PENELPON MALAM
Baru sehari ditinggal Mbak Tatik pulang, ada telepon saat jam 12 malam, Leung Sang membangunkanku.
“Ani, yau tinwa pei nei keh, ada telepon untukmu”
Akupun segera bangun, geragapan… setelah gagang telepon aku angkat ternyata tak ada suara.
“Mhou yisi ah Sinsang, Ngo mou pei yan Lei ke tinwa homa, ngo theng tinwa to hai mou seng keh… beribu maaf Tuan, saya tidak pernah memberikan nomor telepon Anda pada orang lain, saya tadi angkat telepon pun tidak ada suara.”
“Hou lah Nei faiti fenkau lah… baiklah kamu kembali tidur.”
Keesokan harinya saat aku mengucapkan Cou-san, Leung Thai tidak membalasnya. Aduh marah lagi nih, salah apa lagi ya?
“Ani… kham man hou chou, lei ci m ci ah, fen m kau, lei m hoyi pei kheita yan ngo ke tinwa homa ke wo, lei meng m meng ah? tadi malam sangat ribut, aku sampai tidak bisa tidur, kamu tidak boleh memberi nomor telepon ini ke orang lain, kamu mengerti, kan?”
“Hou thai-thai, baik nyonya. Ngo tai Happy choet hoei kai lah, saya akan membawa Happy pergi jalan-jalan dulu.”
“Hai pipi mui, Happy kolei lah, Ani tai Lei choet cou kai ke wo… anjing kesayanganku, Happy kemari, Ani mau membawamu jalan-jalan.” Teriak Leung Thai diiringi dengan suara jejak kaki anjing menuruni tangga dari lantai atas.
Leung Thai Mengelus-elus Happy menggunakan tangan kanan, sedang tangan kirinya memegang sarapan roti isi ikan tuna dengan mayonese kesukaannya. Aku pun mengambil sabuk pengikat leher Happy dan kubawa dia keluar rumah. Yang terpenting sudah mengucapkan salam ke Leung Thai karena yang paling cerewet dia.
Pernah aku mengambil koran pesanan Po Shan, akan tetapi aku dimarahi setengah mati sambil teriak-teriak seperti aku ini orang tuli, keras banget suaranya masuk ke telingaku.
“Pinko kiu lei lok pou-cii keh? Lei m sai theng Po Shan, haito hai ngo pei nei cou ye, lei m sai theng khoei, lei cou ngo ke shuitwa to hai oke… siapa yang menyuruhmu ngambil koran? Kamu tidak usah dengar Po Shan, di sini aku yang memberimu pekerjaan, kamu jangan dengarkan dia, kamu kerjakan apa yang aku perintahkan saja.” Sambil menunduk aku mengangguk-angguk.
Hari menjelang malam, aku telah siapkan semua bahan masakan untuk kumasak jam enam nanti. Telepon berdering saat aku mengambil baju-baju yang telah kering dari jemuran di taman.
Segera aku angkat gagang telepon yang hanya berjarak sepuluh langkah dari taman depan rumah “Ani ah kem loi keh? Yika nei tang ngo hai tai-mun hau, choet pin kotou le, lei meng m meng ah?”
“Hou lah Thai-thai..”
Sebentar kemudian aku menunggunya di depan pintu masuk rumah. Sepuluh menit berlalu tapi belum juga nampak orangnya. Saat Leung Thai kelihatan, aku langsung berlari menghampirinya. Wajah Leung Thai tidak senyum padaku, itu artinya Dia lagi marah… Salah apa lagi?
“Ani timkai lei mlei kah? Mengapa kamu tidak datang?”
“Ngo tang nei hai tai-mun hau kem ma… saya menunggumu di depan pintu masuk, kan?”
“Hei…I ask you waiting for me in front of the gate, out side! Lei tang ngo haito mou yung kah! ngo tai ti ye hou chung ah… ci m ci cek! Cenhai kik sei yan ah…!! kamu menungguku di sini ya tidak ada gunanya! Aku bawa barang berat, lihat tidak! Benar-benar mengesalkan!” cercanya padaku dan aku menatapnya lalu kuucapkan permintaan maafku yang mendalam karena salah memahami perintahnya.
“M hou yisi, Thai-thai… cheng yiin liong ngo lah…” ini adalah permintaan maaf yang sangat disukai orang Hong Kong, karena menunjukkan penyesalan yang dalam.
Kuangkat tas yang dibawa Leung Thai. “M hai awa… kem heng yau kong hou chung keh –yang benar saja, begitu ringan bilangnya sangat berat, dasar!” batinku.
Mungkin begitu lagaknya wanita karier, ini tak seberapa membawa dua kaleng madu jeruk yang beratnya masing-masing satu kilo, sedang aku kalau belanja bisa sampai tiga kilo dan harus berjalan dari Fanling ke Sheung Shui, dan aku tidak mengeluh. Belum lagi kalau harus berjalan di antara hujan deras, kalau lagi musim dingin pun bisa jalan sambil menggigil, sedang musim panasnya juga menggosongkan kulitku. Musim yang bersahabat denganku hanya musim semi dan gugur.
Pun dulu saat di desa aku juga pernah mengangkat satu karung padi untuk dibawa menggunakan sepeda kayuh menuju penggilingan padi, aku tidak mengeluh karena itu biasa-bisa saja kami lakukan karena teman-temanku juga melakukan hal yang sama. Sedang Leung Thai berjalan seratus meter dari pintu gapura depan sampai ke villa saja mengeluh keberatan, ngumpat-ngumpat lagi! Begitukah tingkah wanita karier!
Apalagi masalah peraturan helper number twenty one, Must not give employer’s telephone to others. Pernah sekali aku memberi nomor telepon bos pada sister Hafsah karena mungkin ada informasi yang penting, aku sudah mengingatkan agar menelponku di hari dan jam kerja saat bosku berada di luar, akan tetapi saat aku mau keluar pintu waktu fongka—libur, telepon berdering dan aku mengangkatnya lalu terdengar suaraku menyebut kata demo… wal hasil bosku melarang liburan dan setengah hari aku di rumah, setelah jam satu aku baru boleh keluar.
“Demo, hou ngaihim ah… lei m sai fongka lah, yika lei hoi kaisi mai sung lah, hm… cau maifan... sangat berbahaya, kamu tidak perlu libur sekarang belanja ke pasar, masak mie putih saja…” sambil mengerutkan keningnya, Leung Sang mengeluarkan uang dari dompetnya untuk belanja.
***