Semenjak kecelakaan setahun yang lalu, kini kaki ku tak mampu menopang berat tubuh ku seperti semula. Aku menggunakan kursi roda setiap harinya. Kemana pun aku pergi aku selalu menggunakanya, bahkan teman-teman yang dulu ada didekat ku pun perlahan menghilang dari kehidupan ku. Entah, mungkin mereka malu jika mengakui aku sebagai temanya atau malah sahabatnya, padahal aku tak pernah memikirkan bagaimana bentuk fisik mereka disaat aku ingin berteman dengan mereka. Tapi mengapa mereka seperti itu ? tega sekali. Dan semenjak aku terbangun dari tidur ku dan mendengar berita bahwa aku dinyatakan lumpuh total pada bagian kedua kaki ku, mulai detik itu aku menghardik diriku sendiri, menyalahkan diriku sendiri, mengutuk diriku sendiri, seakan aku tak akan pernah menjadi sesuatu hal penting dalam kehidupan. Aku merasa marah dan kesal, bagaimana mungkin aku bisa menerima keadaan ku yang seperti ini kedepanya ?.
Aktivitas ku menjadi sangat terhambat, ingin mengambil apapun rasanya tangan ini tak sampai. Selalu saja merepotkan orang lain. Dey, yang selalu siap dan sigap jika aku memerlukan bantuanya. Dia adalah adik ku, perbedaan umur kita tidak terlalu jauh, hanya terpaut 2 tahun. Karena perbedaan yang tak terlalu jauh itu, kita sering kali dianggap sebagai anak kembar. Karena kebiasaan kita pun kurang-lebih sama. Hanya saja ada beberapa perbedaan diantara kita. Dey itu senang sekali membaca dan menulis bahkan merangkai cerita, sedangkan aku tak suka kegiataan itu dari dulu, rasanya mata sudah terasa sepat jika harus membaca buku apalagi jika sampai beratus-ratus halaman – tidak kebayang.
“ kak, mau pakai selai apa ? “ aku, Dey dan Mamah berada di meja makan pagi ini untuk sarapan. Pertanyaan dari dia membuyarkan lamunan ku.
“ hei, kamu kenapa sayang ? kok melamun “ tanya Mamah padaku.
“ gak Mah, hhmm… selai kacang aja Dey “ Dey pun menyegerakan untuk mengoleskan selai tersebut pada lembaran roti yang putih itu. Terlihat menggiyurkan, apalagi jika ditambah messes sedikit lalu dipangang rasanya lumeran messes itu terasa meleleh dalam mulut. Tapi untuk pagi ini aku tidak mau seperti itu, karena rasanya jika terlalu manis itu akan merasa mual nantinya.
Jujur saja, jika melihat Dey beraktivitas seperti biasa itu membuat ku menjadi iri. Apalagi jika teman-temanya datang kerumah untuk sekadar bermain ataupun mengerjakan tugas kelompok, rasanya aku merindukan teman-teman ku yang dulu. Saling melempar candaan serta ledekan yang terkadang membuat jengkel. Tapi apakah pantas jika mereka masih aku anggap sebagi teman ? rasanya tidak. Aku pun baru tersadar kalau selama ini mereka memanfaatkan ku dari segi ekonomi. Aku tidak menuduhnya, tapi semua itu terjadi apa adanya. Mungkin saja pada saat itu aku tidak merasa aneh atau bahkan terganggu sedikit pun, karena bukankah yang namanya teman itu memang harus saling membantu ya ? pikir ku saat itu. Tapi setelah melihat kondisi ku yang seperti ini mereka malah menghilang bagai ditelan bumi.
“ kak, ke mall yuk, kita jalan-jalan… aku yang traktir deh, gimana ? “ Tiba-tiba saja Dey menawarkan hal seperti itu padaku. Memang semenjak kondisi ku seperti ini aku jadi jarang atau bahkan sama sekali tidak pernah menginjakan kaki ke mall. Padahal dulu sering sekali aku kesana dengan para mantan teman-teman ku. Membeli berbagai macam keperluan atau hanya sekadar untuk mementingkan trend dan penampilan saja.
