PROYEK ‘TKI’–Tenaga Kerja Intelektual
Jam kuliah yang aku tunggu-tunggu telah tiba. Kulihat jadwal mata kuliah yang kuambil di semester satu ini: Pendidikan Pancasila, Agama, IAD, Filsafat Umum, Statistik I, Antropobiologi, Sosiologi, dan Psikologi Umum.
Kumasuki kelas Psikologi Umum, Bu Nen Psikolog lulusan UGM itu mengajar kami. Sejarah tentang Psikologi pun diterangkan, aku menyimaknya baik-baik. Dulu Psikologi merupakan bagian dari Filsafat akan tetapi karena spesifikasinya yang lebih mempelajari perilaku manusia maka memisahkan diri menjadi kajian ilmu tersendiri. Aku hanya senyum simpul saat mendengar kata Filsafat, teringat saat di Hong Kong Public Library, saat itu aku tidak tahu menahu tentang filsafat dan sekarang aku bahkan memasuki bagian dari ilmu itu.
Keingin tahuanku begitu besar, mengapa Rei menyarankan baca buku Filsafat waktu itu. Apa karena waktu itu dia menjadi tenaga kerja intelektual, yang selalu membutuhkan proses berpikir. Sebelumnya yang kutahu psikologi hanya mempelajari ilmu yang berhubungan dengan sakit jiwa, kenyataannya cakupannya cukup luas, mulai dari psikologi industri, perkembangan, sosial, politik, forensik dan klinis.
Siangnya aku pun memasuki kelas filsafat umum. Yang mendorong seseorang untuk berfilsafat adalah karena merasa keheranan (oleh Plato), keraguan (oleh Rene Descartes) dan kesadaran akan keterbatasan manusia.
Aku menerima begitu saja pelajaran dari dosenku tanpa mau mengajak mereka diskusi apalagi untuk bertanya. Aku pendiam. Kurasa aku tak perlu berbicara karena jika aku bertanya aku takut diperhatikan oleh seisi kelas dan aku juga takut akan ada yang mengetahui aku pernah menjadi TKW, aku diam karena tak ingin ada yang mengusik hidupku.
Saat keluar dari kelas kulihat ada pengumuman lomba penulisan esai yang diadakan oleh fakultas Psikologi Universitas Indonesia dengan tema manajemen konflik pribadi perspektif Islam. Akupun langsung ke perpustakaan dan mencari beberapa buku ke toko buku sebagai kajian pustakaku nanti serta meminjam buku di teman kontrakanku.
Saat itu aku menuliskan draftnya di kertas, sebelumnya kutulis outline-nya dulu, apa-apa yang harus dibahas. Kali ini aku tidak berani untuk berdiskusi dengan dosenku sebagai pembimbing, karena konflik pribadi yang kuangkat adalah konflik saat aku menjadi TKW dulu. Sudah dari awal identitasku yang satu itu tidak ingin diketahui oleh orang lain, karena aku takut dipandang sebelah mata oleh orang di sekitarku. Beberapa malam aku berkutat dengan buku dan laptop IBM pentium dua yang sengaja kubeli agar aku serius jadi penulis.
Berikut kusertakan tulisanku itu judulnya:
“Konflik Pribadi Menjadi TKW Hong Kong”
Konflik terjadi karena motif atau keinginan yang bertentangan. Kita harus memilih antara tujuan dan tindakan yang tidak sejalan atau bertentangan. Menurut pendekatan Psikodinamika dikemukakan perilaku manusia ditentukan oleh impuls-impuls, needs (kebutuhan), motives (motif-motif) dan konflik yang terjadi pada diri individu dan sering kali di luar kesadaran. Macam-macam konflik yang ada antara lain avoidance-avoidance conflict (konflik yang disebabkan oleh satu permasalah yang disuka dan tidak disuka), approach-approach conflict (konflik yang disebabkan oleh dua permasalahan yang sama-sama disuka) dan avoidance-approach confict (konflik yang disebabkan oleh dua permasalahan yang tidak disuka).
Dalam hal ini konflik yang saya alami merupakan bagian dari avoidance-approach conflict, dua permasalahan tidak disuka yaitu permasalahan saat keluarga saya bangkrut sehingga saat saya harus pergi mencari uang dengan menjadi TKW dan keinginan untuk tetap menjalankan syariat Islam. Sehingga reaksi yang terjadi dengan munculnya konflik tersebut berupa kecemasan.
