AWAL JADI SINEAS
Malam itu aku bersilaturahmi ke kos temanku yang menjadi tempat kosku kemudian hari. Melalui TV hitam putih sebesar 7 inci tersebut ada sutradara kenamaan Riri Riza lagi mempromosikan Eagle Awards Documentary Competition 2007, muncul juga artis Nicholas Saputra serta Mira Lesmana bertestimoni tentang film dokumenter.
Entah semangat dari mana, akan tetapi aku langsung berteriak “Aha… sepertinya aku bisa jadi sutradara tentang kisahku” Mbak Arit yang mendengarku juga menyemangatiku.
“Tuh… temanya kan Hitam Putih Indonesiaku, dihubungkan dengan pendidikan. Nah kisahku anak miskin dan menjadi TKW agar bisa kuliah dan diharapkan bisa mengentaskan kemiskinanku secara mandiri.”
“Doain ya Mbak… klo nanti tayang lagi tolong ditulis alamat web-nya” pintaku sebelum aku beranjak pergi karena buru-buru ngenet untuk mendownload formulir pendaftaran yang kurang tiga hari lagi harus dikirim. Saat itu aku nekad saja pergi ke internet tanpa tahu alamat lengkap website agar mendapatkan formulirnya.
Aku gunakan google untuk mencari eagle awards MetroTv dan akhirnya dapat. Lalu aku simpan dalam flashdisc dan kuprint terlebih dulu lalu kuisi malam itu juga dan kuketik di komputer butut punyaku, karena laptopku takterselamatkan oleh serangan virus dan saat ini entah ada di mana telah kuberikan pada adik temanku agar dipakai untuk belajar.
Esoknya, aku pun pulang ke Jombang untuk mencari tumpukan foto saat di Hong Kong. Aku membawa beberapa album ke Surabaya. Saat di Jombang aku bertanya pada tanteku yang guru bahasa Indonesia di sebuah sekolah Internasional yang ada di Jombang. Kusodorkan formulir peserta yang telah kuisi dengan kisahku. Aku menyertakan hasil riset yang kuambil dari novelku, akan tetapi telah kubukukan menjadi sebuah catatan harian, tulisan yang telah kubuat sejak kepulanganku, berasal dari kumpulan diaryku akan tetapi aku menuliskannya dalam bentuk novel agar tidak ada yang tahu kalau aku ex-TKW.
Aku mencoba mengajak temanku yang mahasiswa tulen akan tetapi tidak mau, sedang beberapa temanku lainnya sedang sibuk kerja, akhirnya aku teringat teman sefakultasku pengajar teater, Yunni. Kami bertemu besoknya, hari terakhir mengumpulkan formulir. Saat pertama bertemu pun aku kesulitan untuk bilang kalau aku ex-TKW sampai akhirnya aku suruh baca sendiri formulir proposalnya.
“Jangan ketawain, awas lho!” pintaku padanya sambil menyodorkan proposalku.
“Gini aja Mbak, Mbak cerita aja, aku dengarkan maksud film yang Mbak maui apa?” pinta Yunni sambil memegang proposalku.
“Hm… baca aja, jangan tanya po’o?” akupun menghela nafas beberapa saat sampai aku bisa bercerita.
“Ini kisahku yang pergi ke Hong Kong lalu sekarang kuliah dan tujuanku ingin lepas dari kemiskinan…” akhirnya kuceritakan apa yang ada di benakku padanya.
Kami pun berdiskusi membenahi tata bahasa yang kugunakan. “Yun, terus terang bahasaku baku dan tidak populer, aku masih belum bisa membaut tulisan yang bisa membuat pembaca ikut larut dalam emosi.”
“Wah… itu penting Mbak! Sisi dramatikanya harus kelihatan! Apa dari cerita Mbak yang membuat orang bisa bilang…’Aduh… gila arek iki, kok iso yo… dan dari kalimat itu bisa menimbulkan imajinasi bagi juri…”
Subyek film kami adalah Acik. Aku harap dari subyek Acik nanti, kita perempuan di Indonesia khususnya TKW tidak minder dengan status baru TKW ex-Hong Kong. Dengan mendaftar sebagai mahasiswa akan merenda hari esok dengan harapan baru. Cita-cita memang mebutuhkan pengorbanan dan menjadi perjalanan yang melelahkan. Tapi yang terpenting, TKW ex-HK dengan kuliah menjadi harapan baru perempuan Indonesia.
