“ ini gimana cara makan nya ? emang gak dikasih sendok sama abangnya tadi ?”
“ ih tadi gua tuh udah minta sendoknya, cuma kata abangnya emang kebetulan abis, gitu. Yaudah si ini kan ada palstik yang buat bumbu, nah siomaynya masukin aja satu-satu kedalem plastiknya, baru dah makan “ Bertengkar hanya karena aku membali siomay dan batagor ternyata tidak ada alat makannya. Memang benar, pada saat aku membeli pun aku sudah bilang jika aku membutuhkan sendok pula, mengingat karena aku ingin memakannya di taman. Tapi kata abang nya malah “kebetulan banget teh abis sendoknya, maaf ya teh” yasudahlah.
Saat ini aku dan dia sedang berada di suatu taman depan sekolahan. Entah menyebutnya taman atau apa, yang pasti depan sekolahan ini terdapat lapangan sepakbola yang lumayan besar. Biasanya kalau sore selalu ada regu futsal yang sedang melakukan sparing di lapangan ini. Tapi karena ini masih terhitung siang hari, makanya tidak ada yang bermain bola.
Dan biasanya pula disini banyak sekali berbaris rapih penjual kaki lima, jajanan sekolahan. Dan sudah pasti di karenakan pandemi seperti ini, sekolah pun jadi liburkan secara menyeluruh. Sial, aku tak bisa lagi menikmati baso malang, baso pentol, kue leker serta es selendang mayang. Padahal siang ini terasa terik, rasanya segar sekali meminum es selendang mayang yang warna-warni itu serta kuahnya yang manis bercampur dengan gurihnya air santan apalagi tumpukan es batu yang memuncak, aahh.. nikmat sekali. Sayangnya hanya bisa dibayangkan saja.
Aku duduk berbagi cerita dengannya. Sambil melihat beberapa kucing yang sibuk mondar-mandir mencari makanan di lapangan ini. Terhitung tak banyak orang, hanya ada beberapa saja. Di sebrang lapangan sebelah sana ada tukang Soto dengan beberapa pembelinya, di samping kanan kita berjarak satu bangku panjang ada dua orang pengemudi ojol yang sedang beristirahat seraya menunggu orderan selanjutnya, di samping kiri kita yang juga berjarak satu bangku panjang terdapat lelaki yang tak begitu tua dengan dua anaknya baru saja keluar dari gerbang sekolahan yang berada tepat dibelakang kita setelah memberikan beberapa nasi kotak kedalam. Entah, kemungkinan memang itu pesanan untuk para pekerja yang masih diharuskan stand by disana.
Dan aku pun bersama dia sibuk melahap siomay-siomay yang berada di sterofoam yang sudah tidak terasa hangat lagi malahan lebih ke dingin dengan mulai berbagi cerita pula. Melempar candaan sana-sini dan terkadang pulan membahas hubungan kita. Tak sering, lebih sering membicarakan anak kucing yang bercorak loreng keabuan itu sedang berjalan bolak-balik dihadapan kita. Sayangnya saat aku coba lemparkan sedikit siomay dihadapannya malah tidak dimakan, sepertinya tidak suka. Aku dan dia memang sama-sama penyuka kucing, tapi aku tidak memelihara dikarenakan tidak diperbolehkan olah Ibu ku, Ibu ku benci sekali kucing. Katanya “kalau berak suka sembaranga, air kencingnya juga bau” jadi yasudah. Sedangkan dia, dia memelihara 2 kucing, yang satu namanya Budi berjenis kelamin laki-laki, sedangkan yang satunya lagi bernama Mbot berjenis kelamin perempuan. Mereka tidak seumuran, Mbot jauh lebih kecil dari pada Budi. Jika seumuran mungkin sudah dikawinkan dengannya.
