My Hong Kong Life, Diary TKW

KATA PENGANTAR PENULIS

Proyek ‘TKI’–Tenaga Kerja Intelektual

 

Malam akhir tahun 2011 membawaku pada perenungan panjang. Sudah beberapa kali aku diundang di acara talkshow baik Kick Andy, keliling Indonesia bersama She Can maupun talkshow di radio on air maupun off air untuk berbicara tentang sepenggal hidupku. Kisahku, dari seorang buruh migran atau lebih dikenal dengan sebutan tenaga kerja wanita–TKW, dan sekarang bisa eksis menjadi pembuat film dokumenter, serta mendapatkan penghargaan She Can Awards di tahun 2009. Dengan empat film pendek dokumenter karyaku itu membuat aku bisa keliling Asia dan Eropa untuk mempresentasikan filmku.

Di akhir tahun 2011 aku merasa begitu banyak penghargaan yang sudah aku dapat di bidang film, dunia yang jauh dari latar belakang pendidikanku, Psikologi. Dalam setahun belakang aku diberi kesempatan untuk menyutradarai dua film pendek dokumenter, salah satunya tayang di MetroTV, memenangkan juara pertama film terbaik di ajang festival film pemuda tingkat nasional yang diadakan Kemenpora, serta satu lagi memenangkan piala Citra sebagai film terbaik dokumenter 2011, sebuah kado terindah yang tak terjangkau oleh nalarku, mengingat genap sepuluh tahun lalu aku seorang TKW yang mempunyai proyek menjadi TKI–Tenaga Kerja Intelektual.

Ingatanku melayang, saat duduk di bangku SMA tahun 1997. Cara pandangku mengenai kehidupan berubah, awalnya terasa gelap dan tak tahu setelah lulus SMA harus berbuat apa, sedikit demi sedikit ada titik terang. Saat melihat kehidupan ekonomi keluarga sedang memburuk karena krisis moneter hingga merubah orang tua menjadi buruh tani dengan penghasilan yang super minim, menyebabkan aku tidak berani punya cita-cita. Yang aku ingat, aku ingin sekali membantu bekerja dan menghasilkan uang agar kehidupan kami lebih baik, hutang orang tua di bank bisa lunas.

Sampai suatu saat di SMA, ada pelajaran kosong, guru kami tidak masuk kelas dan kepala sekolahku menggantikan ngajar. Beliau memang tidak mengajarkan pelajaran selama aku bersekolah di SMA unggulan di Jombang Jawa Timur itu, tapi usaha beliau untuk memotivasi kami saat itu terekam jelas bahkan menjadi dasar di hidupku untuk berani bercita-cita.

Musim pendaftaran PMDK tahun 2000 dari kampus ternama di Indonesia telah terisi semua. Aku tidak berani ikut serta, karena tidak ada persiapan biaya bahkan hutang bank belum juga terlunasi. Aku mencoba ikut program beasiswa setahun pertama yang diadakan Diknas akan tetapi menurut penjaga bimbingan konseling yang saat itu aku temui menasehati ”Lebih baik kamu usaha daftar di STAN saja, kalau kamu lolos dapat beasiswa ini setelah setahun beasiswa habis kamu tidak ada biaya, ya nanti kamu sendiri yang kecewa kan? Biar lowongan beasiswa ini dipakai oleh teman-temanmu lainnya yang lebih siap dalam pendanaan.”

Akupun manyun keluar dari ruang BK–Bimbingan Konseling. Tapi aku akan terus berusaha, aku ingat cerita Pak Setyo Darmoko, kepala sekolahku.

“Adik-adik, kalian setelah ini akan meninggalkan SMA ini, Bapak harapkan kalian menjaga nama baik sekolah saat berada di kampus-kampus baru. Bagi yang diterima PMDK harus dimasuki jangan sampai tidak, karena akan merugikan adik-adik kelas kalian nanti. Jika kalian tidak memasukinya maka jatah PMDK akan diperkecil oleh kampus bersangkutan.