Kemiskinan memang penyakit yang mematikan. Obat mujarabnya dengan bekerja keras dan memiliki keyakinan untuk sembuh dari kemiskinan. Acik memang bukan Kartini yang melahirkan semangat emansipasi perempuan Indonesia. Just Acik, seorang perempuan Indonesia yang ingin maju dan mendapatkan pendidikan yang mencukupi tapi biaya sangat minim.
Acik berhasil mendapatkan pendidikan PGSD. Mempunyai pekerjaan yang layak setelah lulus kuliah adalah penting tapi yang lebih penting, Acik selalu berusaha menjadi perempuan Indonesia yang tangguh dan terpelajar serta memperbaiki diri setiap harinya. Setiap manusia menghadapi beribu masalah akan tetapi hidup harus terus dilanjutkan karena tidak ada yang tidak mungkin jika kita mempercayainya. Apalagi TKW mempunyai modal tabungan uang setelah kepulangan maka pendidikan bukanlah hal yang sulit sebagai pilihannya, untuk memotong jalur kemiskinan.
Jadwal Eagle Awards Documentary Competition 2007, kubuka bersama catatan kecil di diaryku.
Persiapan finalis di Jakarta dari tanggal 5 & 6 Juli 2007, Hotel Alia.
Hari ini adalah hari yang menegangkan bagiku… Ada nomor jakarta yang menghubungiku dan mengabariku kalau timku masuk 20 besar dan besok akan diadakan conference call. Aku langsung menghubungi temen timku yaitu Yunni agar mempersiapkan mental juga materi yang mungkin akan dipertanyakan oleh juri.
Yunni masih tidak mempercayai kabar dariku kalau proposal kami masuk 20 besar karena gaung dari Eagle Awards tidak terdengar di kampus kami, malahan dengan PD Yunni mengatakan kalau proposal kami masuk karena peserta yang mengikuti hanya 20 tim saja, he.. padahal kalau tahu sebenarnya, ada 293 tim se-Indonesia. Kalau tahu jumlah tersebut mungkin mental kami tidak se-PD saat itu. Aku menunggu telepon dari pihak In-Docs dengan juri-juri yang telah dipersiapkan, kami menunggu dari jam 14.00 s.d 17.00 telepon rumah Yunni tidak juga berdering, sampai akhirnya kuputuskan untuk menelpon ke nomor Jakarta tersebut. Mbak bernama Atit mengatakan kalau tim kami akan ditelepon besok karena ternyata butuh waktu yang agak panjang untuk menanyai masing-masing tim.
Akupun pulang ke Jombang naik bus, di tengah perjalanan ada nomor dari Jakarta yang aku simpan dengan nama in-docs itu telepon lagi dan mengatakan akan telepon untuk penjurian malam ini. Aku kaget banget, badanku panas dingin, nafasku mulai pendek… waduh aku stress… aku harus ngomong apaan.
Sesampai di rumah aku langsung berjaga-jaga di depan telepon rumah dan menyiapkan materi, kuletakkan dengan rapi tulisan-tulisanku agar bisa mudah kuambil saat aku perlukan. Telepon akhirnya berdering… dan selama 25 menit aku ditelepon tentang kedalaman penguasaan materi. Bahan-bahan yang kupersiapkan di depanku ternyata tidak berguna karena aku harus konsentrasi mendengarkan pertanyaan dari juri dan menjawabnya semampuku. Sepuluh menit kemudian in-docs telepon lagi dan menanyakan padaku gimana kalau aku mengganti subyek, subyek sebelumnya adalah aku sendiri, juri menyuruhku meminta persetujuan temanku yang juga menginvestasikan hasil kerjanya dari bekerja di luar negeri untuk kuliah. Karena akan kesulitan di lapangan jika pembuat film pemula sekaligus menjadi pemain. Aku pun menyerah terhadap keinginan juri karena pengetahuanku sangat minim, Bismillah kuterima tawarannya agar mengganti subyek bukan karena aku tidak bisa mempertahankan ide proposalku tapi karena alasan yang diberikan juri padaku masuk akal, yaitu aku akan kesulitan jika jadi sutradara sekaligus pemain. Oleh juri, timku diputuskan masuk sepuluh besar dan harus mengikuti pitching forum di Jakarta.