“ gak ah, ngapain ke mall, buang-buang waktu aja “ aku pun menolaknya dengan tegas.
“ ih kakak… aku tuh mau beli alat tulis, alat tulis ku udah mau abis semua, ppliisss… anterin ya ? “ dia pun memohon seraya menarik-narik tangan kanan ku.
“ udah si kak, anterin adik mu beli alat tulis, kan buat dia kuliah juga “ Mamah makin menyudutkan ku. Rasa-rasanya tidak mungkin aku berkata tidak padanya. Karena kalau Dey sudah memohon seperti ini dan keinginanya tidak dituruti yang ada malah dia menjadi marah padaku.
“ yaudah iya, tapi sebentar aja ya “ aku pun mengiyakan ajakanya itu.
“ janji “ Jari kelingkingnya itu berdiri tegap. Tidak seperti kaki ku yang tak ada gunanya ini. Lagi-lagi aku mengutuk diriku sendiri. Sial.
*****
Dey dan Mamah mempersiapkan mobil dengan segera. Aku terduduk diam, termangu melihat kesibukan mereka berdua, tanpa Papah. Ya, Papah ku sudah meninggal 5 tahun yang lalu. Papah meninggal karena penyakit yang dideritanya, semenjak itu kami hanya hidup bertiga. Mamah menjadi tulang punggung dari aku dan Dey. Mamah selalu mencari berbagai macam cara supaya aku dan Dey bisa bersekolah tinggi sesuai dengan keinginanya. Yang terpenting adalah aku dan Dey berbahagia selalu. Mamah pun tak pernah melarang tindakan aku dan Dey, asalkan masih dalam batas wajar dibiarkan begitu saja olehnya.
Kursi roda ku dibopong oleh mereka berdua. Saling membantu memasukanya kedalam bagasi belakang mobil. Sekuat tenaga sekali itu yang kulihat diantara mereka. Lalu sesudahnya saling melempar tawa bersama. Seakan kejadian tadi terkesan lucu karena saling tak kuat untuk mengangkat besi yang beroda tersebut. Aku pun tersenyum simpul melihat kejadian tersebut.
” ayo kak ” ia datang menghampiri ku dan membopong ku secara perlahan. Mamah bersedia menjaga ambang pintu mobil dan membantu juga, supaya aku dapat duduk dengan nyaman. Setelah aku masuk dan terduduk dikursi samping supir, pintu pun ditutup dan Dey pun segera pindah posisi untuk ke kursi kemudi. Kaca sebelah ku pun sengaja dibuka secara otomatis olehnya.
” Mah, kita jalan ya ” pamit ku dan Dey pun melambaikan tangan.
” iya, hati-hati ya sayang ” senyum itu terlempar jelas dari bibirnya.
” bye Mah…. ” Perlahan pun pedal gas mulai diinjak olehnya, dan perlahan juga mobil yang aku tumpangi melaju keluar dari gerbang rumah ku yang berwarna cokelat tersebut. Rumah yang tak begitu besar tapi cukup untuk tempat tinggal kami. Ini adalah peninggalan Papah.
*****
Nafas demi nafas ku hembuskan. Ada rasa takut untuk kembali kesini. Aku takut ketemu beberapa mantan teman ku yang dahulu. Aku takut dipermalukan didepan umum oleh mereka. Karena ini adalah mall yang biasa aku datangi dulu dengan mereka. Maka dari itu ada kemungkinan juga jika sekarang bahkan hari ini mereka bisa saja juga sedang berada ditempat ini. Dan jika memang benar, aku berharap tidak bertemu, semoga.
Dey pun mendorong ku ketoko buku ternama yang ada di mall ini, dan langsung mendatangi rak-rak alat tulis. Selagi dia sibuk mencari apa-apa saja yang ia butuhkan. Aku pun berjalan memutar roda dengan sendirinya untuk mengarah ke rak buku-buku komik. Satu persatu ku lihat buku tersebut. Mata ku tertuju pada pada komik Naruto yang ada disana. Dan sebenarnya aku suka menonton animenya. Tapi tak selalu, hanya sesekali dan aku pun tak begitu hafal dengan setiap episode nya. Tak ku sangka ternyata sekarang Naruto sudah ada generasi penerusnya, yaitu Boruto dan ya tak lain dan tak bukan dia itu anak dari Naruto sendiri. Rasa-rasanya belum juga aku beres menonton anime itu sampai tamat, tau-tau sudah ada komik Boruto saja, astaga.
