Tips Melahirkan Secara Alama (Kisah Bunda Tanti).
0.49 – (Proses Persalinan Dirumah Sakit, Anak Pertama).
N : Saya menjadi pola pikir terhadap sebuah kehamilan dan persalinan itu jadi beda, sejak saya tau Home Birth. Ternyata kehamilan persalinan itu bukan suatu tindakan medis yang harus diperlakukan seperti orang sakit.
N : Anak pertama karena masih tinggal sama orang tua, waktu kami, saya dan suami mau mengutarakan ingin melahirkan persalinan dirumah itu, sudah menyiapkan ini-itu semua orang tua tidak menyetujui. Karena mungkin ini kelahiran pertama dan anak pertama mereka takut, takut terjadi apa-apa. Jadi mereka meminta saya, saya melahirkan itu di bidan. Saya pendam keinginan untuk bisa melahirkan dirumah, yaudah saya hanya pergi ke bidan aja. Kenapa di bidan dan rumah sakit, karena saya kan kerja di rumah sakit, pasti dapat fasilitas atau mungkin keringanan biaya gitu. Nah justru karena saya dulu kerja dirumah sakit itu saya tau, saya perhatikan dokter obgyn disana.
Banyak juga teman-teman sesama karyawan atau pasien yang lain itu, kaya tentunya lewat HPL sudah ditawari induksi, induksi gagal kemudian akhirnya ujung-ujungnya sesar. Nah itu yang membuat saya akhirnya takut sendiri gitu, jangan sampai saya seperti itu, kok di dokter kok akhirnya ujung-ujungnya gitu ya, gitu. Kok melahirkan, disamakan seperti orang sakit, di infus tidak boleh gerak dan sebagainya.
Setelah diperiksa sama bidan ternayata sudah pembukaan 9 hampir lengkap gitu, nah akhirnya walaupun tidak mendapatkan iduksi cuma mendapatkan aba-aba “ayo terus, terus, terus” seperti orang apa, mobil parkir. Ketuban, kepala sudah hampir keluar di dorong sama asistenya, iya sempat didorong. Terus kemudian, itu juga ditawarin ini, di ini “mba di epis ya biar cepat” saya waktu itu gak tau kalau akibat dari epis tuh kedepanya, manggut (meng-iyakan) aja yang penting bayi saya bisa cepat keluar, selamat gitu aja pikir saya waktu itu tuh. Terus akhirnya selain dapat epis terus juga robek sendiri dan lumayan banyak, itu juga yang membuat trauma. Nah kan begitu bayi keluar langsung dipotong tali pusarnya kemudian langsung dibawa.
Kecewa, sedih makanya sempat juga mungkin mengalami baby blues ya. Anak juga terus akhirnya rewel, ASI nya gak langsung keluar. Soalnya merasanya seperti ini, saya sudah tau tapi kok saya gak mendapatkan kesempatan mengalami persalinan yang saya impikan itu. Ya, karena menuruti orang tua ya mungkin karena ridho orang tua juga kan penting gitu, lebih gitu.
04.13 – 6.58 (Natural Birht, Gentle Birth dan Islam Birht).
Nah akhirnya berkesempatan untuk persalinan sendiri, waktu kakak usia 15 bulan 16 bulan, saya hamil lagi. Itu saya bertekat kayanya kalau pengalamanya saman saja kaya kemarin, bakal isa-sia deh, apa ilmu yang saya dapat kemarin-kemarin. Akhirnya dari awal hamil itu saya memberikan pengertian ke orang tua, ke mertua bahwa sebenarnya persalinan dirumah itu aman kok, yang penting saya dan bayi sama-sama sehat gak ada indikasi media yang membutuhkan saya harus kerumah sakit, gitu. Terus akhirnya, ya itu saya banyak cerita, keluhanya langsung ke orang tua, ke mertua terus akhirnya luluh mengiyakan.
Nah awal saya ketemu dengan mba Wina, bidan yang menolong dipersalinan kedua ini, itu oleh mba Rista teman saya di Facebook. Dia lebih dulu bahkan sudah 2 kali natural birth, melahirkan dirumah. Nah waktu itu saya di ini, di inbox di Facebook “mba mau gak ini saya kenalin ?” gitu, yaudah singkat cerita akhirnya saya bisa ketemuan sama mba Wina. Disitu saya tidak hanya mengenal natural birth, gentle birth gitu, tapi dia juga membuka wawasan saya untuk tau bahwa selain itu ada, karena saya islam muslim, islam birth. Jadi kita tidak hanya mengandalkan tubuh bayi janin gitu dan alam semesta gak, yang pertama adalah pertolongan Allah, jadi kita tidak mungkin bisa dimudahkan itu kalau tanpa bantuan dari Allah, gitu. Nah mba Wina juga cerita tentang persalinan Maryam seperti apa. Nah itu kan membuka wawasan saya “lah iya ya, saya kok terlalu fokus ke gentlr birth nya, terlalu fokus pada tubuh saya, janin saya gitu, tapi kok saya lupa saya apa bahwa semuanya tuh kalau gak karena kehendak Allah gak akan terjadi” gitu. Akhirnya saya berusaha untuk lebih mendekatkan diri lagi, selain pola hidup sehat, makan-makanan sehat. Dan ternyata kurma juga sangat bagus saat kehamilan, sangat membantu juga saat proses persalinan. Untuk mem… apa kan untuk produksi oksitosin jadi biar pembukaan cepat gitu.
6.59 – 8.16 (Pemeriksaan Kandungan).