Aha… ini kali pertama aku kembali ke bandara Soekarno-Hatta, jika saat yang lalu aku ke sana untuk menjadi helper maka saat ini aku menjadi semifinalis untuk mengikuti Pitcing Forum.
Setelah nyampai tanggal 6 Juli, aku mengikuti briefing tutor oleh Pak Lianto Luseno dan Produser oleh Bu Shanty Harmayn. Peristiwa mendebarkan… pitching forum oleh lima juri diantaranya Prof Imam B Prasodjo, Pak Abduh Aziz, R. Shanty Ruwyastuti (Produser Eksekutif Metro TV), Joko Anwar juga Tino Saroengallo (Pembuat Film Dokumenter).
Kami sengaja membagi tugas, sebagai satu tim kami berkomitmen untuk saling mendukung. Aku yang persiapkan slide yang akan dipresentasikan dan Yunni yang mempresentasikan. Kami diberi waktu 10 menit, 2 menit untuk presentasi dan 8 menit untuk menjawab pertanyaan dari juri. Waktu terasa sangat lambat berjalan, jantungku dag dig dug karena aku nervous jika berhadapan dengan kamera…
Rahma Sarita mengumumkan “Helper Hong Kong Ngampus” sebagai finalis… Wow, amazing… its real, i’m not dreaming…
8 s.d 10 Juli 2007 memasuki development lab dan tutorial tahap 1, di hotel Garden Menteng.
Di sini kami diajari cara menuliskan ide cerita dengan singkat dan jelas serta membahas tentang film statement serta mulai memikirkan tentang alur cerita film kami. Aku menikmati pekerjaan baruku menggodog ide cerita sampai nantinya bisa menjadi film dokumenter. Sering aku tidur menjelang pagi karena berusaha sebaik mungkin mengerjakan apa yang seharusnya kami kerjakan, yaitu PR yang diberikan oleh tutor kami. Kami pun diberi penyelia produksi yaitu Pak Abduh Aziz.
Di akhir pertemuan kami pun diminta membuat proposal budget untuk riset lokasi.
12 s.d 20 Juli 2007 saat riset lokasi di Jombang, Malang dan Surabaya
Di Jombang , aku harus membawa Yunni untuk menjalin komunikasi dengan subyek kami. Subyek memang dekat denganku karena Acik adalah temanku sewaktu SD dan SMP sedangkan Subi adalah ipar sepupuku. Kami mencoba mewawancarai Acik dan Subi, segala hal tentang kehidupan mereka, meminta foto-foto mereka sewaktu di Hong Kong. Dan kami pun harus mengirimkan laporan perbaikan alur cerita pada pihak panitia (in-docs)
22 s.d 25 Juli 2007 kami kembali ke Jakarta, Development Lab & tutorial tahap 2
Hotel Formule 1 dekat taman Menteng… itulah tempat persinggahan kami satu malam, sambil menyelesaikan laporan pertanggungjawaban saat riset lokasi. Besoknya kami pindah ke Hotel Harris… mewah banget, suasana kamar yang disediakan, ada tungku aroma terapi membuat tubuhku ingin tidur… tapi hari ini akan dimulai pelajarannya lagi. Kami diminta membuat alur cerita yang lebih matang, membahasa visualkan semua yang ada dalam tulisan dan cerita. Selalu saja penyelia produksi menanyakan “Kalimat ini kalau divisualkan gimana?” ya karena yang kami kerjakan bukanlah membuat novel atau cerpen, tapi dari kata-kata diubah menjadi bahasa visual. Tugas selanjutnya membuat shot list sampai akhirnya membuat shooting schedule.
Di hari terakhir, kami diminta membuat proposal budget untuk shooting. Juga camera person pun diperkenalkan pada kami beserta editornya. Camera person yang mendampingi timku adalah Pak Shamir sedangkan Editornya adalah Om Herman. Dari awal Pak Shamir menanamkan pelajaran berharga bagi kami “Kita satu tim harus mempunyai konsep yang sama, minimal menyamakan sebelum masuk produksi, kalau saja ada benturan konsep maka akan mempersulit produksi.” Kami mengiyakan, juga sebelum pulang untuk produksi kami juga bincang-bincang dengan editor film Helper yaitu Om Herman, kupikir dia sudah paham dengan konsep kami karena tak ada pertanyaan saat diskusi jadi kami tenang.
