Aku si Cewek Tomboy

Gaya berpakaian ku seperti ini ; kaos, celana bahan, kemeja, sneakers, jam digital, waist bag, dan rambut yang selalu dikuncir kuda. Dan dominan berwarna hitam. Aku si cewek tomboy, begitu teman-teman ku berkata. Aku selalu saja dianggap seperti itu, padahal menurut ku aku ini tak seperti itu. Aku hanya memakai pakaian yang menurut ku nyaman. Bukan malah ingin terlihat modis tapi ditubuh ku aku tidak merasakan kenyamanan itu.

Disekolah pun aku tetap memakai rok, bukan celana. Lantas apa sih yang membuat aku dijuluki seperti itu ? apa mungkin sifat ku yang terkesan cuek terhadap para kaum adam disekolah ini. Dan aku juga mengikuti ekstrakurikuler bela diri disini. Apakah semua kriteria itu cukup untuk membuat diriku pantas untuk disebut seorang cewek yang tomboy. Rasanya lucu sekali jika memang benar itu salah satu alasanya. Oh iya ada satu lagi, tidak semua sih tapi ada beberapa teman seangkatan ku yang kaum hawa ini jika berangkat sekolah pun dia memulas bibirnya dengan sebuah lipstik, lip cream ataupun lipgloss, intinya mereka bermaeup. Dan aku tidak ! benar-benar polos, muka ku hanya berbalut cream siang saja. Dan itu pun rasa-rasanya tak banyak membawa pengaruh terhadap wajah ku.

“ Fi, pake bedak si sedikit biar muka lu gak berminyak banget, kusem gitu tau diliatnya “ teman ku berkomentar tentangku dan memberi saran yang sebenarnya dia pun tau kalau saranya itu tidak akan pernah aku lakukan.

“ bibir lu kan item, pake lipstik si Fi biar gak keliatan pucet “ sahut yang lainya.

“ rese banget si lu, urusin aja dulu kehidupan lu baru urusin urusan orang lain. Lagi pula lu kan kesini mau pada sekolah bukan mau ngelenong atau jangan-jangan lu pada mau jual diri ya ? “ jawab ku dengan amat sengit. Rasa-rasanya memang tak pantas aku berkata seperti itu pada mereka. Tapi aku kesal, memang harus ya memakai semua itu disaat jam sekolah ?. Tak ada pantas-pantasnya menurut ku. Aku pun melangkahkan kaki ku menuju kelas, mereka memang beda kelas dengan ku, tapi kita saling kenal, hanya sekadar saling mengenal saja, tak lebih.

Sekiranya seperti itu hujatan atau pernyataan yang aku dapat pada saat zaman sekolah dulu. Bukan hanya itu sebenarnya, bahkan mereka terkadang berkomentar yang tidak-tidak, sampai membuat diriku habis kesabaran. Maksud ku memang kenapa kalau aku tak bisa bermakeup dan gaya bicara, cara berjalan dan gaya baju ku seperti ini ? apa ada yang salah ? apa aku harus mengikuti mereka yang terkadang tergila-gila pada fashion terbaru ? tidak kan !. Aku hanya menjadi diriku sendiri.

Dan pada saat itu, aku sempat mengutuk diriku sendiri. Mengapa aku seperti ini, mengapa aku tak bisa berias seperti teman-teman ku, mengapa aku harus mengambil kegiatan bela diri, mengapa aku tak bisa berpakaian selayaknya perempuan dan tetap merasa nyaman, kenapa ?. Tapi tetap saja aku menepis semua pemikiran itu. Membuang semua kata-kata mereka yang telah menjatuhkan ku. Membuat kondisi mental ku agak terganggu.

*****

Setelah lulus pun aku langsung bertekad untuk mempelajari itu semua. Lebih tepatnya berias diri. Satu persatu aku lihat tutorial cara bermakeup di YouTube. Perlahan mulai mencari-cari sekiranya produk seperti apa yang aku butuhkan. Dan perlahan pula aku amati cara pengaplikasianya terhadap wajah. Karena wajah ini merupakan bagian tubuh yang gampang sekali sensitif, aku tak mau hanya karena produk makeup yang tak sesuai kandunganya dan cara pengaplikasianya yang tak sesuai itu malah dapat merusak keadaan wajah ku.

Aku mulai menabung dikit demi sedikit untuk bisa membeli barang yang aku mau. Dari mulai Skincare dan produjk makeup. Sempat kewalahan saat itu karena harus menghafalkan nama-nama produk makeup yang tadinya sama sekali tidak aku ketahui sama sekali. Belum lagi jika harus memilih warna untuk menentukan warna Foundation diwajah kita. Ada beberapa metode yang harus diketahui agar tidak salah memakai warna foundation, supaya tidak terjadi warna yang lebih terang dan warna yang lebih gelap dari warna asli kulit wajah.

Belum lagi harus mengetahui pula undertone kulit wajah kita itu apa. Apakah kuning, pink atau malah netral. Dan itu pun juga lumayan sulit aku pelajari. Memilih produk foundation pun tak bisa asal pilih. Harus sesuai dengan kebutuhan. Karena foundation ini memiliki tingkat oksidasi katanya yang makin lama terkena oksigen, matahari, keringat dan sebagainya itu akan semakin menggelap. Maka dari itu sesuaikan dengan kemauan dan kebutuhan kita.

Belum lagi memilih concelear yang metodenya itu kurang-lebih sama dengan memilih foundation. Pokoknya masih banyak lagi produk makeup yang cukup membuat ku bingung untuk ku pejarinya saat itu.

*****

Namun sekarang aku sudah cukup tau apa-apa saja step by step dalam bermakeup. Cara memilih warna foundation, cara menentukan undertone kulit wajah dan sebagainya. Pokonya aku yang sekarang tidak selalu terlihat kusam dan buluk seperti aku yang dahulu saat jaman sekolah. Aku pun mempelajari ini semua bukan karena tekanan dari mereka. Aku melakukan ini semua benar-benar atas kemauan dan kesadaran ku sendiri.

Kini di social media ku pun, aku cukup aktif membagikan video atau beberapa foto ku yang berias. Ada beberapa yang memberikan komentar yang sangat positif bahkan ada beberapa orang juga yang menyemangatiku tentang kegiatan baru ku sekarang yang aku senangi. Tapi bukan kehidupan namanya jika hanya ada orang-orang yang menyukai kita tanpa ada orang-orang yang membenci pula.

“ ih kok cantik sih, perasaan dulu tomboy banget “

“ dulu tuh sama sekali gak suka makeup kan? Tapi kok sekarang cakep banget siii… jadi iri “

“ besok-besok main kerumah ya, ajarin gua makeup pokoknya, titik “

Dan masih banyak sekali yang berkomentar serupa. Tak ada salahnya memang jika mereka berkomentar seperti itu. Hanya saja bagian yang paling tidak aku suka itu saat mereka mebanding-bangdingkan aku yang sekarang dengan aku yang dulu. Kesal sekali rasanya. Dan sebenarnya terkadang komentar-komentar yang seperti itu datang dari teman-teman ku jaman sekolah dulu. Mereka yang dulu sering memberiku saran akan hal penampilanku. Dan ketika aku marah mereka bersembunyi dibalik kata “ yakan kita Cuma kasih saran aja, kalo gasuka ya gausah dilakuin “. Eeerrgghhh…. rasanya kesal sekali mengingat akan hal itu.

Tapi sekarang giliran aku sudah berubah, masih saja ia mengomentari hidupku. Dasar.

 

-Ambar, BBBF

Leave A Comment