Kucing abu-abu itu terlihat bertingkah di hadapanku. Ia sibuk dengan bola merah yang baru saja aku belikan tadi di toko pets shop langgananku. Kuberi nama grey, nampaknya ia menyukainya. Terlihat dari sorot matanya yang berbinar saat bola merak itu kulemparkan kepadanya. Lebih baik diberi bola daripada aku harus bermain denganya. Rasanya sayang jika waktuku terbuang gitu saja, padahal pekerjaan kantorku masih banyak.
Setiap harinya ada saja puluhan e-mail yang masuk dengan macam-macam tugas dan revisi. Merepotkan sekali, ya mau gimana lagi, aku butuh uang. Pandemi ini membuat diriku dan seluruh rekan kerjaku untuk mengambil langkah WFH yaitu Work From Home. Ada juga senangnya, awalnya asik juga bekerja dari rumah sembari menonton Series K-Pop kesukaan, drakor. Tapi, begitu bulan berganti dan terhitung 12 bulan lamanya, loh kok jadi bosan ya.
Rindu juga suasana kantor yang riweh dan berisik. Serta makan bareng pada saat jam istirahat ke kantin. Oh my god aku rindu pecel ayam Pakdeh. Sambalnya itu tak pernah salah, kol goreng, dengan lalapan timun dan daun kemangi. Serta tak persah absen pesan es teh manis di bang Roy. Memang segelas es teh manis dikala teriknya hari, segarnya tak pernah bohong. Tapi sekarang hanya diam di rumah dan selalu mengecek e-mail masuk untuk pekerjaan selanjutnya. Jujur saja, jika seperti ini terus menerus mentalku yang akan sakit. Tiap hari ketemu sama gadget satu dan lainnya, tidak bisa kontak langsung dengan manusia, banyak kesalah pahaman, sangat terbatas dan akhirnya merepotkan.
Pandemi membuat seluruh masyarakat Indonesia terkena dampaknya. Terutama dampak ekonomi sangat terlihat nyata. Banyak perusahaan-perusahaan yang rela melepas pegawainya. Hanya karena mereka sudah tidak lagi mampu untuk membayar upahnya. Banyak yang di phk secara tiba-tiba, lalu mereka merasa putus asa. Lantas usaha apalagi yang harus dilakukan untuk menghidupi keluarga tercintanya. Memang ada beberapa yang mulai merintis usaha kecil-kecilan. Tapi rasanya sama saja, karena bahan baku di pasar pun mengalami kenaikan yang melonjak. Ada pula yang lebih memilih untuk kembali ke kampung halamanya dengan harapan setidaknya di sana biaya pangan dan papan tidak setinggi di ibu kota. Dan setidaknya bisa membantu orang tua untuk mengelola sawah ataupun peternakan yang ada. Intinya adalah biaya hidup di perkampungan itu tidak akan jauh lebih tinggi ketimbang di ibu kota.
Anak-anak sekolah pun terpaksa bersekolah dari rumah, melalui beberapa aplikasi yang sudah dianjurkan oleh pihak sekolah. Namanya juga anak-anak, dirasa senang karena tidak perlu sekolah dan dapat bermain di rumah dengan sepuasnya dengan teman-teman. Nyatanya banyak sekali yang mengeluh.
“ Kak, ajarin ade dong, ade gabisa yang ini “ tiba-tiba saja dengan wajah bingung adikku yang usinada terpaut jau denganku datang menghampiriku yang tengah sibuk pula mengerjakan pekerjaan.
“Apa si de, kakak juga lagi sibuk nih, coba sana minta ajarin Bang Tirta. Kakak gak sempet soalnya, lagi dikejar deadline “ jawabku yang juga tengah kewalahan dengan pekerjaan yang baru saja aku terima tadi pagi.
“Dih Bang Tirta aja lagi keluar, ayo kak ajarin sebentar, besok harus dikumpulin soalnya” Roni si bungsu itu merengek menjadi-jadi.
“Apaan sih, kalian ini ribut mulu, heran Mamah “ Ibuku datang menghampiri kami berdua. Sudah tak disangka lagi, aku dan adikku ini memang jarang sekali akur. Selalu saja ada yang diributkan, padahal perbedaan usia kita lumayan cukup jauh yaitu dua belas tahun. Entah mungkin memang perilakuku yang masih saja terkadang seperti anak kecil.