27 Juli s.d 31 Juli 2007 Jombang, Surabaya, Malang
Kami pun harus melakukan recce atau riset visual ke lapangan. Memastikan mendapatkan izin dari kampus yang menjadi tempat lokasi shooting yaitu UIN Malang, kemudian persetujuan dari subyek dengan meminta mereka menandatangani surat yang telah disediaka oleh panitia (in-docs) juga ke PJTKI. Karena di PJTKI sulit mendapatkan izin makanya kami berbagi tugas, Yunni di Surabaya dan Ani di Jombang. Kami diuntungkan dengan pemberitaan dari Jawa Pos, yang akhirnya ada salah satu PJTKI yang dengan senang hati membantu dan mau dijadikan tempat shooting.
2 s.d 11 Agustus 2007 Time to Shooting
Pagi-pagi kami bersama mobil yang dikemudikan Cak Im menuju bandara Juanda, kami menjemput penyelia produksi dan Camera Person. Pak Abduh dan Pak Shamir telah datang, bersama mereka ada Pak Lianto dan Mas Arja yang membantu tim Gubug. Ngopi dulu di cafe bandara, he… yang bayar Pak Abduh, makasih ya Pak.
Selama lima hari kami di Jombang, menginap di hotel Kartika Santoso, sebelum pergi ke lokasi shooting sehari itu kami buat untuk berdiskusi, menyamakan visi dan kira-kira apa saja yang ingin diambil dan informasi apa yang ingin didapat dari subyek kami, proses ini kami sebut pencapaian ‘chemistry’ atau dalam psikologi ‘insight’. Malam itu juga kami ke rumah subyek untuk berkenalan dan memberitahukan bahwa esok hari akan mulai dilakukan shooting. Shooting dari pagi hingga malam baru balik ke hotel, kemudian di malam harinya kami harus melakukan logging (penulisan time in & out dari masing-masing shot).
Saat di lapangan karena tim sutradara terdiri dari dua orang, aku dan Yunni maka sedari awal kami harus bagi tugas. Aku kebagian bekerja bareng Pak Shamir selalu melihat ke layar kamera, membuat keputusan apakah gambar yang diinginkan sudah terambil atau belum serta melakukan wawancara pada subyek sedangkan Yunni mengurus akomodasi… Akan tetapi saat logging malam hari kami kerjakan bersama dan shooting shedule kami diskusikan bersama, pembagian kerja terjadi hanya pada saat shooting di lapangan.
Saat itu Pak Shamir bilang “Saat di lapangan saya tidak bisa menerima komando dari dua orang, jadi harus bagi tugas, satu standby dekat kamera dan satu ngurus akomodasi.”
Pernah, hari ke empat proses logging malam hari, sedangkan shooting dilakukan sehabis subuh karena kami mengejar matahari terbit dan aktivitas di sawah dan selesai menjelang maghrib, setelah tiga malam berturut-turut tidur hanya beberapa jam saja, pulang shooting kami tidak kuat dan tidur dulu beberapa jam sehingga proses logging dilakukan lebih malam.
Juga saat kami harus mengambil proses keberangkatan helper di bandara Juanda dengan dibantu oleh direktur salah satu PJTKI agar kami bisa menjadi visitor (kegiatan ini kalau kita tidak punya lobi dengan pihak bandara maka yang terjadi birokrasi bandara sangat rumit), shooting baru selesai dan tiba di hotel jam dua-an. Aku yang mempunyai jam tidur paling malam jam 11 malam harus begadang bahkan saat harus makan malam aku lebih memilih tinggal di mobil.
Ada sosok mengagumkan yang mengajariku hal baru yang tidak pernah kupunya sebelumnya, ada Pak Abduh, Pak Shamir, Pak Fajrian dan panitia In-docs. Mereka mengajariku tentang asertifitas… ketegasan dalam berperilaku. Dalam proses produksi, aku yang masih pemula kadang-kadang sungkan untuk meminta mengambil gambar pada camera person yang sudah profesional, akan tetapi aku dipaksa untuk tegas, tegas dan tegas dengan pendapat dan keputusanku, pun saat di meja editing, kita harus mempertahankan pendapat kita karena itu adalah film kita, penyelia produksi hanya sebagai penasehat saja. Ya, ketegasan yang bisa dipertanggungjawabkan.
