MBAH KUNG DAN AWAL MERANTAU
Seminggu di rumah rasanya sangat tidak mengenakkan. Hampir setengah tahun lulus SMA, tapi belum ada tanda-tanda aku bisa mengumpulkan uang untuk kuliah di tahun berikutnya. Daftar di STAN telah gagal. Berbagai macam cari kerja di Surabaya dan Gresik juga sudah diusahakan, tapi hasilnya nihil. Kerja sebentar, baru satu minggu tapi dirumahkan karena demo buruh pabrik. Aku akhirnya bilang pada Bapak dan Ibu untuk pergi bekerja menjadi TKW dengan negara tujuan Hong Kong seperti keberhasilan yang dialami Mbak Subiantini dan beberapa tetanggaku yang juga telah berhasil kerja di sana.
Dari cerita Budhe Ulifa yang bertetangga dengan keluarga Mbak Subi, Dia mendapatkan majikan yang baik. Soal tinggi badanku yang tidak seberapa mungkin tidak masalah karena Mbak Subi juga tidak terlalu tinggi. Teman SDku yang akan pergi lagi ke luar negeri juga banyak, ada Mbak Luluk, Mbak Lilis, Lastri.
Di desaku terdapat sponsor yang menyalurkan kami para calon TKW pada PJTKI. Namanya Bu Retno, sponsor kami. Beliau menyebutkan nama sebuah PJTKI di kawasan Bekasi. Aku percaya pada omongan Bu Retno, bahwa PJTKI di Bekasi itu legal.
Persiapan menuju hari keberangkatan begitu cepat. Aku hanya berpamitan pada Mbah Kung dan Mbah Putri, sengaja aku tidak berpamitan pada keluarga besar karena takut dihalangi. Malam itu aku bertemu dengan Mbah Kung yang kutahu dari ceritanya merupakan seorang pejuang di masa pendudukan Jepang, Beliau ikut berperang memakai arit—sejenis senjata tajam yang biasa dipakai menuai padi dengan baju terbuat dari bago—karung beras yang dipenuhi kutu. Dari wajah tuanya yang berkarakter dan berkepribadian kuat, sering menceritakan susahnya kehidupannya saat zaman penjajahan dulu, harus makan daun-daun mentah untuh bertahan hidup.
“Kerjo nang negorone wong yo kudu nuruti opo sing dadi pengene majikan. Ibumu ndhisik ora rekoso koyo awakmu Nduk, pembantune Mbah iku akeh, anak-anake Mbah ono sing ngopeni, siji anak diopeni siji pembantu saking sibuke Mbah Kung karo Mbah Putri. Awakmu kudu dhuwe ati sing jembar, ojo nganti kerjo nang luar trus nyusahke atimu, diseneng-senengake, yen oleh gaji yo awake disandangi. Awakmu yo kudu eling pesene Mbah lan ojo sampe kedadean koyo nang tipi lan koyo tonggo dandane rah karuan, ojo melu konco yen diajak nang diskotek. Pokoke sing ati-ati, kudu iso njogo awak. Wong wadon iku kudu apik patrape, nggowo jeneng sing apik kanggo keluarga lan negoro.” Ya, bekerja ke negeri orang harus mengikuti keinginan Bos. Ibumu dulu tidak susah sepertimu, pembantu Mbah banyak, setiap anak dijaga satu pembantu karena Mbah sibuk dan sukses berdagang. Kamu harus mempunyai hati yang lapang, jangan sampai di luar negeri bersedih, buat hatimu senang. Kalau dapat gaji ya penampilan diperhatikan. Kamu harus selalu ingat pesan dari Mbah, jangan sampai terjadi padamu seperti yang Mbah lihat di TV juga seperti tetangga yang pulang dengan dandanan yang tidak sopan, jangan ikut teman yang pergi ke diskotek. Pokoknya berhati-hati dan jaga diri. Perempuan harus mempunyai perilaku yang baik, bisa membawa nama keluarga dan bangsa.
Setelah kucium tangannya, aku berpamitan meninggalkan rumah joglonya. Aku pandangi rumah megahnya yang telah direnovasi paman dan tanteku. Dulu, saat SD aku serumah dengan Mbah Kung dan Mbah Putri. Saat itu listrik belum masuk desa kami, Mbah Kung dengan rumahnya yang berbentuk joglo sering didatangi tetangga untuk nonton TV dengan sumber listrik dari diesel. Maklum yang punya TV hanya Mbah dan Pak Lurah. Saat itu aku masih ingat sering disuruh menyanyi dengan keras dan berjoget-joget bersama teman-temanku lainnya. Lagunya pun terbatas Pelangi dan lagu jawa seperti Mentok-mentok, atau Bebek Adus Kali, Lir Ilir, Gambang Suling. Kami pun beramai-ramai menunggu pemutaran serial televisi Dewi Yull sebagai dokter Kartika yang berakting bersama Dwi Yan.
