My Hong Kong Life, Diary TKW Bab 8 (Selamat Datang di Hong Kong)

SELAMAT DATANG DI HONG KONG

 

            Tiba di bandara Internasional Hong Kong, tas temanku robek-robek karena kebanyakan muatan. Untunglah, aku dibantu mak Khusnul, dia memberiku tas besar berwarna hijau karena tasku yang ada di asrama dilubangi tikus. Salahku juga sih memasukkan sebungkus kacang di dalamnya di antara tumpukan baju-bajuku, jadilah sasaran empuk tikus dengan merobek-robek tas.

            Baju yang aku bawa tak terlalu banyak. Celana yang aku pakai adalah hasilku meminjam dari tetangga depan rumahku, Mbak Ti. Persyaratan waktu itu harus bawa baju putih, maka yang aku bawa seragam SMA yang telah aku buang simbol yang menempel di sana. Sebelum berangkat ada tradisi memberi warisan. Satu-satunya kaos kesukaanku perpaduan warna merah hati dan putih oleh-oleh dari Mbak Ti yang juga TKW kerja di Inggris telah diminta oleh temanku, beberapa hem juga demikian, sweater biru muda kesayanganku serta celana longgar yang cuci kering pakai pun diminta teman-temanku. Sekarang aku memakai kaos Bapak yang diberikan padaku karena kekecilan.

             Sampai-sampai Yani bilang “Eh… An, sepertinya kaos yang kamu pakai itu kaosnya cowok deh… soalnya Bapakku juga memakainya.”

            Yah… memang kaos itu satu-satunya yang aku punya, jadi mau atau tidak, ya kaos itu yang aku pakai. Koleksi bajuku memang sedikit, bahkan saat SMA aku selalu kebingungan harus pakai baju yang mana ya? Itu-itu saja! Tiap lebaran tidak mesti dapat jatah baju baru, bahkan selama SMA koleksi bajuku tidak bertambah. Koleksi baju sejak kelas tiga SMP kadang saat aku lagi luang akan aku modifikasi sendiri. Ada yang semula rok aku buka jahitannya dan kusulap jadi celana. Rok-rok yang tidak muat akan aku usahakan gimana bisa aku pakai lagi, blouse yang kekecilan berubah menjadi longgar. Koleksi bajuu baru bertambah saat ada tetanggaku pulang kerja dari luar negeri. Semisal Mbak Ti yang memasokku dengan baju-baju melayu setelah kumodifikasi karena kegedean.

            Ah… Deg-degan… bagaimana ya kehidupanku setelah ini?

            ***

Saat itu pun tiba, bosku datang. Yang aku lakukan hanya senyum selebar-lebarnya. Ya Allah, inikah majikanku?

Leung Thai hai choet pin tang—Nyonya Leung menunggu kita di luar.”serunya sambil tersenyum juga.

Waktu itu aku memakai celana panjang dengan sandal setinggi lima centi dan menjinjing tas besar warna hijau yang di dalamnya banyak makanannya. Bertiga kami turun memakai lift menuju parkiran mobil BMW warna biru metalik rupanya. Saat di dalam mobil Leung Thai mulai mengajakku berbincang.

Tim kiu lei kah? Ani ting Eni?bagaimana aku memanggilmu? Ani atau Eni kah?”

Ani ah Thai-thai.” Jawabku singkat.

Lei m sai kem kanchiong… msai keng… tohai mhou wun nau keh… kamu tidak perlu tegang, tidak perlu takut juga malu… kamu santai saja…”

Hou lah Thai-thai… Baiklah nyonya.”

Kem nei yau keito hengtai cimui? Kamu ada berapa saudara

Ngo yau yatko sailo kah… saya ada satu adik laki-laki”

Lei papa cou matye kah? Bapakmu kerja apa”

“Ngo papa cou sangyi tanhai yika mou chin ka.. Bapak pedagang tapi sekarang tidak punya uang lagi.”

“Lei mama leh… Ibumu ?”

“Ngo mama hai ngukkhei cou house wife… Ibu di rumah sebagai ibu rumah tangga saja”

“Nei seik kong ying man keh? kamu bisa bahasa Inggris kah?”

“Siu-siu lah… bisa sedikit”

“Cung yau ah nei kem hausang keh… ngomong-ngomong kamu masih muda loh!”

“Ngo yika ya ah yat soei ke wo… saya sekarang 21 tahun.”

“Hai ngukkhei cung yau yannai ka… di rumahku masih ada pembantu dari Indonesia”

            Akhirnya tiba di Flat 2301 Camellia Court, 3-Yu Tai Road Fanling, New Teritories. jam 6 sore. Bos mengajakku masuk ke rumahnya. Sekeluarga berempat dan satu anjing yang bernama Happy serta masih ada helper dari Indonesia di sana. Namanya Mbak Tatik. Aku disuruh untuk bersih-bersih, cuci muka dan mengamati cara masak Mbak Tatik.

Leave A Comment