Secara rinci akan saya jelaskan sebagai berikut, semenjak tahun 1996 s.d 1997 pekerjaan Bapak sebagai petani mengalami kegagalan panen. Sehingga Bapak memutuskan untuk menyewa sawah tersebut dan meminjam uang di bank dengan jaminan sertifikat tanah yang digunakan sebagai tambahan modal dagang barang-barang elektronik. Di saat bersamaan krisis moneter melanda Indonesia, banyak industri di Indonesia yang gulung tikar apalagi seorang pedagang kecil seperti Bapak, juga terkena imbasnya. Dengan sistem pembayaran pelanggan secara kredit/menyicil maka modal tidak langsung kembali, sedangkan harga barang di pasar terus naik jadi jangankan memikirkan untung, untuk mengembalikan modal saja sangat sulit. Biaya hidup semakin tinggi dan tidak ada pemasukan sama sekali. Untuk bertahan hidup kami mencoba berjualan makanan kecil seperti kerupuk, kacang goreng, keripik pisang yang disetorkan ke warung-warung.
Di akhir tahun 1999, Bapak sudah tidak bisa menyetorkan sejumlah uang sebagai angsuran ke bank. Sawah masih disewakan dan keluarga tidak punya uang untuk menebusnya maka Bapak dan Ibu terjun ke sawah sebagai buruh tani. Waktu itu saya kelas tiga SMA di kota dengan biaya kebanyakan dari beasiswa.
Sewaktu kelulusan SMA keinginan melanjutkan kuliah sangat tinggi karena nilai saya memenuhi untuk daftar di sekolah kedinasan maka saya mencoba mendaftar menggunakan uang sisa hasil beasiswa. Dengan harapan selepas sekolah langsung penempatan kerja. Tapi saya tidak diterima di sana.
Usaha untuk mencari kerja di dalam negeri sudah saya lakukan. Hampir selama satu tahun berganti tempat kerja mulai dari Surabaya, Gresik, Sidoarjo. Tapi tidak ada pekerjaan yang membiarkan saya lama bekerja di sana karena menggunakan sistem kontrak. Dari kerja tersebut hasilnya pas-pasan, cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup saja. Sebagai anak tertua dan sudah lulus SMA, walaupun tidak diminta orang tua tapi tanggung jawab untuk membantu mereka ada tapi tidak ada penyelesaiannya.
Dengan motivasi bisa membatu orang tua dan melanjutkan kuliah, ada pikiran untuk kerja keluar negeri sebagai domestic helper/TKW. Walaupun ada pertentangan dengan keinginan tersebut dengan keinginan bisa menjalankan syariat Islam dengan mudah karena berada di lingkungan sendiri. Menjadi helper saya anggap sebagai solusi yang telah saya pertimbangkan dengan matang akibat yang mungkin akan saya terima, termasuk harus melepaskan jilbab saya.
Kehidupan ini memang tidak statis akan tetapi terus bergerak, terkadang senang dan di waktu lain susah. Sekarang sehat dan di lain waktu sakit, serta di suatu waktu mendapat kemudahan mendapatkan rezeki dan di lain waktu sulit diperoleh walaupun sudah gigih berusaha. Musibah yang datang berupa gagal panen serta kerugian dagang memang harus dipahami sebagai ujian karena selama ini saya telah berusaha semampu saya untuk menjalankan aturan Allah. Sehingga kesulitan tersebut saya pandang sebagai bentuk ujian dan Allah sendiri akan menimpakan ujian sesuai dengan kadar kemampuan hambaNya.
Seperti termaktub dalam Al-Baqarah ayat 286 :
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusakannya dan ia mendapat siksa dari kejahatan yang ia kerjakan. (Mereka berdoa): Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”
Hal yang paling mendasar di setiap langkah yang saya ambil adalah berusaha melibatkan Allah di setiap memutuskan segala sesuatu, yaitu dengan istikharah karena saya yakin Allah saja yang paling tahu kondisi terbaik hambaNya. Menurut Yusuf Qardhawi dalam fiqih prioritas disebutkan jika dalam persoalan agama dikatakan lebih penting mendahulukan ilmu daripada amal maka Beliau menekankan pentingnya hal itu dalam persoalan dunia. Lebih jauh lagi Beliau mengatakan bahwa kita hidup pada zaman yang mendasarkan segala sesuatu pada ilmu pengetahuan, karenanya segala persoalan hidup tidak bisa dilakukan tanpa adanya suatu perencanaan. Sebelum mengerjakan segala sesuatu, seseorang dituntut agar mengadakan studi lapangan, mengadakan perencanaan yang matang dan mengadakan perhitungan serta observasi yang akurat. Penelitian dan perencanaan sebelum menangani suatu pekerjaan merupakan ajaran penting dalam Islam. Rasulullah saw adalah orang yang pertama kali memerintahkan penelitian secara sistematis terhadap orang yang beriman kepadanya setelah hijrah ke Madinah.