Bapak akan cerita sedikit tentang perjuangan Bapak saat seusia kalian. Bapak enam bersaudara dari keluarga yang sederhana, yang bisa kuliah hanya dua kakak teratas dan dua urutan dari bawah. Keluarga Bapak juga dari keluarga sederhana. Ayah Bapak mampu menguliahkan dua kakak teratas saja, karena saudara banyak akhirnya Bapak berusaha sambil kuliah Bapak nyambi kerja. Jangan pernah malu bekerja untuk mendapatkan ilmu.

Ingatlah bahwa hidup di dunia ini bagaikan roda berputar, tapi menurut Bapak teori tersebut tidaklah seratus persen benar. Saat kita berada di bawah, asalkan terus fokus dengan cita-cita kalian seperti yang Bapak lakukan, maka kalian akan berhasil meraih cita-cita kalian itu. Akan tetapi Bapak tidak percaya terhadap putaran roda dari atas ke bawah. Semisal kita sudah di atas hidup dengan nyaman, kalau kita tetap bekerja keras maka kalian akan tetap di atas dengan kenyamanan itu.”

Aku membayangkan diriku saat itu mungkin mengalami kesulitan ekonomi seperti yang diucapkan Pak Setyo akan tetapi saat itu beliau telah menjadi kepala sekolah dengan sedan Honda City yang diparkir depan kantor, ah… keren batinku.

Aku hanya diam mendengarkan. Kelas tiga bagiku waktu yang paling menegangkan. Setelah lulus aku tak lagi bisa bertemu dengan teman-temanku dan belajar bersama mereka. Kami akan berjuang mewujudkan cita-cita masing-masing.

Aku sering ditanyaain teman-temanku, mau melanjutkan kemana? Hm… butuh waktu untuk bernafas. “Aku ingin mengambil STAN” ah, itu yang kumaui, karena gratis dan setelah lulus langsung bisa kerja.

Alif yang berada tepat di belakangku telah diterima PMDK di Universitas Indonesia fakultas Studi Pembangunan, dia membaca tulisan cerpenku yang ternyata tidak bisa diikutsertakan lomba mengarang tingkat nasional karena diketik dengan mesin ketik manual, padahal melalui beberapa teman katanya tulisan kolaborasiku dengan teman sebangku, Sofie, dibilang lumayan asyik. Perbincangan pun mengalir.

“An… kamu mau jadi seperti Mira W ya?” tanya mantan ketua OSIS itu.

“Ha… ha… aku doakan kamu jadi menteri deh” jawabku nimpali tanpa mengamininya.

“Amien… Sofie mau ngambil apa?” lanjut Alif tanya ke teman sebangkuku

“Sofie mau daftar ke akademik kebidanan.”

Kalau aku list semua teman yang duduk di dekatku sudah punya ancang-ancang masuk kuliah jurusan yang keren-keren, ada kedokteran, keguruan, teknik dll. Tidak seperti aku yang cemas dengan ketiadaan biaya, tapi aku lihat teman sekolahku lebih cemas kalau  tidak bisa masuk ke perguruan tinggi negeri yang mereka inginkan. Selama kelas tiga ini kami diberi les tambahan sampai hampir jam lima sore, setelahnya teman-temanku masih ikut les di luar. Ah, seandainya aku punya fasilitas seperti yang mereka miliki mungkin aku bisa menjadi orang yang lebih dari saat ini.

Tapi kalaupun aku tidak punya apa-apa bahkan terpikirkan beban hutang orang tua yang menggunung dan bisa dibilang minus, tapi saat itu aku punya semangat yang besar. Dengan bekerja keras dan contoh nyatanya sudah di depan mata, Pak Setyo berpendidikan tinggi dan hidup dengan nyaman. Kalaulah masih muda dan badan ini masih kuat tak ada salahnya aku melakukan apa yang dikatakan oleh Pak Setyo. Roda berputar dari bawah ke atas kalau kita bekerja keras dan fokus mengusakannya.

Selamat membaca catatan sepenggal hidupku.

 

Ani Ema Susanti, S. Psi

Ibu dari Gaza Muhammad Alaric, ex-TKW dan sineas dokumenter

Leave A Comment