LIBUR TELAH TIBA
Pernah saat liburan aku janjian ketemu Mina, teman saat di PJTKI, wah… aku kaget, dia sekarang berkerudung bersama genk ex-Singapura lainnya Yuni, sedang Vinda masih pakai tank top. Aku janjian ketemu sama dia di pintu exit salah satu stasiun di Causeway Bay/Thung Lo Wan, karena pintu exit stasiun kereta api cepat bawah tanah/MTR di sana sesuai abjad dari A s.d E, mungkin F juga ada tapi aku lebih seringnya janjian di pintu exit biar mudah menemukannya. Hari itu aku mengantarnya beli hp merek sony ericsson, 2200HKD, menu standard masih tanpa kamera hanya layar warna dan polyphonic di kawasan Jardine Bazaar. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju Islamic Centre di Tsim Sha Tsui. Saat itu kami mau pergi menggunakan teng-teng—kereta listrik membelah pulau Hong Kong menuju HKEC—Hong Kong Exhibition Center, tempat itu telah dibuka dari tahun 1988 yang di dalamnya dilengkapi tempat pameran, hotel, bioskop serta bisa melihat pemandangan pelabuhan yang cantik.
Hong Kong kalau dalam peta dunia sebelum aku berangkat dulu hanya berupa lingkaran kecil dikelilingi lautan. Tapi karena penataan kota yang rapi, bangunan rumah sebagian besar berupa gedung bertingkat lebih dari 40 lantai yang biasa disebut apartemen dan saluran irigasi yang selalu diperbarui di sepanjang trotoar memakai tenaga pekerja dari migran India maupun Pakistan. Jadi orang Hong Kong sendiri menjadi majikan di rumahnya sendiri lalu menyerahkan pekerjaan kasar pada pekerja asing yang digaji murah menurut standard kebutuhan hidup orang Hong Kong.
Setibanya di HKEC kami melihat golden Bauhinia statue—patung yang terbuat dari emas dan reunification monument di sebelahnya. Kemudian kami naik star ferry menuju star ferry pier Tsim Sha Tsui. Pelabuhan yang dikelilingi pantai yang terbuat dari bangunan beton. Dari jauh tampak clock tower bergaya Inggris lalu di sepanjang pantai Tsim Sha Tsui tersebut berjajar HK Cultural Centre yang diikuti HK Space Museum yang di depannya terdapat Peninsula hotel, kami masuk ke dalamnya lalu keluar dan tembus Middle road, jalan terus melewati The Kowloon hotel yang berhadapan dengan MTR, tibalah kami di Nathan road sepanjang jalan berjajar toko perhiasan serta Hyatt Regency HK di sebelah kiri dan berturut-turut Imperial Hotel dan Holiday Inn Golden Mile di kanan jalan setelah itu tibalah kami di Kowloon Mosque and Islamic Centre yang di sebelahnya terdapat Park Land Shopper’s Boulevard. Benar-benar surganya orang belanja. Di setiap jengkal terdapat pusat perbelanjaan dengan trotoar yang tidak pernah sepi pejalan kaki yang lalu lalang menuju Star Ferry.
Setelah sholat dhuhur selesai, kami pun turun lagi namun melalui rute yang berbeda. Di sebelah Kowloon mosque terdapat jalan berundak menuju Kowloon park, kami melewatinya, sebuah taman kota yang luas sekali, ada kolam renang besar, ruang permainan dengan patung yang bentuknya takberaturan terbuat dari kuningan dan perunggu, sepertinya taman ini memang didesain sebagai bentuk interpretasi dari taman hijau yang dikemas moderen. Keluar darinya kita menuju Harbour city, deretan bangunan megah yang didirikan di sepanjang pantai yang berada di Canton road. Saat berjalan di dalamnya terdapat banyak fasilitas umum, kita bebas main internet selama lima belas menit, aku mencobanya dan waduh… aku telah ketinggalan dari rombongan, Mina dan Yuni telah melesat ke depan dan diikuti Vinda. Akhirnya aku ikut pergi juga menyusul mereka.
Saat masuk di Harbour city kita melewati China HK City yang di dalamnya terdapat pelabuhan menuju Macau dan daratan Cina lalu kita akan sampai di sebuah bangunan kembar yang berfungsi sebagai gate/pintu masuk menuju The Marco Polo Prince, World Finance Center, The Marco Polo Gateway, World Commerce Center, New T&T Center, Ocean Center, The Marco Polo Hong Kong Hotel sampai akhirnya ke Star house yang menghubungkan kita pada pelabuhan kapal pesiar Star Cruises, pernah Susi temanku salah belok sehingga menyeberangi lautan menuju Central yang biasanya 2,2 HKD kena 32 HKD karena naik kapal besar itu.