Saat sebelum mendaftar sebagai TKW, saya telah membuat daftar keuntungan dan kerugian jika saya pergi ke luar negeri. Keuntungan yang saya peroleh dengan menjadi TKW adalah bekerja dengan penghasilan yang besar untuk ukuran lulusan SMA, maka diperkirakan dengan mudah bisa membantu memperbaiki perekonomian keluarga, juga biaya sekolah adik bisa lancar. Ada harapan bisa melanjutkan kuliah karena sudah tidak bisa mengikuti SPMB maka mengambil kuliah di PTS. Kerugiannya adalah harus melepas kerudung, akan tetapi kondisi ini juga terjadi saat saya bekerja di pabrik karena harus melepaskan kerudung juga. Sehingga reaksi yang terjadi dengan munculnya konflik yang sama-sama tidak saya sukai tersebut berupa kecemasan. Bekerja ke luar negeri membuat hati gelisah dan cemas karena masalahnya tidak sesederhana melepas jilbab saja. Masalah yang utama saat itu adalah kecemasan akan dosa melanggar syariat, sebagai wanita muslimah pergi bekerja di sebuah negeri yang mayoritas masyaraktnya bukan muslim. Tapi memang negara tidak bisa menghidupi kami para orang miskin sehingga kami terbelit hutang tanpa keringanan. Jadi yang saya lakukan pada dasarnya adalah bentuk penyelesaian saya sebagai muslimah yang ingin keluar dari kemiskinan, karena pemerintah belum mampu memberikan kesejahteraan bagi warganya.
Menurut ulama’ fiqh bahwa kita harus mendahulukan untuk menghindari mudharat daripada mengambil manfaat, asumsinya jika banyak manfaat daripada mudharat maka tindakan itulah yang harus dilakukan. Bekerja ke Hong Kong adalah usaha saya agar nantinya setelah dua tahun bisa semaksimal mungkin untuk tunduk pada aturan Allah dan rasulNya. Jika saat memutuskan ke Hong Kong secara terpaksa ada aturan-aturan Allah yang dilanggar (yang tidak prinsipil tentunya), semoga cepat diberi rezeki yang dibutuhkan dan bisa segera pulang ke Indonesia.
Selanjutnya menurut Yusuf Qardhawi, fardhu ‘ain yang berhubungan dengan hak Allah semata dapat ditolerir pelaksanaannya, berbeda dengan fardhu ‘ain yang berhubungan dengan hak-hak manusia. Para ulama’ berpendapat “sesungguhya hak-hak Allah dibangun atas dasar toleransi, sementara hak-hak manusia dibangun atas dasar kepastian (ketat).” Oleh karenanya jika menutup aurat itu wajib dan membayar hutang itu juga wajib maka membayar hutang harus didahulukan.
Sebelum berangkat ke penampungan/PJTKI saya berusaha menanyakan nama PJTKI yang disampaikan oleh sponsor di desa saya apakah PJTKI tersebut legal atau tidak ke depnaker. Ada kecemasan mendengarkan desas desus adanya PJTKI sebagai ajang prostitusi, akan tetapi karena sumber informasi dari depnaker maka kecemasan tersebut mereda. Sehingga fokusnya kemudian adalah mempersiapkan kompetensi dalam bekerja. Dari berangkat sudah ditanamkan bahwa bekerja ke luar negeri menjual tenaga dan ketrampilan kerja bukan hanya lips service saja maka saya tekun belajar dan berlatih praktek kerja.
Materi wajib yang harus dipelajari adalah bahasa, cara memasak, cara mencuci baju/laundry, cara merawat jompo, merawat bayi, membersihkan rumah/cleaning service, penataan meja makan/table manner dan penataan tempat tidur standar hotel/making bed.