Lembar demi lembar ku baca komik Boruto tersebut yang sudah terbuka segelnya. Oh ternyata Boruto ini anak dari Naruto dan Hinata. Sungguh tak ku sangka. Yang aku tau Naruto itu hanya suka pada Sakura saja, lantas bagaiman bisa ia menikah dengan Hinata ?. Ah namanya juga komik, sudah pasti segala hal dipikirkan secara matang dan tertata oleh si penulisnya, dengan harapan supaya alur ceritanya tidak diketahui dengan mudah oleh si pembaca. Agar si pembaca tidak merasa bosan membacanya dan merasa terus semakin terus penasaran dengan isinya. Lantas Sakura menikah dengan siapa ? apakah Sasuke ?. Entahlah.
Disebrang sana aku melihat seorang anak laki-laki sekitar umur 11 tahun sedang melihat-lihat buku mewarnai beserta crayon warna-warninya. Terlihat bingung, namun tak ada satu orang karyawan pun yang datang untuk menolongnya. Pakaianya terkesan biasa saja sebenarnya, tidak mewah sekalipun malahan terkesan kumal, dengan celana panjang dan baju kaos yang seadanya. Dan dia hanya memakai sendal jepit kesini. Aku mencoba untuk menghampirinya perlahan.
” dek, mau beli apa ? ” tanya ku dengan senyum.
” hhmm.. gak beli apa-apa kok kak, cuma liat-liat aja ” ia menjawab sambil meletakan kembali buku gambar yang ia lihat tadi. Nada itu terdengar sangat berbohong. Nada yang tertekan di tenggorokanya itu seperti mengisyaratkan sesuatu.
” kamu mau beli ini ? ” aku pun mengambil kembali buku gambar yang sempat ia lihat tadi,
” gak kak, lagi pula uang saya gak cukup buat beli itu, jadi gajadi beli deh hehe ” tawa kecil itu terdengar sedih sekali.
” gapapa, kalau kamu mau ini ambil aja, ambil yang lain juga sama crayonya jangan lupa nanti biar kakak yang bayar ya ? ” aku memaksa dirinya untuk menerima tawaran itu.
” gak, gak usah kak, terimakasih ” ia pun buru-buru pergi meninggalkan tempat ini. Rasa-rasanya ada rasa takut pula didalam hatinya itu. Mengira aku ingin menculiknya mungkin. Padahal aku hanya ingin berbagi denganya. Lagi pula bagaimana bisa aku menculik dirinya dengan keadaan ku yang seperti ini ?. Ada-ada saja, tapi tak apa kalau nanti ini adalah rejekinya dia juga bakalan balik lagi ke dia.
” loh kok kakak disini, tadi aku cari-cariin kirain kakak kemana ? yaudah yuk, aku udah beres kak, udah ketemu semua yang aku butuhin ” Dey pun menghampiri ku dan langsung mendorong ku untuk ke kasir dan membayar semua tagihan atas apa yang ia beli itu.
Tak terasa mengelilingi mall tersebut pun sudah memakan waktu 3 jam. Aku dan Dey setelah dari toko buku langsung mampir ke toko baju yang sepertinya sedang mengadakan diskon besar-besaran didalam sana. Siapa si yang tidak tergoda dengan potongan harga ?. Bahkan orang terkaya di dunia pun jika melihat suatu barang sedang dalam potongan harga sepertinya akan segera tergiur pula. Apalagi aku dan Dey, yang sering sekali mencari barang diskonan.
Sekarang perjalan pulang menuju kerumah. Tak jauh dari keluar mall kami terpaksa berhenti karena lampu merah didepan sana menyala, menandakan harus segera berhenti. Ramai terasa bising, aku seperti baru keluar dari zona nyaman ku yang selama ini sunyi dan dirumah saja. Ternyata keadaan dunia tak berubah setelah ku keluar dari goa tersebut, masih saja terlalu bising. Aku kira saat aku kembali keluar dari goa tersebut keadaan dunia akan berubah, ternyata tidak.
