Sutradara Perempuan Indonesia di Ajang Internasional

Perempuan selalu lekat dengan stigma dan stereotip tertentu, di Indonesia sosok perempuan lekat dengan keterbatasan dalam mengekspresikan mimpi mereka, perempuan menjadi petinju, perempuan menjadi rocker, perempuan menjadi pilot, masih menjadi hal yang asing. Hal inilah yang terus diperjuangkan oleh perempuan untuk membuktikan bahwa mereka mampu melakukan hal yang diinginkan, mewujudkan mimpi, dan mengekspresikan diri mereka. Pada Hari Perempuan Internasional, yang jatuh pada tanggal 8 Maret ini, kita harus bisa lebih menghargai kemajuan dalam menuju kesetaraan gender. Berikut adalah contoh sebagian sutradara perempuan asal Indonesia, yang berhasil mendapat penghargaan Internasional:

1. Nia Dinata

instagram.com/ibunia

Nur Kurniati Aisyah Dewi atau yang dikenal sebagai Nia Dinata, perempuan kelahiran 4 Maret 1969 adalah seorang sutradara Indonesia berdarah Sunda dan Minang. Awal karirnya sebagai sutradara berangkat dari pembuat klip video dan film iklan. Pada awal tahun 2000, Nia mendirikan perusahaan film independen Kalyana Shira Film, lalu menjadi sutradara film Ca Bau Kan (2002) yang diangkat dari novel dengan judul sama karya novelis Remy Sylado. Pada tahun 2004, dia menyutradarai film Arisan! yang mendapat banyak penghargaan, salah satunya Festival Film Indonesia dan MTV Movie Awards. Karya berikutnya film Berbagi Suami, film yang membahas mengenai poligami, dan mendapatkan penghargaan Best Feature dalam Festival Film Internasional Hawaii.

2. Mouly Surya

instagram.com/moulysurya

Nursita Mouly Surya, lahir 10 September 1980, seorang sutradara dan penulis skenario Indonesia.  Mouly pernah menggarap film berjudul Fiksi pada tahun 2008, dan mendapat penghargaan sutradara terbaik di Piala Citra. Pada tahun 2013 , ia menulis dan menyutradari What They Don’t Talk About When They Talk About Love, yang bersaing di Festival Film Sundance. Karya berikutnya film Marlina Pembunuh di Emapt Babak pada tahun 2017, ditayangkan di Directors Fortnignt Festival Film Cannes 2017, New Zealend International Film Festival, Melbourne Film Festival, dan Toronto International Film Festival. Mouly juga ditunjuk untuk menggarap film bertema perayaan dalam ajang Singapore International Film Festival 2019.

3. Kamila Andini

instagram.com/kamilandini

Kamila Andini seorang sutradara berkebangsaan Indonesia, yang lahir 6 Mei 1986. Ia menyutradarai film pertamanya berjudul Rahasia Dibalik Cita Rasa pada tahun 2002. Filmnya pada tahun 2011, The Mirror Never Lies berhasil memenangkan Piala Citra untuk Cerita Asli Terbaik. Kamila juga menerima penghargaan khusus Sutradara Pendatang Baru Terbaik. Film The Mirror Never Lies  juga memenangkan penghargaan Festival Film Internasional Tokyo, Festival Film Internasional Hong Kong, dan Festival Film Internasional Berlin. Pada tahun 2017, Kamila menyutradarai film Sekala Niskala yang berhasil masuk nominasi Piala Citra di FFI 2017, dan dinominasikan di Festival Film Internasional Toronto, Festival Film Internasional Shanghai, dan Festival Film Internasional Berlin.

4. Pritagita Arianegara

instagram.com/pritagitaarianegara

Pritagita Arianegara adalah seorang pencatat adegan dan sutradara berasal dari Indonesia. Debut penyutradaraannya dimulai dalam produksi film Salawaku pada tahun 2016. Film ini dirilis secara perdana di Festival Film Internasional Tokyo 2016. Salawaku juga tayang di Festival Film CinemAsia Belanda dan Festival Film Internasional Shanghai.

 

 

 

 

  1. Lola Amaria
instagram.com/lola.amaria

Lola Amaria lahir 30 Juli 1977 adalah seorang model, pemeran, produser film dan sutradara Indonesia. Gadis berdarah Palembang-Sunda menyutradarai film Betina (2006), yang berhasil meraih penghargaan ‘Netpac Award’ dalam Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) 2006. Betina juga menjadi salah satu film produksi Indonesia yang ditayangkan di luar Indonesia, yaitu di Festival Film Internasional Singapura Ke-20.

 

# HariPerempuanInternasional # InternationalWomensDay

Leave A Comment