Mungkin kalau aku bisa bilang, tak usahlah ada episode ini di hidupku. Mbah Putri memberiku uang saku karena ibu dan Bapak tak bisa memberi, itupun dengan menjual kambing persediaan kurban seharga seratus lima puluh ribu.
“Mbah Kung, Mbah Putri pangestunipun… kulo berangkat.” Hatiku kian perih, tak ingin melihat kesedihan yang terpecah saat perjumpaan terakhirku dengan Mbah sebelum berangkat ke Hong Kong. Aku gigit bibir ini agar terasa sakitnya jadi airmata tidak tumpah. Aku memang telah dilenakan oleh mimpi. Mimpi ingin menyelesaikan masalah keuangan keluargaku.
“Nduk… Mbah wis nikahno ibumu karo Bapakmu yo ben uripe ibumu seneng. Bapakmu wong sing mentar, pinter nyambut gawe. Wong wadon iku tanggung jawabe wong tuo karo bojone…” Mbah menikahkan Ibu dan Bapakmu karena ingin ibumu hidup bahagia. Bapakmu iku wong sukses, pandai dalam bekerja. Perempuan itu tanggung jawab suami dan orang tuanya.
Saat pulang itulah aku terdiam sepanjang jalan. Dibonceng Bapak menggunakan sepeda onta kami. Aku harus periksa barang bawaan yang nantinya akan aku bawa ke Bekasi. Jangan sampai terlupa obat maag. Perutku sering perih tidak ketulungan dan berisi penuh oleh gas yang tak bisa keluar. Senjata mujarab yang bisa menyembuhkannya adalah pil berbentuk bundar berwana hijau dan berasa isis.
Dari sekian jenis obat yang bisa aku minum hanya yang berbentuk cair dan berasa manis, untuk pil pahit jenis apapun sangat tidak kutolerir masuk ke mulutku. Tapi kali ini pil pahit bernama kemiskinan harus aku telan meskipun aku ingin menghindarinya. Dengan merasakan setiap kepahitannya aku akan tetap eksis di dunia ini, karena masih bisa bernafas, bisa menagis, bisa berharap, bisa berpikir, bisa bekerja dan masih harus dilestarikan agar tidak terancam punah oleh keputusasaan.
Keesokan harinya aku dijemput sebuah mobil Kijang, di dalamnya sudah ada Mbak Luluk, Mbak Lilis dan Lastri. Aku diperkenalkan dengan sponsor pusat yang bernama Pak Munir sebelum sampai ke Bekasi, kami harus transit di Kediri selama dua hari mengurus keperluan yang dibutuhkan. Aku dibekali dengan KTP dengan alamat Dusun Kandat, RT 05/RW 03 Desa Sumberjo, Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri. Kupegang KTP itu. Sedangkan KTP asli disita. Akupun tidak pernah tahu akibat yang bisa ditimbulkan. Pantas saja ada TKW yang meninggal lalu dikirim ke alamat sesuai kontrak, ternyata alamat yang dituju bukan alamatnya yang asli karena prosesnya sedemikian rupa. Pihak kelurahan dan kecamatan begitu mudah meloloskan permohonan KTP bukan warganya.
Di Kediri aku dipertemukan dengan para calon TKW yang berasal dari berbagai pelosok Jawa Timur. Aku di sana bertemu dengan ibu-ibu, kami sepakat menyebutnya Mak Ton, dan ada beberapa yang dengan cepat dekat denganku. Ada Partini, Lasiyem, dan Etik.
Sewaktu di bus aku duduk di sebelah Etik. Tak dinyana aku harus melakukan perjalanan sepanjang itu, dua puluh empat jam lebih naik bus, kepalaku berdenyut-denyut masuk angin. Tak kuat duduk, aku merebahkan kepala di pangkuan Etik dan berusaha melupakan diriku sedang naik bus yang berguncang-guncang sepanjang jalan. Aku membayangkan naik pesawat olak-alik yang lagi beratraksi di udara. Ah… gimana ya rasanya bisa naik pesawat? Kalau pesawat olak-alik mungkin seperti sekarang ini. Sambil tersenyum di dalam hati, membayangkan diriku akan naik burung besi yang bisa terbang, seperti layang-layang raksasa.
Aku tidak tahu akan dibawa kemana, juga tidak mengerti sudah sampai di mana. Aku hanya tahu aku sendirian melewati perjalanan panjang entah kapan sampai ke tujuan. Merasa sedih dan meratap malah membuat aku semakin pilu. Yang ingin aku lakukan adalah gimana caranya Allah menjagaku, aku harus meminta padaNya.
Saat mataku terpejam aku terus berpikir sepanjang jalan. Gimana caranya aku bisa diterima di PJTKI tersebut. Dengar-dengar di sana adalah tempat yang membuat orang begitu stress. Apalagi ya? Ah, entahlah… hidup yang penuh ketidakpastian, bahkan aku tidak tahu bisa bertahan seberapa lama, membawa uang seratus lima puluh ribu di Bekasi.
***