“Pak saya ingin mengambil stock gambar rumah-rumah para TKW yang kebanyakan berciri sama yaitu dinding rumahnya menggunakan porcelain.” ucapku pada Pak Abduh minta pendapat Beliau.
“Iya, kamu bilang dong sama Cak Im.” Jawabnya kemudian.
“Oke… kita mulai ambil shoot di atas mobil mulai dari sini Pak.” Pintaku pada Pak Shamir.
“Benar dari sini.” Tanya Pak Abduh lagi.
“I… Iya…”jawabku
“Jangan ragu-ragu dong, kamu yang buat film ini, nah kami ini hanya nurut sama keinginan kamu, jangan sampai takut memintanya, terus nanti kamu menyesal karena ternyata gambar itu kamu butuhkan.” Nasehat dari Pak Abduh kuiyakan.
Kendala di lapangan pasti ada akan tetapi yang selalu kami lakukan adalah mencari solusi dan tidak lagi mencari siapa yang salah. Bahkan saat shooting schedule kami hilang karena flashdisc pecah, kami membawa shooting schedule yang belum di up date, akan tetapi selalu kami perbaiki apa saja yang harus diambil.
Selanjutnya kami menuju Malang untuk shooting di kampus subyek. Kami tinggal di wisma Asri bersama subyek kami. Di Malang, semua berjalan dengan lancar dengan tetap tidak tidur sampai larut karena kami harus melakukan logging malam itu juga dari kaset yang telah terpakai untuk shooting.
Pak Abduh hari ini akan kembali ke Jakarta dan kami hanya didampingi oleh Camera Person, Pak Shamir. Awalnya kami takut dengan Pak Shamir, tapi karena beliau wellcome banget untuk share ilmu dan bercerita panjang dan lebar tentang kehidupannya, teman-temannya, istrinya juga anaknya. Ada banyak cerita lucu, apalagi Yunni yang nanggapin malah pembicaraan jadi seru, aku hanya urun ketawa ha ha hi hi… begitu juga dengan Pak Abduh, wah kapan ya ada proyek buat film bersama lagi? Rame…
Dua hari terakhir kami shooting di Surabaya, kami mengambil PT Assanatama Karya Mandiri sebagai tempat shooting kami. Dengan bantuan direkturnya, Pak Welem kami mendapatkan izin menjadi visitor untuk ngambil gambar mulai dari TKW masuk boarding hingga departed. Persoalan izin masuk tersebut bukanlah hal yang mudah, tapi selalu ada jalan bagi yang berusaha.
Malamnya, kami merekam semua wawancara untuk keperluan transcript di microcassette. Hari terakhir kami ke RRI karena Yunni anggota ludruk RRI jadi kami agak mudah meminta para penabuh membuatkan musik bagi film kami. Sorenya kami mengantar Pak Shamir ke Juanda dan aku harus mengantar Acik sampai ke Jombang.
12 s.d 19 Agustus 2007
Di Kosku, Waktunya finalisasi logging dan transcripting, ternyata ada kendala teknis… sampai hari terakhir VHS dan playernya belum datang dari Jakarta, itu artinya kami tidak bisa melakukan transcripting dari wawancara. Akan tetapi syukurlah wawancara telah direkam dan aku telah menuliskannya, walaupun karenanya aku tidak tidur selama tiga hari, awalnya sebagai jaga-jaga tetapi selanjutnya malah sebagai penolong kami.
21 Agustus s.d 5 September 2007
Kemang Residence… saksi bisu tempat kami menggodong editing script. Selama dua hari setelah mendapatkan kelas editing script kami diharuskan menyelesaikan. Alhamdulillah kami bisa tepat waktu.
Ada keluhan merasa kebebasannya terkurung, dengan mengikuti Eagle Awards maka hilanglah masa muda karena jadwal kerja yang membuat orang tertekan, akhirnya pertanyaan dari Mas Wisnu salah satu panitia terlontar juga kepadaku, menanyakan hal yang sama.. Jujur, masa mudaku hilang bukan saat Eagle Awards, mungkin karena aku suka kerja keras dan menikmati apa yang ada dihadapanku, masa remajaku hilang saat aku bekerja di Hong Kong. Di saat usiaku 19 tahun wajahku seperti sudah berusia 25 tahun, karena banyak hal yang harus aku tanggung dan kupikirkan.
