BEKERJA
Pagi-pagi aku bangun, setelah cuci muka dan gosok gigi tanpa mandi terlebih dulu karena tradisi orang Hong Kong mandi saat menjelang tidur itupun sehari sekali. Aku disuruh mengambil koran Ming Pou oleh Leung Thai.
Sorenya Leung Thai memanggilku dan menanyaiku. “Ani ah, theng yat lei m sai lok pou-cii, ngo siong thai hai kung si kah... besok kamu tidak perlu ambil koran karena aku mau baca di kantor saja.”
“Hou lah, baiklah” jawabku mengiyakan.
“Koti card le pai hai pin ah? kartunya kamu taruh dimana?”
Waduh… ditaruh di mana tadi? Sudah dicari ke mana-mana tapi tidak ketemu juga. Mbak Tatik membantuku mencari tapi tidak ketemu juga.
Leung Thai-istri dari Leung Sang marah dan kesal.
“Lei m seik cou ye ka? Lok pou-cii, koti card m kin ke?” Bisa kerja tidak sih? Baru ambil koran sekali saja kartu bisa hilang.
“Toe em ci ah Thai-thai.., maafkan saya Nyonya” pintaku sambil menunduk.
“Ani ah tim kai lei mou thai ngo keh? Kenapa kamu tidak melihatku” sentak Leung Thai kepadaku.
“Mhou yisi ah Thai-thai, mhou lau khoei ah… yatcankan ngo pong khoei wan pei nei kala… Mohon maaf Nyonya, jangan marahi dia, sebentar lagi saya bantu dia mencarikan untukmu!” Mbak Tatik mengajakku pergi dan mencari lagi kartu pengambilan koran tersebut.
“M sai keng… tak perlu takut, thai-thai memang suka marah, dulu sewaktu Mbak pertama kali kerja juga begitu.” Mbak Tatik menasehatiku lagi.
“Aku takut dipecat Mbak, sedangkan keluargaku membutuhkanku! Aku pun ingin kuliah nantinya.”
“Suin ah! Mongkei khoei lah… sudah lupakan, aku pernah bilang ke Leung Thai untuk tidak sering memarahimu apalagi memecatmu dan dia janji mengiyakan permintaanku.” Senyum Mbak Tatik menenangkanku.
“Lei yatteng keitak, yikwo lei yau noiyan yatteng yiu hou-hou thung khoei… kamu harus ingat, jika kamu punya pembantu, harus baik-baik loh sama dia…” serunya menggodaku.
“ Mbak Tatik ini ada-ada saja…”
Pukul 23.00 pekerjaan baru saja selesai. Menyetrika dan memasukkan baju keluarga bos ke lemari masing-masing. Aku pun masuk ke kamarku. Biasanya aku baru tidur di atas jam 12 malam. Aku bisa merenung setelah sholat isya dengan mengisi lembaran diary. Kadang menangis kalau ingat perjalanan sudah sepanjang ini. Mampukah melewati episode ini dengan baik? Mampukah menyelesaikan kerja hingga 2 tahun? Mampukah mewujudkan cita-citaku untuk kuliah lagi? Esok akan gimana? Esok akankah lebih baik? Kegalauan yang selalu menemani, aku torehkan di lembaran diary. Semoga kelak akan bermanfaat sebagai penyemangat di saat aku susah, aku pernah mengalami kondisi dan kenyataan yang lebih susah, jadi buruh migran di Hong Kong.
***