Film Kekerasan Terhadap Anak (2)

Hi Guys, Assalamualaikum,

Sinopsis : Ternyata dibalik megahnya gedung-gedung di Jakarta itu masih ada ya orang-orang yang belum mendapatkan hak nya secara utuh. Saya fikir ditengah pusat kota Jakarta itu sudah sangat nyaman dan terbagi dengan rata. Ternyata tidak.

 

Saya ingin sedikit bercerita. Dulu saat saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar, saya sangat penasaran dengan pusat kota yang menjadi pusat perhatian dari orang-orang kampung yang mengadu nasibnya disana. Karena terpengaruh oleh televisi, dulu saya fiki kota Jakarta itu kota yang megah, kota yang sangat nyaman dan kehidupan nya pasti akan terjamin disana. Pokoknya segala hal positif yang saya fikirkan saat itu adalah tak lain dan bukan sebuah kemakmuran. Tapi nyatanya saya salah. Saya diajak oleh Bapak say untuk mengunjungi rumah saudara saya yang tinggalnya itu disalah satu daerah di pusat kota tersebut. Setelah say tiba disana, ternyata semua angan dan imajinasi saya tentang makmurnya kota Jakarta itu salah besar. Disana saya masih melihat banyak orang yang bekerja keras demi hanya untuk bisa makan hari itu. Perkampungan nya pun sangat kumuh. Tepat berada di belakang stasiun Kereta Api. Banyak anak kecil yang seharusnya dia asik bermain dengan kawan sebayanya, tapi ini malah disuruh untuk bekerja. Memunguti gelas air mineral kosong, botol kosong serta kardus yang sudah tidak terpakai di dalam tong sampah. Rasanya sangat perihatin sekali melihat hal tersebut. Hingga pada saat yang sangat membekas didalam hati dan fikiran saya adalah. Saat dimana mereka melihat teman sebaya nya pulang sekolah. Dengan tatapan harap dirinya berdiri dan melihat kearah sekolah tersebut. Seperti dalam lubuk hatinya itu ingin berteriak dan menanyakan ke orang tuanya perihal “kenapa aku gak sekolah ?”. Terlalu banyak harap disana.
Seperti halnya film pendek ini. Seharusnya dia mendapatkan segala sesuatu dengan layak. Dari segi pendidikan, lingkungan tempat tinggal, lahan pekerjaan hingga sarana kesehatan. Bukan malah semuanya di kaitkan dengan perekonomian mereka. Seakan uang yang lebih berhak menentukan sarana apa saja yang mereka dapat.
Rasanya jika saat sakit pun tiba, dia hanya mampu menahan rasa sakit yang ada. Karena jika ingin ke dokter ataupun ke puskesmas pun ia tak mampu. Jangan harap rasa sakit nya itu akan sembuh. Untuk makan sehari-hari pun rasanya susah sekali. Sebab itu ia harus bisa menahan rasa sakit nya.
Hingga waktunya sudah tiba. Banyak sekali pertanyaan dan pernyataan yang menyakiti diri sendiri. “salah siapa ?” “apa aku tidak becus menjadi orang tua ?” “seharusnya aku bawa dia kerumah sakit” “kenapa ini terjadi sangat cepat ya tuhan” “saya bersalahhhhh…” Terus saja bergumam seperti itu. Padahal bukanlah sepenuhnya salah dia.

 

-Ambar, BBBF

Leave A Comment