Saat di meja editing, kita harus punya persiapan mental baja karena bekerjasama dengan orang lain itu artinya ada konsekuensi yang harus kita hadapi. Mungkin saja berbeda visi dan misi, kalau pada saat di lapangan kami bisa menyamakan visi dengan Pak Abduh dan Pak Shamir, akan tetapi kita harus memulai lagi untuk menyamakan visi dengan Om Herman, editor film kami. Kupikir dari saat di hotel Harris pertama kali kami diskusi Om Herman sudah paham dengan konsep yang kami ajukan karena tidak ada pertanyaan, ternyata belum. Melalui perdebatan yang panjang dan sengit akhirnya Om Herman paham dengan film yang kita inginkan.
Di hari kedua editing, aku dan Tedi harus ke MetroTV untuk mengambil footage tentang Hong Kong karena video yang dikirim Heni, temenku yang di Hong Kong tidak bisa di-convert karena alasan beda region yang satu pake NTSC sedang di Indonesia pake PAL, juga karena resolusinya rendah karena dia memakai kamera digital, jadi untuk standart Metro TV gambar yang dihasilkan pecah.
“Benar, footage yang kalian butuhkan hanya ini, jangan sampai besok minta lagi ya! Karena bagian library sangat sibuk dan perizinannya rumit.” ucap Pak Rian menanyaiku dan Tedi.
Aku dan Tedi mengangguk mengiyakan, footage yang kami butuhkan sudah cukup. Kami pun menyerahkan tulisan time code beserta judul kaset dari gambar yang kami butuhkan.
Saat pulang dari mengambil footage, bertiga kami naik taxi. Aku duduk di samping sopir sedangkan Tedi dan Pak Rian asyik ngobrol di kursi belakang. Dari obrolan ringan tersebut aku pun ikut nimbrung, tapi aku lebih banyak mendengarkan pembicaraan mereka seputar alumni Eagle dua tahun lalu yang banyak berhasil sampai dengan kita harus mempertahankan kreatifitas kita, kalau menyangkut kreatifitas tidak ada yang bisa mengganggu gugat. Aku mengartikannya juga editor pun harusnya mendengarkan apa yang sutradara inginkan saat editing.
Dari bangku belakang taxi ada yang menyodoriku sebatang coklat putih, hm… kuambil dua kotak. Sambil menikmati sensasi coklat yang membuat pembuluh darahku melebar dan rilex serta mendengar pembincangan temanku dan coordinator Eagle, sekilas teringat coklat pemberian Leung sang oleh-oleh dari Inggris, sekotak coklat yang harganya beberapa puluh poundsterling, mahal! Sebenarnya aku tidak terlalu suka coklat karena aku tidak biasa memakannya, dan di Hong Kong pengalaman pertamaku makan coklat, coklat Hong Kong bermerek Ferrero Rocher yang sering diberikan Leung Thai kepadaku, atau Po Shan yang juga memberikan beberapa toples kecil macam-macam coklat kotak yang dia beli saat di Frankfurt. Coklat yang dulu makanan langka bagiku, kini saat memakannya aku tak lagi terkaget-kaget dengan sensasi rasanya dan sensasi rasa penasaran “Gimana sih rasanya coklat mahal? Aku belum pernah memakannya karena aku tidak punya uang untuk membelinya.”
Setelah 4 hari di meja editing, saatnya presentasi rought cut 1. Tiga hari kemudian presentasi offline, film kami dibedah oleh kelima penyelia produksi. Pak Lianto bilang musik kami terlalu mengiris hati, diharapkan lebih dinamis. Lalu beberapa komentar lagi dari penyelia produksi lainnya.
Di hari terakhir editing menurutku hari yang melegakan sekaligus hari yang kurindukan. Melegakan karena aku dan timku berhasil menghasilkan sebuah karya, yang bagiku kalau film ini diizinkan diputar secara berkala di beberapa KJRI lalu mengumpulkan para helper untuk nonton bersama mungkin akan lebih efektif, kampanye agar helper punya visi yang jelas, agar helper investasi hasil kerjanya di pendidikan agar jalur kemiskinan di hidupnya bisa terputus atau menjadi tontonan wajib bagi calon TKW yang berada di PJTKI yang akan diberangkatkan.