Negara yang saya pilih waktu itu adalah Hong Kong, karena saat di penampungan saya bertanya pada beberapa pekerja mulai dari ex(experience) Malaysia, ex-Singapura, ex-Arab, ex-Taiwan dan ex-Hong Kong. Dari beberapa pengakuan teman-teman saya di penampungan pilihan selanjutnya menyempit menjadi Singapura, Hong Kong dan Taiwan. Proses ke Singapura sebentar akan tetapi gaji yang ditawarkan tidak sebesar Hong Kong dan Taiwan, akan tetapi Taiwan kontrak kerjanya tiga tahun dan potongannya empat belas bulan, saya pikir lama sekali potongan gajinya, akhirnya saya pilih Hong Kong. menurut beberapa ex-Hong Kong hukum yang ada di Hong Kong sangat bagus dan dijunjung tinggi serta ada serikat buruh di sana.
Dari beberapa ex-Hong Kong, saya belajar tentang sekilas budaya orang HongKong, kebiasaan-kebiasaan mereka, apa yang mereka senangi dan benci, bahasa sopan yang digunakan sehari-hari, menu makanan kesukaan mereka serta mendaftar kesalahan-kesalahan yang pernah dialami para ex-Hong Kong tersebut, sehingga bisa belajar guna meminimalisir kesalahan yang pernah mereka buat di sana. Saat itu saya berusaha melakukan observasi tentang keadaan Hong Kong melalui teman-teman yang sudah pernah bekerja di Hong Kong, bahkan karena terlalu sering bertanya dan mengintervieu jadi lebih mirip peneliti partisipatif.
Job yang datang lebih dulu memungkinkan lebih banyak mempersiapkan diri mempelajari lebih mendalam sesuai job desc antara lain memasak, membersihkan rumah tiga lantai, mencuci mobil, mencuci baju dan dalam waktu-waktu tertentu merawat jompo dari majikannya serta memperhatikan dua orang anaknya yang beranjak dewasa. Sebulan kemudian visa kerja turun dan berangkat ke Hong Kong.
Saat di penampungan banyak TKW yang berangkat ke Hong Kong di-terminate dengan alasan yang kadang-kadang tidak masuk akal seperti ngeprek bawang lalu jatuh dibilang tidak bisa memasak dan dipulangkan, baru sebulan bekerja dengan alasan TKW dibilang terlalu gemuk lalu dipulangkan. Cemas akan pekerjaan di sana mulai muncul akan tetapi persiapan ketrampilan kerja sudah diusahakan semaksimal mungkin sehingga keyakinan penuh akan hasilnya pasti baik.
Menanggapi hal tersebut, saya berusaha berpikir positif seperti yang telah diucapkan Rasulullah SAW ”Sungguh menakjubkan sikap seorang mukmin yang memandang baik segala sesuatunya. Sikap ini tidak pernah dijumpai pada umat lain kecuali mukminin. Ketika mendapatkan kebaikan, dia (mukmin) bersyukur dan itu baik untuknya. Jika mendapatkan keburukan dia (mukmin) bersabar dan ini juga baik untuknya.” HR Imam Muslim.
Orang China bilang bahwa sebuah gambar bernilai seribu kata-kata, senada dengan hal tersebut William James, Bapak Psikologi dari Amerika menekankan bahwa fakta subconcious mind/soul/alam bawah sadar adalah yang dilengkapi dengan kapasitas inteligensi yang cukup besar dan merupakan kebijaksanaan yang tak terbatas. Apapun ide ataupun perasaan yang kamu beri perhatian khusus ke dalam subconcious mind kamu maka hal tersebut akan bergerak dari syurga menuju ke bumi menjelma menjadi kenyataan, sehingga sudah seharusnya kamu memberi perhatian khusus pada ide-ide yang kamu inginkan hadir menjadi kenyataan saja serta pikiran yang membangun saja. Act as though I am and I will be—berperilakukah sebagaimana dirimu dan itu akan terjadi.
Dalam Surat Fushilat ayat 23 disebutkan:
“Dan yang demikian itu prasangkamu yang telah kamu duga terhadap Tuhanmu, prasangka itu telah membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” Maka bisa dikatakan Allah sesuai dengan prasangka hambaNya. Dan prasangka tersebut dalam wilayah psikologi termasuk kedalam kategori subconcious mind, dalam prasangka terdapat ide-ide yang kadang secara tidak sadar berupa pikiran-pikiran negatif, sehingga yang terjadi dalam kenyataan juga hal-hal negatif.