Siomay ini suapan terakhir untuk ku. Rasanya tak begitu nikmat, biasa saja, tapi lumayanlah untuk mengganjal perut ku yang sedari tadi sudah mulai merasakan melilit dikarekan penyakit magh ku yang kambuh. Dan juga aku memang belum sarapan tadi pagi, langsung pergi main dengannya. Sebotol air mineral ku tenggak untuk menghilangkan rasa haus ditenggorokan, belum lagi sisa-sisa minyak dari bumbu kacang tadi. “lumayanlah”
*****
Setelah itu lanjut melempar cerita. Bercerita tentang apa saja, yang penting agar tidak saling diam. Terkadang membicarakan perihal rencana kita berdua ingin seperti apa. Mengingat sekitar bulan lalu dia datang kerumah bersama Ayahnya hanya sekedar ingin bersilaturahmi, dan tidak mungkin jika tidak ada pembicaraan kearah yang sudah semestinya.
Semenjak kejadian itu, aku berfikir keras tentang apa-apa yang harus dipersiapkan. Dari segi fisik, mental, dekorasi, susunan acara dan lain sebagainya. SebenarnDari segi fisik, mental, dekorasi, susunan acara dan lain sebagainya. Sebenarnya masih jauh pula untuk kesana, tapi tak ada salahnya pula kan jika memikirkan semuanya dan dengan segala resiko pahitnya.
Ternyata katamu malah “ jangan dibahas dulu, pusing gua “
“ yasudah, gua kan cuma minta pendapat aja, tapi yaudah kalo gamau dibahas”
Kita pun sepakat untuk mengganti topik pembicaraan.
“ mau kemana ?, bosen nih disini terus “ tanyanya kepadaku.
“ ke mall yuk, kangen suasana mall “
“ lah ngapain, terakhir kali kesana aja kaga ada tempat duduk, males ah “
“ makan bakso wonogiri yu “
“ ayo..”
Kita pun segera beberes dan pergi dari taman tersebut. Tak lupa membersihkan tangan dengan hand sanitizer yang aku bawa, memakai masker dengan seharusnya. Tempat bakso langganan kita ini tak terlalu jauh dari sini. Mungkin hanya sekedar berajak kurang dari 1 kilo meter.
Sewaktu kita baru saja beberapa meter jalan, ternyata di depan masjid itu ada seorang bapak-bapak, lumayan cukup tua, berdiri dengan setegap-tegapnya dia, didepannya terdapat termos es yang berwarna biru. Aku pun menepuk pundaknya agar menghentikan motornya. Aku turub dan menghampiri bapak tersebut.
“ jualan apa pak ? “ mata bapak itu seperti tidak melihat kearah ku. Bukan karena dia juling atau apapun itu.
“ jualan es mambo neng “ bapak itu pun ikut jongkok seraya mengimbangi ku.
“ saya buka ya pak, berapaan ini pak “
“ dua ribuan aja neng, maaf ya neng , mata bapak kurang jelas liatnya, soalnya emang sakit gitu, susah ngejelasinnya. Saya mau operasi tapi gak dibolehin sama istri saya, takut begini lagi soalnya. Dulu pernah di operasi tapi begini lagi “ Aku pun mengambil 5 es mambonya itu. Masih beku, terlihat segar memang, tapi sayang hanya ada satu varian saja. Berwarna hijau, aku tak tau rasa apa itu.
“ iya pak “ Dia yang tau kalau aku itu tak pernah tega jika ada orang seperti ini pun berinisiatif untuk memberika uang dan sekadar mengajak ngobrol dengan Bapaknya.
Setelah memberikan uang kepada Bapaknya, kita pun berlangsung pergi dari dia. Mengingat kesegaran bakso yang tadi kita rencana kan.
Dan disepanjang perjalanan aku mengingat-ngingat kembali omongan Bapak tadi itu. Mengiris hatiku, tanpa sadar aku meneteskan air mata dibalik helm yang aku pakai. Segera mungkin aku seka dengan jilbab ku, supaya tak ketahuan dengannya. Karena jika dia tau pasti dia akan berkata “udah jangan nangis, kan kita udah bantu” jadi lebih baik aku pendam sendiri saja secara diam-diam.
-Ambar, BFFF