Saat yang kurindukan, karena aku kurang tidur, karena aku menggunakan intelektualku dalam mengerjakan film ini. Bisa dibayangkan dari 20 kaset miniDV berdurasi satu jam per kaset tapi kami hanya menggunakannya dalam film berdurasi 15 menit. Aku sangat menikmati saat harus menyusun editing script dan kadang semalaman menulis di depan laptop, dan jiwaku tak lelah karena kurang tidur, ya karena pekerjaan seperti inilah kira-kira yang aku sukai.
Dari Eagle akupun belajar berbicara di depan umum, public speaking-ku yang sebelumnya buruk. Debutku saat ikut pitching forum, itupun menjawab pertanyaan juri sedang yang bagian presentasi adalah Yunni. Saat kedua, talkshow live MetroTv di acara Breakfast club. Saat Pak Rian menghubungiku aku malah bilang “Waduh kenapa harus kelompokku yang talkshow?”
“Bukannya ini kesempatan yang baik untuk mempromosikan ke khalayak ramai, harusnya kamu senang dunk!” jawab coordinator Eagle Awards itu.
“Gitu ya? Aku harus bicarain dengan Yunni tapi sekarang karena editing libur jadi dia lagi tidak sama aku tapi keluar bareng teman-teman. Gimana ya, aku takut banget di hadapan kamera”
“Iya… kamu dan Yunni punya kelebihan masing-masing. Klo Yunni karena dia pemain ludruk jadi mentalnya bagus, klo kamu karena konsep itu telah kamu kuasai jadi akan lebih mudah bicaranya…”
“Trus gimana ya? Aku atau Yunni?” jawabku masih ragu-ragu.
“Ya udah tak kasih waktu sepuluh menit untuk memikirkannya… kalau perlu istikharah… sepuluh menit lagi kutelpon.”
Akhirnya aku yang maju mengikuti talkshow besoknya dengan tim Jakarta dan dengan ancaman “Awas sudah kucatat besok tidak boleh berubah minta diganti Yunni.”
Pagi banget jam enam mobil jemputan MetroTV datang. Akupun telah siap dengan memakai rok pink dan lengan panjang kotak-kotak berbahan dasar hijau muda, berkerudung krem. Tak lupa kubawa kaos hitam seragam Eagle Awards. Tak sadar bajuku ternyata warnanya tabrakan dan mungkin karena aku terbiasa pakai baju seadanya dan tidak memikirkan match atau tidak juga bukan pemuja ‘matching’ jadinya kelak saat di MetroTV aku kena omelan dari coordinator Eagle. Ya, kadang saat kita tampil di depan publik bukan hanya membawa nama diri tapi juga instansi yang menaungi kita. Setelahnya aku mulai belajar gimana berpakaian yang rada serasi.
Semobil bersama Jastis. Aku duduk di samping Pak Sopir. Sepanjang jalan ngobrol tentang pengalaman shooting sambil badanku semakin panas, demam rasanya.
“Tis, kira-kira tanya apaan ya? Rasanya aku nervous deh…”
“Biasa sajalah Mbak, paling tanya tentang proses produksi kemarin”
“Yunni tuh kemarin katanya mau melatihku wawancara gitu, tapi gak jadi karena ngantuk tadi malam…”
Akupun memandang tiap sudut Jakarta, aku tidak membayangkan berada di dalam mobil menuju stasiun televisi nasional yang akan mengadakan talkshow live. Bahkan saat jadi mahasiswa dan diminta berbicara aku lebih baik keliling lapangan daripada harus ngomong pendapatku. Dalam hati aku berdoa
“lancarkan ucapanku Ya Allah agar orang bisa paham yang kumaksud dan membawa manfaat bagi yang mendengar maupun yang melihat… Amin.”
Saat tiba di MetroTV kami langsung diminta untuk sarapan lalu dibawa ke ruang make up.
“Mbak tolong jangan terlalu tebal yah bedak dan lipstiknya…” pintaku pada Mbak yang meriasku.
Moza sang presenter mendengarkan ucapanku “Yah… dikit aja kok di-touch up kalau tidak, nanti di depan kamera pasti kamu terlihat seperti orang habis bangun tidur, pucat!”