Hari tu sudah lewat HPL saya kedokter untuk kontrol. Setelah di USG janin, palsenta, ketuban semua katanya bagus, cuma yang saya kaget dokter langsung menawarkan untuk ngamar. Saya tanya alasanya “kenapa dok ? karena kan katanya semuanya kan sehat” katanya “ya karena sudah lewat HPL, jadi harus segera dikeluarkan” saya waktu itu nawar ” kan semuanya masih baik-baik saja dok, saya minta waktu paling gak 3 hari lagi ” ” yaudah gapapa nanti kontol lagi “, tapi saya gak kontrol. Karena takut nanti ujung-ujungnya induksi kemudia sesar aaadduuhh… saya gak mau. Saya yakin bayi saya masih sehat-sehat dan baik-baik saja, karena gerakanya juga masih aktif. Udah liat di USG juga katanya semua bagus, gak ada pengapuran, gak ada, ketubanya juga masih bagus. Saya cuma berkomitmen bahwa bayi itu cuma waktunya sendiri gitu. Allah juga sudah menyajikan tanggal itu lahir, bayi itu lahir, termasuk nanti jodoh, rezekinya sudah diatur semua saya yakinya itu aja.
8.17
N : HPL plus 9 waktu itu selasa malam, selasa pagi itu sudah mulai kerasa kontraksi. Ya tetap beraktivitas seperti biasa, kemudian pun sudah gitu makan kurmanya juga sampai banyak sampai sering, waktu itu juga suami ngebilangin kiwi, buah kiwi gitu saya makan. Seperti kiwi, pepaya mengkal itu kan untuk induksi alami. Makin sore kok makin sering, yaudah saya bawa jalan-jalan begitu. Terus katanya mba Wina “iya nanti malam saya kesana” begitu. Jam 23.00 malam mba Wina kesini, saya di cek ternyata sudah pembukaan 2 ada lendir darah juga. Yaudah saya minta ke mba Wina untuk “mba nginep saja disini, kok firasat saya sebentar lagi, paling subuh ini lahirnya” saya gitu, terus mba Wina mau nginep. Saya disuruh makan terus disuruh istirahat tunggu pembukaan lagi. Nah selama malam itu tidur sudah gak bisa tidur, tiap datang kontraksi saya pelukan suami terus, ditenangkan di elus-elus sini bagian punggung, kemudian ayo berdo’a bareng gitu. Kalau sudah hilang, capek, istirahat gitu terus sampai jam, kurang-lebih jam 04.00 subuh hampir subuh. Itu kok malah sering sakitnya terus kemudia seperti ingin mengejang “aduh gak kuat nih kayanya tambah sakit” “yaudah bangunin aja mba Wina nya”, yaudah saya minta tolong suami untuk siapin kolamnya, kebetulan saya pilihnya water birth. Saya bangunkan mba Wina, pas di cek lagi Alhamdulillah sudah pembukaan 5. Terus saya pilih di masssage, di massage juga dan itu lebih-lebih lama. Kemudian karena kolamnya sudap siap dan airnya juga sudah hangat, saya masuk peess… langsung nyaman sekali. Ternyata benar kata orang-orang yang sudah pengalaman water birth, setelah masuk kolam benar-benar nyaman, sakitnya bisa dikurangi karena memang benaran masih sakit cuma agak lebih berkurang lah. Kemudian saya minta sama mba Wina untuk di USG lagi, ternyata sudah pembukaan 8. 1 jam kemudian bayi saya lahir, kemudian kaya berubah posisi waktu itu karena saya nyamanya tuh berlutut kemudian tanganya bersandar pada dinding kolam. Jadi begitu bayi keluar saya langsung ubah posisi duduk dan kemudian bayinya saya ambil. Bayinya normal langsung nangis, tenang sekali, langsung pokonya langsung diberi kesempatan untuk gendong, melihat.
1 jam kemudian setelah bayi lahir semuanya baru keluar, semuanya alami gak ada intensi apapun gak disuntik obat, gak dikasih apa-apa, benar-benar mengandalkan insting saya kemampuan saya gitu. Bahkan saat masuk kolam pun saya tanya-tanya mba Wina “sudah boleh masuk mba ?” “terserah mba Tanti” begitu. Selain water birth, saya juga memilih untuk metode Lotus Birth pada plasenta. Jadi begitu plasenta lahir tidak langsung dibakar, biarkan saja gitu karena saya yakin manfaat dari sisa-sisa darah yang disitu bisa ada manfaatnya untuk bayi.
Untungnya efeknya ke saya, karena secara psikologis langsung ya, langsung ketemu IMD, untuk mengurusnya pun juga saya sendiri itu, jadi lebih senang. Dari pertama setelah melahirkan dan dari pertama pada bayi juga gak rewel, karena langsung IMD mungkin ya, jadi ASI nya langsung keluar gitu. Berbeda sekali dengan anak pertama.
Selama hamil saya juga me… istilahnya memberdayakan diri kita, jadi untuk mendapatkan persalinan yang indah itu sebenarnya tidak mudah, tidak dengan cara instan. Jadi kiita harus berusaha sendiri gitu, memberdayakan diri, itu dari makanan, dari pola hidup, pola hidup yang sehat, kemudian juga metode lainya juga mendekatkan diri kepada Allah, pasrah dan yakin atas pertolongan Allah. Jadi kita ingin melahirkan dengan siapa saja, dengan dokte, dengan bidan itu mereka hanya perpanjang tangan dari Allah.