Dari kejauhan sana aku melihat kembali anak laki-laki yang tadi aku temui di toko buku tersebut. Dia menyebrang jalan dengan sangat hati-hati, lalu berhenti pada satu kios koran disana. Sepertinya dia sedang mencari sesuatu, apa mungkin dia mencari buku gambar bekas ? yang jika dipikir-pikir harganya akan jauh lebih murah pastinya. Namun setelah pemilik tokonya itu kembali ke dia dan membicarakan sesuatu, jelas sekali wajah kecewa tersebut terlukis jelas disana. Ada rasa kesal, kecewa dan lelah sepertinya. Sebenarnya apa yang dia cari.
” Dey, boleh minta tolong ikutin anak itu gak ? yang disana itu ” aku pun meminta tolong padanya untuk mengikuti anak tersebut secara diam-diam.
” oke kak, sebentar ya ” Lampu hijau pun telah menyala didepan kita. Seperti tepat sekali waktunya. Seperti adegan di film-film saja.
Aku terus mengikutinya secara perlahan. Langkah kakinya yang kecil itu menuntunya masuk kedalam gang buntu diantara kedua belah gedung yang bersampingan. sial masuk gang lagi keluh ku. Bagaimana bisa aku mengikutinya sampai dalam sana ?
” boleh kakak minta tolong turunin kursi rodanya ? kakak mau liat anak itu Dey ” aku pun meminta pertolongan pada Dey. Maaf yak aku sudah selalu merepotkan mu aku menatap kosong kearahnya, dan seraya memohon maaf sekali padanya.
Setelah aku duduk di kursi roda, aku pun memintanya untuk mendorong ku kedalam gang sana. Perlahan namun pasti. Gang buntu yang teramat tak terawat, terlihat kotor dan bau. Lalu dengan sontaknya aku terkejut disana ada sebuah gubuk yang sangat terlihat tak layak sebenarnya. Apakah mungkin anak tersebut tinggal disini ? rasanya tak mungkin. Aku pun perlahan mengetuk pintu tersebut. Tak lama terbuka.
” kakak cari siapa ? ” anak laki-laki tersebut yang membukanya. Di dalam sana terlihat sekali ada seorang anak perempuan yang kirak-kira berkisar umur 9 tahun. Rambutnya terlihat kusut dan kulitnya pun juga terlihat sangat kumal. Ia terlihat seperti sedang mencorat-coret gambar dia atas kertas yang sudah robek.
” siapa bang ? ” tanyanya yang masih terduduk disana.
” kamu gak inget kakak ? tadi kita kan ketemu di toko buku, boleh kakak masuk ? ” tawar ku kepada dirinya. Tanpa jawab ia pun membukakan pintu selebar-lebarnya, yang bertanda aku di perbolehkan masuk.
” kamu gambar apa ? ” Tanya Dey pada anak perempuan tersebut.
” aku gambar Elsa kak, aku suka banget sama Elsa, dia cantik kak ” ia menjawab dengan sangat polosnya dan dengan segala imajinasinya itu.
” tapi gambar aku gak bagus, aku minta sama abang buat beliin aku buku gambar yang udah ada gambarnya itu, jadi aku tinggal warnain aja, aku juga minta beliin crayon sama abang, tapi gak dibeliin katanya si uangnya gak cukup ” uraikan kata itu terdengar sangat kecewa. Pasti ada rasa sedih didalamnya, tapi mengingat kondisi mereka yang seperti ini, jadi mau gamau dia harus bisa memakluminya.
” oh gitu… nanti kita beli ya dek ” jawab ku dengan seraya membelai rambut kusutnya itu. Lalu aku menatap kearah anak laki-laki itu yang dianggap Abang olehnya. Jelas terlihat sekali binar matanya itu ada rasa penyesalan karena tak bisa membelikan sesuatu hal yang diinginkan oleh adiknya itu. Keinginanya untuk melihat senyum gembira terlukis dimulut adiknya tak ia dapatkan, yang ia dapatkan saat ini adalah adiknya mencibirnya dengan habis-habisan.