Ketika kita menganalisa doa dari beberapa literatur disebutkan doa adalah bentukan dari sebuah ide yang fokus terhadap sesuatu agar dipenuhi. Doa adalah nyawa dari keinginan yang paling diinginkan. Keinginan kita adalah doa kita. Menurut Joseph Murphy, seorang metafisikawan berpendapat bahwa doa berasal dari kebutuhan yang paling dalam dan hal itu membuat nyata sesuatu yang paling kamu inginkan di hidupmu.
Seperti yang terjadi saat di penampungan/ PJTKI, bersama teman-teman dengan rutin melakukan sholat malam yang hakikatnya berdoa pada Allah, di setiap selesai sholat lalu menengadahkan tangan sambil mengucapkan beberapa pemohonan lalu membayangkannya bahwa permohonan tersebut akan dikabulkan. Membuat kata-kata dalam doa saya menjadi sebuah film di pikiran saya, saya memfilmkan bagaimana keadaan diri saya saat di Hong Kong dan bertemu dengan bos yang baik lalu masih bisa mengaji bersama seperti yang terjadi saat di penampungan juga masih bisa sholat dan berbincang-bincang dengan teman dan akhirnya itu terwujud satu persatu saat di Hong Kong.
Dalam surat Al Mu’miin ayat 60 disebutkan :
“Dan TuhanMu berfirman “berdoalah kepadaKu niscaya akan kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahku akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina-dina.”
Dalam bukunya berjudul “The Power of Your Subconcious Mind” oleh Joseph Murphy disebutkan terapi doa adalah bentuk singkronisasi, harmonisasi dan fungsi kecerdasan terhadap pikiran sadar–concious mind dan bawah sadar—subconcious mind kita yang khusus dutujukan untuk mencapai tujuan yang spesifik. Dalam terapi doa kita harus tahu apa yang kita lakukan dan mengapa melakukannya. Dalam terapi doa kita secara sadar harus memilih sebuah ide yang pasti, bisa membayangkannya (mental picture) atau merencanakan pengalaman yang kita inginkan. Kita menyadari kapasitas yang kita miliki bisa dikomunikasikan dengan pikiran bawah sadar kita agar dibayangkan dan merasakan jika hal tersebut benar-benar menjadi kenyataan, karena kita memintanya dengan penuh keyakinan dalam sikap mental kita, maka doa kita akan terjawab.
Kemudian dalam surat Al-A’rafayat 55-56 :
“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi sesudah Allah memperbaikinya dan berdoalah kepadaNya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”
Doa adalah senjata orang yang beriman, bukan saja gumam mulut atau ucapan lidah tapi merupakan esensi jiwa yang harus disampaikan dari nurani terdalam dengan penuh kesadaran seperti disinyalir dalam Al Quran surat Al A’raf ayat 205 :
“Dan sebutlah nama Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.”
Seperti saat di penampungan, saya bersama teman-teman menanamkan kepercayaan bahwa doa adalah kekuatan terbesar yang tersedia bagi seseorang untuk memecahkan masalahnya. Sebagai langkah kongkrit bersama teman-teman yaitu dengan memperbaiki kualitas ibadah mahdhah atau fardhu ‘ain juga melakukan tambahan ibadah ghairu mahdhah atau sunnah. Maka amalan sholat tahajjud, dhuha, membaca Al-Quran juga dilaksanakan lagi saat bekerja di Hong Kong.
Banyaknya pekerjaan yang mengahabiskan waktu dari jam 6 pagi sampai 11 malam secara rutin membuat tubuh saya ngilu dan sering nyeri pada tulang, ditambah lagi gangguan lambung juga sering terjadi akan tetapi dengan keyakinan keajaiban doa walaupun sakit sering menyerang akan tetapi sakit saya tidak sampai membuat saya izin tidak bekerja karena sakit itu. Seperti yang terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 153 :
“Hai orang orang yang beriman, jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang yang sabar.”
Kualitas sholat saya saat di Hong Kong mungkin berbeda dengan saat saya masih di Indonesia. Saat di Hong Kong benar-benar terasa kedekatan kita dengan Allah, menjadikan sholat sebagai ajang curhat serta berkeluh kesah. Di Hong Kong saat usia 19 tahun serta tidak ada sanak saudara sehingga saat sakit harus ditanggung sendiri maka keyakinan akan kemaha-Kuatan Allah benar-benar terasa. Setelah sholatlah ketenangan jiwa terasa, menghadapi tekanan dalam pekerjaan oleh majikan pun terasa lebih ringan, juga masalah-masalah pribadi yang berujung keresahan dan kegelisahan pribadi terhadap masa depan saya nantinya setelah pulang di Indonesia.