“Itu Kak Jee nya gak mau ajarin aku mah, aku gangerti kan“ Aduh, makin menjadi sudah. Dengan wajah memelas itu Roni meminta pertolongan pada Ibuku supaya aku mau untuk membantunya mengerjakan pekerjaan sekolahnya itu.
“Mamah puyeng deh, ada kalian berdua di rumah terus Mamahnya yang jadi pusing denger kalian ribut mulu ribut mulu. Jee ajarin itu adenya apa ya, kalau Mamah ngerti juga Mamah yang ajarin “ sudah mulai mengeluarkan kata-kata andalanya. Mau tak mau yasudahlah, aku ajarkan.
“Ahelah… mana sini yang mana si, tapi kalo diajarin jangan batu lu, jangan sok tau “ aku pun menarik bukunya. Dan perlahan mulai memahami materinya itu. Aku beritahu cara-caranya kepada adikku, serta contoh dan soalan supaya dia memahaminya atau tidak.
*****
Kebiasaan jadi berubah semuanya. Kebayang nggak kalau dulu kita suka takut sama yang bercadar, eh sekarang kita malah pakai terus-terusan, kalau nggak malah menjadi janggal dan dikucilkan karena nggak pakai masker. Juga kita jadi orang yang rajin bersih-bersih, kemana-mana membawa hand sanitizer. Untuk jaga-jaga jika ingin duduk atau singgah ke suatu tempat disemprotkan disinfektan dahulu, supaya bakteri-baktei dan virus-virus yang menempel pada benda itu hilang dan mati.
Mendengar berita dari acara televisi dan artikel atau iklan-iklan digital yang bermunculan di layar laptop serta handphoneku membuat takut saja. Jumlah positif COVID sudah mencapai satu juta jiwa. Semakin hari semakin bertambah yang terkena virus tersebut. Bukanya membaik tapi malah memburuk. Mall-mall, restoran dan tempat-tempat rekreasi sudah mulai dibuka. Tapi harus mengikuti tata tetib yang ada. Jumlah pelanggan harus tidak boleh lebih dari setengah seperti biasanya. Maksudnya misalkan hari-hari biasa itu ada 100 pelanggan dan sekarang tidak boleh lebih dari 50 pelanggan. Dan sudah pasti jam tutup tempat pun lebuh dipercepat. Tapi tetap saja aku merasa takut jika harus keluar.
Selama ini aku benar-benar mengikuti protokol kesehatan yang sudah disarankan dari banyak orang. Berjemur diri di sekitar jam delapan sampai jam sepuluh pagi, mencuci tangan dengan sabun cuci tangan yang mengandung anti bakterial, menghindari atau mengurangi kontak dengan orang luar. Dan kalau pun aku terpaksa harus keluar rumah karena suatu kepentingan, sewaktu sudah sampai dirumah aku langsung buru-buru untuk mengganti baju ku dan langsung merendamnya di sabun cuci baju, aku pun langsung pergi mandi dan keramas supaya benar-benar bersih. Tak lupa juga jika ada barang datang kerumah selalu aku sterilkan dahulu.
Tapi jika dipikir-pikir kembali, sekiranya kapan ya pandemi ini akan berakhir ?. Wong semakin hari semakin melonjak data-data yang terkena virus dan yang meninggal. Rasa-rasanya PSBB pun akan segera diperpanjang. Tidak mungkin jika tidak diperpanjang. Pemerintah rasanya pun kehabisan akal. Pemerintah sudah melakukan segala macam upaya agar masyarakatnya tidak mengalami kelaparan. Sudah mengeluarkan dana sembako, program prakeja dan lain sebagainya. Dengan harapan masyarakatnya mematuhi protokol yang ada. Tapi nyatanya tidak, masih ada saja orang yang keluar tanpa adanya kepentingan, tidak menggunakan masker, berkerumun dengan seenaknya. Dasar, padahal pemerintah sudah melakukan banyak hal, tapi ada saja masyarakat yang seperti itu.
Haduh, malah nulis diary, kerjaanku mana bisa selesai kalau cureta dulu ngeblog dulu gini.
-Ambar, BBBF