” beneran kak ? hhooree… jadi nanti aku bisa warnain yang bagus deh Elsanya sama princess yang lainya juga, iya kan bang ? ” anak perempuan itu menaruh sebuah pendapat pada abangnya. Namun abang nya hanya tesenyum sengit dan mengiyakan saja apa yang adiknya katakan.
Ternyata di tengah kota yang sibuk ini masih ada saja, seorang manusia yang seperti ini. Harusnya aku bisa lebih bersyukur bukan ?. Ya walaupun keadaan fisik ku yang seperti ini, setidaknya aku masih mempunyai orang tua meskipun tinggal hanya seorang saja. Tapi aku bangga kepada Mamah, beliau selalu ingin berusaha keras demi aku dan Dey. Tidak seperti kedua adik-kakak ini.
Usai aku membawa mereka berdua kembali ke toko buku tersebut dan membiarkan mereka untuk memilih buku yang disukainya, aku pun membawa mereka untuk mampir sebentar ke toko baju dan ke restoran untuk mengisi perutnya.
” gimana Cia seneng ? ” tanya ku kepadanya. Terlihat jelas sekali, ia melahap makanan tersebut dengan amat lahap tanpa ragu. Sepertinya makanan ini asing untuk dia, namun syukurlah jika dia menyukainya.
” seneng kak, makasih ya ” Terus melahap dengan cepat. Belum juga makanan yang didalam mulutnya itu tertelan, namun langsung saja ia tiban dengan sesuap nasi yang baru lagi. Aku senang melihatnya. Sedangkan Ridho abangnya malah terlihat malu-malu untuk memakanya. Sangat lamban.
” gausah malu, makan aja yang lahap, biar kalian kenyang. Nanti kakak bungkusin juga ya buat makan kalian dirumah ”
” nngg.. nggak usah kak, ini udah cukup kok. Lagi pula kakaknya udah baik banget, udah beliin kita baju dan buku juga, ditambah lagi makan-makanan seenak ini, pasti harganya mahal ”
” nngak kok, udah makan yang lahap ya ? ” aku mengelus rambutnya itu.
Pikiran ku melayang entah kemana. Masih sangat terheran-heran, bagaimana bisa mereka berdua ada di kota sebesar ini tanpa orang tua. Orang tua mana yang dengan sangat tega sekali membuang anaknya ke pinggir jalan tanpa ada alasan tertentu. Mereka hanya tinggal beruda disana, sebuah bangunan yang tak layak disebut sebagai rumah, lebih layak disebut gubuk sebenarnya.
Ridho mengitari setiap tempat sampah yang berada dipinggir jalan, hanya untuk mencari botol plastik bekas, kardus atau bahkan besi. Apa saja yang penting bisa dijual kembali ke pengepul, untuk mendapatkan uang. Tak seberapa sebenarnya, tapi menurutnya tak penting ia mendapatkan uang untuk membeli nasi dan lauk dengan cukup untuk mengisi perutnya dan adiknya itu. Tak sering juga terkadang ia melihat sisa-sisa makanan yang terkadang terlihat seperti masih utuh dan ia bawa pulang untuk dimakan bersama adiknya.
Ia sebenarnya tak butuh belas kasihan dari orang asing. Cita-citanya ingin bekerja didalam kantor-kantor besar, katanya. Mungkin yang dimaksudnya itu adalah ia ingin menjadi pemilik utama di salah satu kantor yang ada di kota ini.
” biar saya bisa membantu sama lain kak, jadi kalau ada orang yang butuh kerjaan saya akan ajak mereka untuk bekerja sama saya ” Kata-katanya barusan itu terdengar sangat tegas dan yakin. Binar matanya pun kembali muncul, tatkala ia berkata. Ada semangat yang tak pernah patah didalam dirinya itu. Walaupun hanya lulusan SD, ia tak pernah merasa patah semangat dengan cita-citanya itu. Karena bagi dia, sebuah keajaiban dari Tuhan itu pasti ada.
-Ambar, BBBF.