Setelah beberapa kali berkumpul dengan teman-teman saat liburan, walaupun tidak sedang melakukan penelitian secara empirik tetapi dari data yang kami peroleh dari orang-orang di sekitar kami yang sering melakukan ibadah bersama seperti sholat saat di penampungan dulu dalam kehidupannya di Hong Kong mendapatkan kemudahan bila dibandingkan dengan mereka yang tidak melakukan aktifitas spiritual.
Ada satu uraian menarik dari Yusuf Qardhawi dalam bukunya Al-‘ibadatu fil-Islam. Ia menjelaskan beberapa hikmah ibadah sholat, mengapa begitu kuat perintah sholat ini, sehingga dalam keadaan bagaimanapun harus dilakukan: pertama, sholat akan menumbuhkan kekuatan mental serta menumbuhkan daya tahan dan kepercayaan diri. Efeknya, seseorang akan siap menghadapi masalah apapun dan dapat mengatasinya dengan baik. Orang yang baik dalam mengerjakan sholat adalah yazhunnuna annahum mulaaquu rabbihim wa annahum ilaihi reji’uun (Al Baqarah :46)) yaitu orang yang yakin bahwa Allahlah yang menentukan segala sesuatu. Manusia hanya berusaha, sedangkan hasilnya hanya dikembalikan pada Allah SWT. Oleh karena itu, ketika Rasulullah SAW menghadapi satu masalah pelik, beliau langsung sholat; kedua, sholat akan menumbuhkan kekuatan akhlak. Jika dalam keseharian seseorang dibelokkan atau diarahkan kepada hal-hal yang tidak baik, namun kemudian ia sholat dengan tertib dan teratur, maka ia akan kembali ke arah yang lurus. Juga yang tidak boleh dilupakan di manapun kita berada adalah hendaknya sholat dengan berjamaah. Karena sholat berjamaah adalah indikator kesediaan seorang muslim untuk berjamaah/berorganisasi dalam melakukan kegiatan-kegiatan lain di luar sholat.
Kendala terbesar kerja di luar negeri bagi muslimah di negara yang mayoritas muslimnya sedikit adalah mempertahankan identitas sebagai muslimah. Bagi kalangan majikan yang tingkat pendidikannya tinggi maka sikap toleransinya tinggi tapi bagi majikan yang tingkat pendidikannya rendah atau yang masih berpegang teguh dengan tradisinalitas china-nya serta bermata pencaharian di pasar maka tidak jarang melarang pembantunya agar tidak berhubungan dengan teman senegaranya.
Secara alamiah manusia itu positif (fitrah) baik secara jasadi, nafsani (kognitif dan afektif) maupun ruhani (spiritual) maka sudah menjadi kewajaran jika kita merasa gelisah jika melakukan pelanggaran. Di Hong Kong muslim adalah minoritas yang prosentasenya sekitar 0.05% dari penduduk sana itu pun kebanyakan dari imigran. Termasuk masalah halal dan haram adalah masalah yang fundamental bagi terciptanya kondisi ruhiah yang stabil. Imam An-Nawawi dalam kitabnya al-Adzkar menyebutkan bahwa syarat diterimanya doa adalah mengkonsumsi makanan halal dan berusaha menjauhi perbuatan maksiat. Dalam prakteknya saat saya di Hong Kong, untuk menghindarkan dari makanan sejenis babi maka saya memisahkan alat masakan antara majikan dengan saya. Saya sering memilih menu makanan laut dan sayuran jika tidak sesuai dengan pesanan majikan maka saya membeli bahan makanan saya sendiri.
Sehingga dari uraian di atas bisa disimpulkan bahwa salah satu usaha dalam mengoptimalkan kerja jiwa/soul/subconcious mind adalah menggunakan pendekatan spiritual. Manusia membutuhkan nilai spiritual yang bermuara pada Illahi. Salah satu bukti ikatan fitrah manusia dengan tuhannya adalah doa. Dengan doa yang benar akan membawa keteguhan (istiqamah) dalam prinsip hidup. Dengan doa pula seseorang akan memiliki sikap optimis, karena doa pada hakekatnya merupakan rintihan, curhat, dan harapan akan pemberian pertolongan seorang hamba dari Tuhannya.
***