Hanya bermodalkan secarik kertas putih yang bertuliskan alamat tujuan yang baru saja beberapa hari yang lalu diberikan dari teman ku. Katanya ditempat dia sedang membuka lowongan pekerjaan untuk satu orang. Untung saja aku tepat waktu menanyakan perihal lowongan padanya, kalau tidak sudah pasti indormasi tersebut hilang begitu saja dan orang lain pasti sudah lebih dulu tau tentang informasi tersebut dari pada aku. Dan alhasil aku belum juga mendapatkan pekerjaan dan kembali menjadi kuli bangunan di sekitar komplek rumah. Bukan aku tak mensyukuri pekerjaan tersebut, hanya saja rasanya upah dari pekerjaan tersebut terkadang tidak sesuai dengan pekerjaanya. Ya, alhamdulillahnya ada saja jalanya.
Tadi pagi aku berangkat sekitar pukul enam pagi dari rumah, mengendarai sepeda motor yang terbilang butut ini. Sepeda motor ku sangat jauh sekali dari model-model yang baru keluar sekarang-sekarang ini, malah bisa disebut kuno. Menerjang dinginya angin dengan rasa percaya diri pasti akan mendapatkan pekerjaan ini. Perjalanan dari rumah ke tempat tujuan itu terbilang sangat jauh, apalagi untuk seorang diriku yang baru mengenal ibu kota Indonesia ini. Rasanya bingung, memilih jalan pun takut nyasar. Akhirnya dari pada semakin menjadi tidak tau arahnya, aku pun memutuskan untuk beristirahat sebentar di pinggir jalan. Menghela nafas karena rasanya kok tidak sampai-sampai. Berulang kali membuka handphone, menatap layar berharap ada balasan SMS dari teman ku, perihal daerah yang sedang aku singgahi saat ini. Menanyakan apa masih jauh dari sini atau tidak. Tapi nyatanya nihil, tak ada balasan darinya. Aku pun mengerti pasti dia sudah sibuk bekerja dan tak sempat atau bahkan tidak diperbolehkan untuk memegang handphone.
Jam di layar handphone sudah menunjukan pukul enam lewat empat puluh, sedangkan aku diharuskan datang sekitar jam tujuh. “bagaimana ini ?” dari pada seperti ini rasanya ingin kembali pulang saja. Tapi jika mengingat pesan Ibu tadi pagi rasanya beliau sangat menaruh harap besar terhadap ku. “ya Tuhan berikan aku jalan” sesekali menunduk dan berharap masih ada harapan ku untuk mendapatkan pekerjaan itu.
“mas, mau kemana ?” tiba-tiba saja seorang wanita paruh baya yang berpakaian serba oren dan memakai topi serta memegang peralatan kebersihan itu menghampiri ku, mungkin beliau merasa iba melihat diriku yang sedang seperti ini.
“eh ini bu saya mau ke alamat ini, kira-kira ibu tau gak ya ? soalnya saya gatau bu” jawab ku sambil meringis kuda, berharap si Ibu satu ini tau alamt yang saya tuju.
“oh ini si sebentar lagi mas, lumayan lah sekitar 20 menitan juga gak ada kok mas, ini mas nya lurus aja dari sini nanti ada tulisan kantornya itu kok mas, tapi sebelah kanan letaknya, jadi masnya harus cari arah puteran balik” ibu itu pun menuntun ku dan memberikan arahan yang aku butuhkan.
“oh gitu ya bu, baik bu terimakasih ya bu” aku pun kembali merasa ada banyak harap disini.
“ini mas minum dulu, siapa tau haus. Saya lanjut dulu ya mas” ya ampun sungguh baik sekali hati ibu satu ini. Beliau memberikan ku sebotol air mineral yang memang aku butuhkan. Karena ya jujur saja aku memang menahan itu semua. Karena aku hanya ada uang 20 ribu saja yang ada di dompet. Untuk jaga-jaga kalau saja nanti aku diperbolehkan untuk langsung bekerja dan untuk makan siang ku. Dan juga yang 10 ribu nya untuk jaga-jaga jika aku kehabisan bensin. Karena sisa bensin aku pun hanya tinggal dua bar saja. Sungguh miris.
“makasih bu” aku pun menerima pemberian darinya dan tak lupa untuk berterima kasih pula.
“ sama-sama mas” dia pun langsung pergi meninggalkan ku. Berpindah posisi untuk terus melanjutan pekerjaan tersebut.
Sedangkan aku. Ku buka botol air mineral yang dingin itu dan ku teguk dengan perlahan, merasakan betapa segarnya tenggorokan ini terkena air. Rasanya sudah lama sekali seperti tidak meminum air, bagaikan gurun pasir yang tak kenal genangan air. Sisanya pun aku masukan kedalam tas. Dan aku pun mulai mengendarai motor ku lagi, menerjang kemacetan ibu kota ini dengan sangat penuh harapan.
Ya ampun mengapa susah sekali mencari pekerjaan. Ternyata seperti ini rasanya cari kerja di daerah ibu kota. Banyak sekali cobaanya, apalagi untuk aku seorang diri yang belum pernah sama sekali menginjakan kaki di daerah ini, jadi wajar saja jika sesekali tersesat. Untung saja Tuhan Maha baik memberikan ku petunjuk melalui ibu yang tadi itu.
Ambar, BBBF