Setelah berjalan sebentar, kembali kami di kawasan sekitar Clock Tower. Aku pun duduk di sana dan bertemu dengan Mery. Kalau ada waktu mungkin sampai nanti malam aku dan teman-teman baru pulang. Pantai Tsim Sha Tsui memang sangat indah karena kebersihannya. Orang meludah didenda 1500 HKD, buang sampah di tempat umum 600 HKD. Di sepanjang pantai terdapat tempat duduk yang ada sandarannya. Aku duduk di salah satu bangku itu. Sedangkan rombonganku pamit untuk ngenet di sekitar sana. Jadilah aku sama Mery.
Mery menunjukkan padaku segerombolan helper yang berdiri di taman sekitar clock tower tersebut “Nik… Mbak itu tadi bareng aku di MTR, dia barusan menggugurkan janinnya tadi, dia hampir tidak bisa jalan tapi dipaksain ke sini. Sekali aborsi gitu tahu nggak biayanya berapa?” sambil melotot Mery memandangiku
“Ngo m citou ke wo… aku tak tahu lah” jawabku
“Liong chin man…”
“Kem kwai keh… mahal banget, dua ribu dolar?” seruku terkejut.
“Iya, tadi aku mendengarnya”
Ada yang lain dari Mery, “Mer, kamu barusan beli hp touch screen ya? PDA ya?” tanyaku melihat Mery sedang mengoperasikan sejenis PDA.
“Ini, kalkulator… harganya murah kok.. karena aku suka ngoperasikannya pake ini stiknya..”
“Hua ha… ha… aku kira kamu udah ikut-ikutan gaya kaya mereka” sambil nunjuk di gerombolan para helper, ada yang berjoget dangdut dengan kostum indianya lengkap dengan sari dan gelang kerincingnya.
“Kamu mau dandan kaya mereka Nik?”
“Hm… nggak ah, tapi aku dulu pernah ngisi acara pagelaran sewaktu kelas tiga SMP, ngisi sebagai dancer berkelompok diiringi musik india, waktu itu lagunya Afsana Pyarkaa.”
“Tahu artinya? Oh iya kapan kamu mau ngajari aku ngenet?” Mery menyahut.
“Aku dan teman-teman SMP-ku dulu tuh suka musiknya yang rancak dan gak mikir artinya apa, insya Allah minggu depan Mer tak tunggu di masjid Kowloon ya, Super Cyber Center dekat dari sana…”
Dari jauh tampak hampir sama antara di Victoria park dengan pantai Tsim Sha Tsui. Di sepanjang bibir pantai banyak helper Indonesia berjualan di sana, berjualan masakan khas Indonesia juga tak lupa membawa tape yang dibunyikan keras lalu berjoged dangdutan bersama pacar-pacar mereka. Apalagi saat itu lagi marak goyang ngebor Inul, wah… di pasar tempatku belanja, kawasan Sheung Shui juga terdapat warung Indonesia yang menyediakan fasilitas karaoke, maka jangan bosan bila mendengar suara “Para penonton… bapak-bapak ibu-ibu semua yang ada di sini, lalu menjerit…, lagunya Inul booming di Hong Kong. Mungkin teman-temanku tidak bisa membayar tarif sewa tempat buat karaoke jadi karaoke secara terbuka seperti orkes-orkes yang biasa manggung di kampung-kampung. Beda dengan tempat liburan migran Filipina, yang rapi dan tidak asal berjoged, mungkin mereka tidak mengenal dangdut kali ye..
Sering aku ke Waihong sebelum memakai kerudung awal bekerja dulu, pada saat antri bayar ada saja yang menanyaiku
“Are you Philipin?’
Hm… kujawab dengan sejujurnya “No, I’m Indonesian.”
Selanjutnya setelah memakai kerudung sering ditanyai.
“Are you Iraki, Alaipak—orang Irak, Arab?
Tentu saja aku harus tetap menyebutkan identitas negaraku Ngo hai yannai yan. Apapun bentuk perilaku teman-temanku, mungkin itulah bentuk mereka beradaptasi sampai berasimilasi terhadap budaya setempat atau juga mereka membawa jatidiri masyarakat Indonesia yang berbeda jauh dengan karakteristik masyarakat urban, percaya diri, santun, well educated, elegant dan punya selera yang bagus. Bukan berarti aku mengutuk perbuatan teman-temanku termasuk antitesa dari masyarakat urban tapi semoga mereka tidak sering-sering diusir oleh bagian penertiban pemerintah Hong Kong. Gara-gara suka bernyanyi dan berjoget dangdut sebagai hiburan gratis bagi sesiapa saja yang menontonnya.
***