Kata Yunni sudah beberapa kali aku di meja rias dan dimarahi Mbak yang meriasku. Karena aku terlalu cerewet, tolong jangan pakai ini… tolong jangan digitukan… sebenarnya simple kok, bulu mataku tak ingin ditambahi, berat pakai bulu mata palsu dan make up mataku jangan terlalu tebal, karena mataku dah indah dari sononya he, narsis…
Ada undangan makan siang sebelum awarding night oleh jajaran sponsor Eagle Awards dari Medco Energi. Di Graha Niaga kami makan bersama antara direksi Metro TV dengan pihak Medco Energi. Saat itu aku satu meja dengan Bu Yani Panigoro, commissioner Medco Energi. Beliau menanyaiku tentang judul film dan ceritanya gimana bisa masuk finalis. Kuceritakan singkatnya dan beliau tertarik menanyaiku tentang pengalaman pribadiku yang juga pernah jadi helper “Saya salut sama kamu mampu investasi di pendidikan…”ucapnya yang menyemangatiku.
Sesaat kemudian kami satu persatu diminta memperkenalkan diri dan tiba giliranku.
“Nama saya Ani Ema Susanti dari Surabaya, film kami Helper Hong Kong Ngampus.”
Terlihat ada yang tidak mengerti dengan judul film yang barusan kusebut, Pak Andy F Noya pun urun rembug membantu “Ya… ini ceritanya helper atau TKW yang kuliah.”
“Dan Ani ini dulunya jadi helper dan sekarang kuliah…” Bu Yani menyahuti sambil applause terdengar di telingaku.
“Terima kasih” ucapku sambil menganggukkan kepala.
Mbak Kiun sang Manager EA dari MetroTV saat aku dan teman-teman fitting baju buat awards night bilang “Kalian ini anak daerah kecil-kecil ya?”
“Eh… tapi jangan remehkan, kecil tapi dah pernah ke Hong Kong lho…” lanjutnya
Aku baru sadar kalau itu barusan lagi ngomongin aku tho? Karena dari keempat finalis perempuan, tinggi kami hampir sama.
Selesai malam Awards kami bisa bertemu dengan juri final Riri Riza dan Niniek L Karim. Riri bilang “Film kamu bagus, sangat dekat dengan kehidupan kita sehari hari.”
Sedangkan Niniek L Karim yang notabenenya aktris senior dan dosen Psikologi Sosial UI bilang “Saya merasa trenyuh saat liat film kamu.”
Banyak pelajaran yang kudapat lewat Eagle Awards. Menjadi finalis lima besar, mengikuti workshop di Jakarta sampai masuk produksi (shooting), kemudian masuk editing film yang menghabiskan ratusan juta tersebut, hingga sekarang ditayangkan di Metro TV.
Alhamdulillah, syukur yang tiada tara… sampai hari ini sudah ada tiga orang yang menghubungiku dan berkomitmen akan invest di bidang pendidikan setelah kepulangan temanku yang saat ini menjadi helper di Hong Kong. Ada beberapa sms yang menyayangkan film kami tidak mendapatkan awards. Secara pribadi, aku meminta maaf karena tidak bisa mempersembahkan piala untuk rekan-rekanku sesama helper, akan tetapi aku telah persembahkan sebuah karya yang jika tanpa bantuan ajang Eagle Awards ini, ideku nggak mungkin bisa difilmkan (mengingat budget yang dibutuhkan untuk produksi sebuah film sangat besar).
Kemenangan dan keberhasilan yang hakiki bagiku, saat rekan-rekan helper di seluruh negeri mampu menerima pesan dari film ini, dan terjadi learning process yang mengubah cara berpikir sampai mengubah perilaku. Aku membayangkan, jika satu saja helper yang kemudian invest di dunia pendidikan setelah menonton film “Helper HK Ngampus” maka di sini, melalui film yang berdurasi 16 menit ini, telah menyelamatkan satu harapan dan cita-cita dari seseorang. Kebahagiaan yang begitu besar saat apa yang kita inginkan bisa terlaksana, begitu juga saat tujuan dari pembuatan film ini terlaksana. Menyelamatkan harapan dan cita-cita helper, mendapatkan hidup lebih layak melalui jalur pendidikan.
***