Arsip Masa Kecil Eps. 1: “Mengulang Daftar Belanjaan Ibu”

“Kina, tolong beli gula, ya.”

Kalimat itu hampir selalu terdengar menjelang sore.

Kalau Ibu sudah memanggil dari dapur, Kina tahu artinya ia akan mendapat tugas pergi ke warung. Rasanya senang juga, karena itu berarti ia dipercaya pergi sendiri. Apalagi kadang masih ada uang kembalian yang boleh dipakai membeli permen.

Sebelum berangkat, Ibu akan menyebutkan daftar belanja dengan cepat.

“Satu kilo gula, satu bungkus teh celup, kecap, sama garam.”

Kina mengangguk mantap.

“Sudah hafal?”

“Sudah!”

Padahal, baru beberapa langkah keluar rumah, ia mulai mengulangnya pelan-pelan.
“Satu kilo gula… satu bungkus teh celup… kecap… garam…”

Semakin dekat ke warung, suaranya justru semakin lirih.
“Satu kilo gula… satu bungkus teh celup… kecap… garam…”

Kalau ada teman yang mengajaknya bermain, Kina hanya melambaikan tangan. Kalau ada ayam menyeberang jalan atau sepeda lewat, mulutnya tetap komat-kamit. Jangan sampai ada satu barang yang tertinggal.

Akhirnya tibalah gilirannya.
“Mau beli apa, Kin?” tanya Bu Warung.

Kina membuka mulut.
“Eh… satu kilo gula…”

Lalu diam.

Daftar belanja yang tadi terasa sudah menempel di kepala, mendadak hilang entah ke mana.

Ia memejamkan mata sebentar.
“Satu kilo gula…”
“Oh iya! Satu bungkus teh celup… kecap… sama garam.”

Bu Warung tersenyum sambil mengambil barang satu per satu.

Sesampainya di rumah, Kina menyerahkan kantong belanja kepada Ibu.
Ibu memeriksa isinya.
“Gulanya ada.”
“Tehnya ada.”
“Kecapnya juga.”

Lalu Ibu bertanya,
“Garamnya mana?”

Kina langsung terdiam.
Di sepanjang perjalanan pulang, ia masih sibuk menghafal daftar belanja. Lucunya, justru barang terakhir itulah yang terlupa dibeli.

Ia berlari kembali ke warung.
Belum sempat bicara, Bu Warung sudah mengangkat satu bungkus garam.
“Tadi ketinggalan, ya?”

Kina mengangguk sambil tersenyum malu.
Sejak hari itu, kalau daftar belanja mulai terlalu panjang, Ibu tidak lagi menyuruh Kina menghafal.

Ibu mengambil secarik kertas bekas kalender, menuliskan semua yang harus dibeli, lalu menyelipkannya ke tangan Kina.
“Nah, sekarang tinggal lihat catatannya.”

Kina merasa tugasnya menjadi jauh lebih mudah. Namun diam-diam ia juga bangga. Rupanya, Ibu benar-benar percaya bahwa ia sudah cukup besar untuk pergi ke warung sendiri.

 

Ditulis oleh: Amalia Sekar Mahanani

Leave A Comment