorit membuatku semakin minder dengan penampilanku yang tidak up to date dibanding teman-teman lainnya.
Kelas 3 aku masuk IPA3, kelas unggulan di SMA Negeri 2 Jombang di antara 8 kelas lainnya, kelas terakhir sebelum kelulusan. Setelah penjurusan, dilihat dari referensi psikotes, minat, serta prestasi akademik, aku menjadi bagian dari kelas IPA3. Teman-temanku kebanyakan anak dari pejabat pemerintah, anggota dewan, pegawai bank dan orang-orang penting lainnya. Yang aku tahu orang tua mereka adalah para donatur yang membantu murid seperti aku, setidaknya aku bisa menikmati pendidikan gratis karena subsisi silang yang mereka lakukan. Aku juga sering melihat beberapa teman sekelasku pulang dan dijemput mobil sejenis BMW, Mercedes ataupun Kijang. Ini yang membuat aku semakin minder dan malu karena penampilan dan latar belakang keluargaku yang miskin.
Pelajaran dimulai, pandanganku menerawang, semoga aku tidak dipanggil guru maju ke depan untuk mengerjakan tugas, karena aku takut ditertawakan. Sepatuku mau lepas dari alasnya, kaos kakiku bolong dan belum sempat kujahit. Kalau sampai ketahuan, ampun mau ditaruh di mana muka ini karena malu. Miskin ya miskin, tapi jangan dilihat-lihatkan.
Syukurlah jam istirahat berbunyi, aku buru-buru pergi ke tempat bekas kosku, di sana ada teman-teman sekos yang masuk sekolah siang, jadi bisa pinjam sepatu mereka. Walaupun jarak sekolah ke kos-kosan hanya sekitar seratus meter tapi terasa lebih jauh. Baru separuh perjalanan, seluruh alas sepatuku terlepas, akhirnya aku berjalan dengan beralaskan kaos kaki yang bagian jempolnya bolong, tapi daripada terlihat aneh bin janggal kulepaskan saja kaos kakiku dan aku berjalan tanpa alas kaki.
Sesampai di kos, aku cengar-cengir mencari penghuni kos. Kos-kosan murah dan tak banyak penghuninya itu tampak sepi. Murah karena di tahun 2000 harga sewa kamar per bulan hanya sembilan ribu rupiah per orang. Kos di gang Karya Bhakti jalan Kusuma Bangsa tersebut sesuai dengan kantong keluargaku. Waktu istirahat hanya 15 menit dan aku bingung gimana memulainya untuk pinjam sepatu temanku, Sinta. Satu-satunya teman kos yang masuk sekolahnya siang, dia juga paling ditakuti seluruh penghuni kos karena centil dan senior. Aku pun dulu dibuat nggak betah tinggal di kos karena suka diusilin. Tapi aku harus berani.
“Sin… Sinta..” karena yang dipanggil tidak ada jawaban, aku mencarinya sendiri ke kamar dan tidak ada orang. Karena takut telat kupakai saja sepatu Sinta tanpa berpamitan padanya, bahkan aku tidak meninggalkan pesan apa-apa. Seluruh penghuni kos kemana ya, batinku. Setelah kupakai, aku segera berlari menuju sekolah dan ke kelas. Nafasku tersengal-sengal karena takut telat.
Teman sebangkuku, Sofie juga lagi izin tidak masuk sekolah. Jadi tragedi sepatu hari ini harus kulalui seorang diri. Mungkin Sofie takut kalau-kalau dikerjain oleh teman-teman sekelas karena hari ini ulang tahun dia, 15 Mei 2000. Dilempari telur dan tepung lalu diguyur segayung air got, waduh bau… tapi sepertinya teman sekelasku sudah kapok, karena sebelumnya dapat hukuman dari wakasek kesiswaan, disuruh ngepel dan membersihkan ruang kelas.
Pelajaran telah usai. Aku kembali ke kos untuk mengembalikan sepatu milik Sinta dan pinjam sandal jepitnya untuk pulang. Bukannya marah saat sepatunya kupinjam tanpa pamit, tapi Sinta ketawa tanpa belas kasihan terhadapku yang malu bukan kepalang.
Aku merogoh uang di saku. Dua ribu lima ratus rupiah, kubelikan cokelat Silverqueen kesukaan Sofie. Kubungkus dengan kertas yang kusobek dari bukuku, Sinar Dunia. Ini yang bisa kuberikan untuk sobatku yang sudah menemani dan menyemangatiku.
Tahukah kamu, Sofie, selama ini aku juga ingin memakan cokelat dengan merek ini tapi belum kesampaian, hanya lihat di iklan televisi dan hari ini setelah menabung dari uang saku beberapa hari aku bisa membelinya tapi tidak untuk aku makan sendiri. Setelah membungkusnya lalu aku tulis pesan selamat ulang tahun, aku pun berjalan menuju rumahmu yang tidak terlalu jauh dari jalan Kusuma Bangsa.
“Ndra, Mbak Sofie mana?” tanyaku pada adiknya yang masih SD.
