KERUDUNG PUTIH
Kayuhan sepeda mini kian mantap, menapaki jalan berbatu yang akan diaspal, melewati sawah di kanan kiri jalan, perjalanan ke sekolah dari desa menuju kota, lima belas menit dengan melesat cepat aku telah sampai di batas kota. Melewati kecamatan Tembelang, Sambong sampai pasar Legi menerobos hingga taman makam Kusuma Bangsa, sampailah di jalan Wahidin Sudirohusodo tempat sekolahku berada.
Sejam berlalu mengayuh di atas sepeda mini. Lalu aku parkir sepeda, kulihat hanya beberapa saja yang memakai sepeda kayuh, siswa lainnya menggunakan sepeda motor bahkan ada yang memakai mobil sendiri yang diparkir di gang depan sekolah, karena ada peraturan selain guru, siswa dilarang memarkir mobil.
Kadang aku merasa minder karena pakai sepeda kayuh ke sekolah, apalagi beberapa teman suka tanya, seperti Sari teman sekelasku di depan banyak teman-teman yang lainnya.
“Hei… kamu naik sepeda ya? Aku tadi lihat kamu di jalan.” tanyanya
“Iya… ada apa memangnya?” jawabku terganggu.
“Aku saat sekolah di SMP 1 di kecamatan Tembelang tuh yang jaraknya dekat dengan rumah saja nggak pernah naik sepeda tapi naik angkot.”
Aku diamkan begitu saja, aku naik sepeda kan pake kakiku sendiri, kalaupun capek juga aku rasakan sendiri.
Walaupun sudah kelas dua SMA tapi kerudung sekolah yang aku pakai masih pinjam. Tante yang berprofesi jadi guru sangat baik padaku, dia memberi aku kerjaan, membantunya koreksi hasil ujian muridnya dan memasukkan ke raport. Waktu itu aku ditanyain mau digaji uang atau apa? Waktu itu aku minta kerudung warna cokelat untuk seragam pramuka, sehingga kerudung pinjaman dari sepupu bisa aku kembalikan. Akhirnya dapat juga kerudung cokelat itu dengan keringatku sendiri, tentunya kebaikan tanteku juga.
Sedangkan kerudung putih yang aku pakai masih pinjaman dari Tante, aku jadi bingung, sudah satu tahun tapi Bapak dan Ibu belum bisa belikan? Sedangkan Tante juga membutuhkan kerudung putih itu untuk mengajar, aku meminjamnya kelamaan, satu tahun! Aku putuskan untuk mengayuh sepeda, agar uang naik angkot bisa aku gunakan untuk membeli kerudung baru.
Waktu itu musim penghujan. Pernah aku kelupaan tidak membawa jas hujan dan berteduh di rumah warga. Pulang sekolah dari jam satu siang akan tetapi menjelang maghrib aku belum juga kembali, akhirnya aku meminta tas plastik pada ibu pemilik rumah tempatku berteduh. Setelah kami akrab berbincang-bincang dan memberiku plastik untuk tempat tas dan sepatu, aku pun pamitan. Mendung terlihat merata, tandanya hujan masih lama.
Perjalanan yang masih kurang lima belas menit dari rumah menjadi lebih panjang karena jalanan yang semula kering menjadi becek, tanah liat yang kena air menjadi adonan lumpur yang sulit dilewati sepedaku. Saat itu buku diktat yang aku bawa begitu banyak, dan tebal-tebal. Keranjang sepeda langsung penuh oleh tas plastik berisi buku dan tas sekolah. Sepatu juga aku masukkan plastik, dan aku pegangi dengan tangan kiri. Entah karena aku kurang konsentrasi, jalan becek yang kulewati ternyata licin, mungkin juga karena ban depan yang halus dan belum diganti sama Bapak. Aku tersadar saat rokku telah robek terkena sadel yang tidak tertutup ujungnya, buku dan tas pun telah berada di atas adonan lumpur, serta sepatuku yang terlepas dari pegangan. Aku jatuh dari sepeda.
Ingin aku berteriak minta tolong tapi di jalanan itu hanya ada sawah. Rembesan air hujan yang jatuh melewati ujung jilbabku bersatu dengan air yang keluar dari mataku, terasa hangat di pipi. “Ya Allah, tolong aku…” rintihku, terasa gemertak gigiku karena kedinginan. Hari kian gelap dan aku meyegerakan diri mengambil tas dan sepatu, lalu duduk di atas sadel hingga rokku yang sobek tidak terlihat.
***
Sebulan kemudian kerudung putih baru telah menjadi milikku. Kerudung itu harganya lima belas ribu lima ratus dengan renda-renda bordir yang sewarna. Aku beli ditemani Sofie, dapat diskon karena penjaga toko tersebut tetangganya. Aku juga bisa membeli kerudung batik merah hati, kembaran dengan Sofie yang beli warna coklat. Ah… lumayan bisa buat ganti saat ada pertemuan di sekolah.
Kerudung putih yang menutupi kepalaku, aku sakralkan kerudung ini dengan senantiasa memasangmu di kepala. Perjalanan membeli kerudung ini cukup melelahkan, semoga selalu bisa menghijabi hatiku juga.
***