GAJI PERTAMA
Akhir Agustus 2001, aku mendapatkan gaji pertamaku. Besok pagi harus ke Bank of China untuk setor ke agensi 3000 HKD. Bayar hutang 200 HKD untuk biaya makan siang dipinjami bos, sisanya 470 HKD. Mungkin bulan depan saja aku bisa kirim uang ke rumah. Besok pagi sama Ena–tetangga villa, ke pasar bareng. Sekalian ke mall dekat pasar. Beli beberapa kaos untuk ganti. Biar kelihatan ganti baju.
Awal September, musim gugur, daun-daun banyak yang rontok sepanjang jalan menuju ke pasar. Leung Thai menyuruhku naik bus setiap ke pasar. Tapi aku lebih memilih untuk jalan kaki. Disamping sekalian olah raga, ongkos bus bisa untuk beli mie dan tahu goreng buat makan siang. Tapi, tak jarang juga naik bus karena capek kerja di rumah.
Setelah bos pergi keluar, biar efisien, sambil pergi ke pasar aku jadi terbiasa makan sambil jalan. Setiba di pasar, masuk dulu di Waihong–Wellcome, mini market untuk mencari minuman, dingin lebih enak. Ternyata susu segar membuat badan lebih sehat, ya. Harganya HKD 4 tiap kotaknya. Ena memilihkanku satu kaos dan satu celana di bawah lutut, sepasang HKD 40. Termasuk murah, baju tak bermerek.
Saat di taman Shek Wu Hui market, aku dan Ena berfoto, mengambil beberapa pose di taman yang indah tersebut. Di pasar daerah Sheung Shui ini saat kita ke dalam akan berjumpa dengan teman-teman helper dari Indonesia. Suasana pasar seperti pasar di Jawa, karena dialek yang ada memakai bahasa Jawa. Bahkan diantara teman-teman helper ada juga yang bekerja di pasar menjaga barang dagangan majikannya.
“Mai lei kanna… mai lei kanna… beli kesini…” teriakan keras dari para pedagang.
“Hai leng loi, lei siong matye choei ah?
Yau choei-sam em man kan,
hung lopak sei man kan,
fan khei leh yau hai em ko pun,
pak choei luk man kan,
ciu thung choei thung mai tung choei to hai em man kan,
pou choei chat man kan,
sai gan sap em man kan,
ai kwa sam man kan..
mai lei kanna… mai lei kanna…
”hai anak manis, mau beli sayur apa? sawi hijau lima dolar perkilo, wortel empat dolar perkilo, tomat lima setengah dolar perkilo, sayur sendok dan kangkung lima dolar perkilo, bayam tujuh dolar per kilo, big celery lima belas dolar perkilo, terung ungu tiga dolar perkilo… ayo beli di sini…
Teriakan pun tak kalah kerasnya saat kita sampai di stand ikan…
“San sin yii,
yau Hung Sam yii thungmai wong fa yii sap man thiu,
yau wan yii, ma thau yii, chong yii sap lok man thiu,
sei pang yii thung mai kwai fa yii yisap man thiu,
mai lei kanna aha… san sin ha sam sap man kan…
Ikan segar! Ada ikan laut merah dan kuning sepuluh dolar perekor, ikan besar, ikan kepala besar, ikan bawal enam belas dolar per ekor, kerapu dua puluh dolar per ekor, udang segar tiga puluh dolar perkilo” yii dibaca dengan cara memonyongkan dua bibir membentuk huruf o dengan lidah ditarik ke belakang seakan akan berbunyi yu.
Aku hari ini tidak masak nasi dan sayur tapi bosku minta buatkan Sushi dan salad buah. Aku dikasih uang belanja banyak lho, seratus lima puluh dolar.
Aku pun pergi ke waihong—Wellcome mini market untuk berbelanja bahan baku, ke pasar tadi hanya untuk nemani Ena. Saa-leut/salad memerlukan bahan-bahan : Kai tan—telor ayam, shii cai–kentang, phengkwo–apel, lai—susu manis dan saa-leut chiong/mayonese bermerek Miracle Whip. Sedangkan Sushi aku membeli sushi mai—beras khusus untuk sushi berbentuk bulat dimasak dengan sushi vinegar—cuka dan dibungkus ji-choei—pembungkus lembaran rumput laut, isi sosis, tuna yii—ikan tuna, cin tan—telor dadar.
“An… bosmu tuh kata Mbak Tatik sangat suka kare, apalagi Chung-chung.” ucap Ena memberi tahuku.
Pantesan aku dulu pertama kali suruh buat kare indonesia… yannai kalei, aku bingung tanya siapa, waktu itu Ena pulang ke Indonesia, akhirnya di pasar aku nanya-nanya ke teman-teman tidak ada yang pernah disuruh bosnya masak kare. Aku ingat-ingat waktu ibuku memasaknya, aku beli satu botol bumbu kare bubuk produk Malaysia di Waihong, kemudian beli santan kaleng setengah liter, lalu isinya Leung Sang bilang yaitu shii-cai dan kai-yik—sayap ayam. Aku memasaknya seperti masak sayur lodeh jawa dengan kuah yang banyak. Saat aku cicipin… hm… tidak enak sama sekali karena bubuknya aku kasih enam sendok kecil, akhirnya kuahnya aku buang separuh dan kusisakan separuhnya lalu memberinya air lagi, jadilah semangkuk besar kare Indonesia lalu kuhidangkan.
Inilah respon Leung Thai, si Nyonya Leung:
“Hmm… Ani ah kolei lah… niti hai matye leika? Lei pou kalei thong ke meh? Niti mhai sung ke wo… Ani kamu ke sini, kamu masak apa ini? Kamu masak sup kare kah? Ini bukan menu masakan kare.” Leung Thai teriak-teriak seperti biasanya.
“Cheng Yin liong ngo lah… sungguh beribu maaf Thai-thai. Ngo mei ci tim cii yannei ke kalei. Saya belum tahu cara memasak kare Indonesia” jawabku memohon maaf.
“Hai meh? lei hai yannai timkai m ci keh? Lei pei siu-siu soei tu tak kala. Benaran nggak bisa? kamu kan dari Indonesia kenapa tidak bisa memasaknya? Kamu taruh sedikit air saja”
Setelah itu ya… aku mulai belajar masak dengan lihat acara masak di TV dan membeli beberapa buku resep masakan di lantai atas pasar di toko buku di kawasan pasar Sheung Shui. Masak yanai kalei—kare Indonesia ataupun yatpun kalei—kare Jepang, aku kemudian memakai sin nai—susu segar dan sebelumnya tumis dulu yung chung—bawang bombai sampai layu terus masukkan kai yik dan shii cai lalu bumbunya dan kasih air biarkan meresap baru tuangkan susu segarnya sampai kuahnya mengental. Si Chung-chung tuh pasti ngambil nasi lagi ke dapur.
“Tahu nggak, kalau dulu yang memilih kamu untuk jadi pembantu di Leung Sang itu anak kesayangan mbokmu…” ucap Ena memberi info
“Chung-chung?!” seruku heran.
“Kata Mbak Tatik, Chung-chung menyukai nyanyimu di video tuh…”
“Oh.. iya ta Mbak… aku waktu shooting tuh nyanyi Cuk Nei Sang Yat Failok—Happy Birthday to You… ya dengan gaya nyanyi anak SD sambil bertepuk tangan.”
Oalah… malah lucu kalau tahu sejarah proses penyeleksian dan perekrutanku.
***