“Mbak Ani, Mbak Sofie lagi sakit tidak masuk sekolah, Mbak masuk saja ke kamarnya.”
“Ibu belum pulang dari jualan ya Ndra?” tanyaku lagi karena mendapatkan rumah yang sepi. Indra yang memegang layang-layang hanya mengangguk sebelum pergi bersama teman-temannya.
“Sof… teng-teng…” sambil kukejutkan dia dengan hadiah dariku.
“An, aku nggak masuk hari ini, ada PR nggak dari Pak Juned, hasil ulangan dah dibagi ya?”
Kulihat mata Sofie sembab, tidak biasanya dia sakit. Bahkan selama setahun ini sebangku denganku dia tidak pernah absen. Berarti dia nggak masuk sekolah bukan karena takut dikerjai teman-teman. Dia pun mengeluarkan sepucuk surat dari balik bantalnya.
“Makasih ya, udah inget ultahku, lain kali nggak usah repot-repot. Ani surat ini dibaca di rumah saja ya.” Pintanya kemudian yang aku sambut dengan anggukan, lalu memasukkan surat itu ke dalam tas. Karena harus segera pulang membantu ibu di rumah, aku segera berpamitan.
***
“Nduk… ayo makan dulu, habis itu bantuin ibu.” Ibu yang berada di dapur kami yang terpisah dari rumah induk berjalan mendekatiku sambil membawa lauk. Dapur itu luas, dengan berlantai tanah dan berdiding bambu. Ibu menjalankan sebagian besar aktivitasnya mencari penghasilan untuk menyekolahkan aku di dapur itu. Asap dapur masih mengepul. Bapak mencari kayu bakar di kebun belakang untuk memperlancar proses di dapur. Ibu masih menggunakan dapur dengan kayu bakar.
Awal masa sulit itu datang saat usaha dagang bapak bangkrut karena krisis moneter tahun 1997, beliau yang bermodalkan hutang dari bank tidak bisa mengembalikan pinjaman. Untuk bertahan kami buka usaha dagang kerupuk yang ditaruh di kios dan warung. Di samping itu juga jualan rempeyek kacang, keripik pisang dan telor asin. Kesemua usaha itu kami lakukan berempat, yaitu Bapak, Ibu, aku dan adikku. Adikku yang baru kelas empat SD sangat suka mengantar ke pelanggan bersama dengan Bapak, sedang aku kebagian pengadaan bahan baku krupuk dan plastik yang biasa aku beli di pasar dekat rumah Sofie, di sana harga lebih murah dibanding di pasar Ploso.
Setelah selesai makan aku membantu ibu yang saat itu lagi membuat keripik pisang. Rupanya hari itu ibu telah mengupas pisangnya dan mengiris tiga tandon pisang, jadi ada tiga ember besar irisan pisang yang telah direndam dengan air limun. Kata ibu biar rasanya renyah. Aku kebagian menggoreng. Saat keripik mulai kering baru ditaburi gula biar rasanya manis, dengan bertemankan radio aku terus menggoreng irisan pisang yang bertumpuk itu hingga menguning.
Waktu terus berjalan tak peduli aku capek melewatinya. Aku teringat bahwa setelah ini aku akan lulus SMA dan ibu bersedia untuk memberi uang saku kuliah katanya sawah kami akan disewakan lagi. Bersama Sofie, kami bertemu dengan teman kakaknya yang mengenalkan kami pada sebuah yayasan dan mendaftarkan kami agar mendapatkan beasiswa. Apalagi yang kurang di hidupku? Sepertinya keinginan untuk meneruskan sekolah seperti kata kepala sekolah akan mendapatkan jalan dan masih ada harapan tapi bagaimana dengan hutang bapak di bank yang belum mendapatkan jalan keluar?
Saat istirahat di kamar, kupandangi sepatuku yang sudah aku pensiunkan tapi harus aku pakai lagi. Sepatu sport ATT berwarna hitam dengan bagian depan jahitannya sudah lepas. Aneh, kupikir saat aku SMA maka kakiku akan bertambah panjang dan tubuhku akan bertambah tinggi tapi tidak ada perubahan sejak aku SMP. Sepatu ATT ini kupakai sejak kelas dua SMP, karena saat SMP aku selalu memakai sepeda kayuh, bagian pinggir sepatuku menipis karena terkena gesekan kaki pedal.
Saat SMA aku mendapatkan seperangkat baju seragam lengkap dengan sepatu, sabuk, dasi dan ikat pinggang. Ibu bilang kalau nanti pesan sepatu di sekolah nomornya ditambah, jadi yang semula saat SMP nomor sepatuku 36 maka aku memesan nomor 39 dengan harapan sampai tiga tahun kedepan saat kakiku bertambah panjang tidak perlu beli lagi, aku mematuhi petuah ibu. Eh, sampai kelas tiga pun kakiku tak bertambah panjang dan sepatu kebesaran, walhasil tidak terpakai. Di rak sepatu, sepatu baru Specs dari SMA bersandingkan dengan sepatu ATT yang sudah mulai soak karena lima tahun tidak diganti.
***